Langsung ke konten utama

Umrah 2006 : Kali Pertama Ke Tanah Suci



Ini adalah cerita perjalanan saat saya pertama kali melakukan ibadah umroh ke tanah suci, tepatnya di tanggal 12 sd 22 April 2006.

Di tahun itu ada suatu peristiwa penting dalam hidup saya, peristiwa yang makin memperkuat hubungan antara seorang anak dan ibu kandungnya, kami saling menangis, tidak untuk menyesali namun untuk menguatkan saya sebagai anaknya.

Singkat kata, setelah dari peristiwa itu, saya berniat ingin lebih membahagiakan ibu saya, ingin menunjukkan budi bhakti saya kepada orang tua saya, terutama kepada ibu saya, ingin membalas segala kebaikan ibu saya yang sudah diberikan meskipun itu tidak akan bisa menebus semua apa yang sudah ibu saya berikan kepada saya hingga saat ini. 

Dan yang terpikirkan dalam benak saya adalah mengajak ibu saya ke tanah suci, terakhir kali ibu saya ke tanah suci itu saat menunaikan ibadah haji tahun 1979 bersama almarhun bapak saya, dan usia saya saat itu masih kecil. Kembali mengunjungi tanah suci adalah salah satu keinginan ibu saya dan saya berniat ingin mewujudkan keinginan beliau dengan mengajak beliau umroh. 

Dari situ saya mulai mencari informasi travel mana yang menyelenggarakan paket umrah dengan biaya yang terjangkau, dari beberapa tempat yang saya dapatkan, akhirnya saya menjatuhkan pilihan ke travel Al Azhar Arfina, yang ada di lingkungan Masjid Agung Al Azhar.

Kenapa saya memilih travel tersebut, karena mereka menawarkan pilihan paket umrah dengan dua pilihan, paket pertama dengan pesawat Garuda yang direct ke Jakarta – Jeddah, perjalanan lebih singkat, paket yang kedua adalah perjalanan dengan transit di Brunei tentunya akan menggunakan pesawat Royal Brunei dan sudah pasti perlu waktu sedikit lebih banyak, dan saya memutuskan untuk mengambil paket yang kedua karena kebetulan sekali fikir saya saat itu, sekali perjalanan bisa ke dua negara, saat itu belum ramai paket umrah plus ke negara2 semisal Turki atau Mesir seperti sekarang, kalau pun ada harganya pasti lebih mahal dan menurut saya paket yang Al Azhar tawarkan cukup reasonable harganya. Saat itu saya mengambil paket satu kamar dua orang dengan harga sekitar Rp 10 juta kurang lebih, kurs Rupiah terhadapt US Dollar masih dibawah Rp 10 ribu saat itu.

Sebelum berangkat tidak lupa pihak travel melakukan briefing kepada seluruh calon jamaah umroh terkait persiapan sebelum berangkat dan saat berada di tanah suci sekalian mengambil paket umrah yang disediakan oleh pihak travel seperti koper, kain ihram buat yang laki2 dan mukena buat perempuan, buku2 bacaan doa dan panduan saat melakukan ibadah umrah dan beberapa tools.

Singkat cerita, akhirnya saya dan ibu saya berangkat ke tanah suci, pertama kami berkumpul di Bandara Soetta sekalian pembagian paspor dan tiket, pesawat kami harus transit dulu di Bandara Udara International Brunei di Bandar Seri Begawan selama sekitar 3-4 jam sebelum melanjutkan terbang ke Bandara Udara International King Abdul Azis di Jeddah, namun sebelum tiba di Jeddah ternyata pesawat harus transit lagi di Sarjah International Airport Uni Emirat Arab sekitar 1-2 jam, total penerbangan saya dari Jakarta ke Madinah sekitar 14-16 jam termasuk transit. 



Tiba di Jeddah Airport, rupanya tidak segera langsung proses check in paspor, entah apakah sistemnya demikian atau bagaimana, semua penumpang yang berdatangan yang notabene calon jamaah umroh disuruh menunggu lama sekali sampai akhirnya baru diproses check in paspornya, yang saya ingat hari itu saya tiba di penginapan tengah malam dimana semua aktivitas shalat wajib sudah selesai, dan masjid ditutup sampai waktu shalat qiyamulail tiba, saat perjalanan menuju hotel, tour leader memberitahukan bahwa bangunan yang terang benderang itu adalah komplek Masjid Nabawi Madinah Al Munawwarah dan saya sangat takjub dengan keindahannya meskipun baru melihat dari kejauhan dan dari balik kaca bus.

Hari-hari berikutnya saya isi dengan kegiatan shalat berjamaah di Masjid Nabawi baik shalat wajib maupun shalat sunnah, bahkan waktu yang saya habiskan di Madinah lebih banyak di dalam Masjid daripada di hotel selain aktivitas tour yang diadakan oleh pihak travel.





Yang saya ingat saat di Madinah saya mengikuti tour wisata sejarah ke beberapa tempat seperti Masjid Quba, adalah masjid yang pertama kali di bangun oleh Rasulullah SAW, lalu diajak ke Masjid Qiblatain, dinamakan Qiblatain karena di Masjid inilah Rasulullah SAW mendapat wahyu agar memindahkan arah qiblat dari Masjidil Aqsha di Palestina ke Masjidil Haram di Kota Mekkah, oleh karena itu jika kita masuk ke dalam ruangan masjid, kita akan menemui dua arah qilblat, yang pertama arah Qiblat ke Masjid Al Aqsha yang sudah tidak boleh digunakan lagi dan yang satunya ke arah Masjidil Haram di Mekkah. 



Lalu saya juga diajak mengunjungi Jabal Uhud yang merupakan lokasi terjadinya perang Uhud antara pasukan Muslim yang dipimpin Rasulullah SAW melawan kaum kafir Quraisy dari Mekkah, dalam peristiwa tersebut paman Nabi yang bernama Hamzah gugur dalam perang, dan dimakamkan disana, sehingga jika kita ke Jabal Uhud kita juga akan berziarah ke Makam Hamzah. 






Dan tentunya ke Kebun Kurma yang menjadi favorit jamaah haji/umrah Indonesia, disana dijual aneka jenis qurma, mulai dari yang harganya murah sampai yang mahal, baik yang masih dalam bentuk buah maupun dalam bentuk olahan seperti permen atau coklat, saya kenyang sendiri dengan hanya mencicipi setiap jenis qurma dan olahannya yang disediakan secara gratis. 




Kebetulan sekali lokasi penginapan saya berada di seberang Masjid Nabawi, cukup berjalan kaki sebentar sudah sampai, dan di sebelahnya adalah kompleks Makam Baqi dimana dilokasi ini dimakamkan sahabat Nabi dan keluarganya seperti Usman bin Affan dan keluarga Nabi yaitu Aisyah, kompleks makam ini sangat luas dan hanya diperbolehkan laki-laki saja yang masuk berziarah. 


Selain tempat diatas, saya dan rombongan juga diajak ke tempat Percetakan Al Quran terbesar di dunia yang mencetak Al Quran dengan terjemahan dari berbagai bahasa yang ada di dunia, semua rombongan laki-laki diperkenankan masuk untuk melihat dari tempat yang ditentukan bagaimana proses pencetakan Al Quran dan sebagai oleh-oleh, setiap jamaah diberi satu mushaf Al Quran dengan terjemahan Bahasa Indonesia, Al Quran tersebut masih saya simpan dengan rapi. 


Selain lokasi tour yang saya sebutkan diatas, tentunya tujuan utama di Madinah adalah ibadah di Masjid Nabawi, masjid yang sangat luas, besar dan indah, dengan alas karpet dan permadani yang tebal dan halus, penataan lampu dan cahaya serta teknologi tata suara yang canggih sehingga menghasilkan suara muadzin dan imam yang jernih saat mengumandangkan adzan dan memimpin shalat, menjadikan Masjid Nabawi menjadi salah satu masjid terindah di dunia. 

Disalah satu bagian masjid terdapat Makam Rasulullah SAW dan Sahabat Abu Bakar As Shiddiq dan Umar bin Khattab, dimana lokasi makam juga terletak bersebelahan dengan Raudah, adalah sebuah tempat yang diyakini apabila kita beribadah dan berdoa ditempat tersebut segera dikabulkan oleh Allah SWT, Raudah juga disebut sebagai Taman Surga, lokasinya tidak terlalu luas, pembeda antara Raudah dan yang bukan, ditandai dengan warna karpet Raudah yang berwarna hijau mudah dan tiang-tiang berwarna putih dan khas. Makam Rasulullah dan sahabat serta Raudah ini dulunya adalah kediaman Siti Aisyah yang kemudian dengan proses renovasi seluruh bagian tersebut dijadikan menjadi satu bangunan masjid, setiap jamaah selesai shalat selalu berdesakan dijalur depan makam Nabi sambil mengucap shalawat kepada Nabi SAW dan para sahabat. 







Komplek Masjid Nabawi ini sangat luas sekali, bentuknya kotak, tinggi menjulang, di halaman berlantai granit yang tidak akan panas saat matahari bersinar jadi tidak khawatir kepanasan menginjak lantai saat siang hari, namun saat itu belum ada payung2 yang akan menutupi sinar matahari jika panas. 

Bagian dalamnya juga tidak kalah indah, dengan lantai granit, karpet merah yang tebal dan halus, ruangan AC yang menyala 24 jam, al quran yang tersusun rapi yang disediakan untuk dibaca serta ketersediaan air zam-zam yang melimpah mau yang dingin atau yang biasa saja, yang siapa saja bisa meninumnya dan bahkan suka saya bawa pulang ke hotel untuk minum di kamar, pokoknya kembung2 deh minum air zam-zam terus, tapi harus dikendalikan yah, karena kalo keseringan minum air bawaannya mau kencing melulu karena udara di dalam masjid juga dingin, kalo udah mau kencing udah ribet banget, karena harus keluar masjid dulu turun ke toilet ke basement dan kebayang deh masjid yang luas harus berjalan mondar mandir yang jaraknya bisa ratusan meter karena jauh dan luasnya Masjid Nabawi, belum lagi nanti kalau setelah berwudhu terus kita akan kembali ke tempat semua, akan susah lagi dapat posisi duduk yang enak karena jamaan penuh.

Terutama kalau kita hendak qiyamulail, udaranya kan disana dingin, terus masuk ke dalam masjid juga tambah dingin karena AC menyala terus menerus, kalau yang nggak kuat bisa kedinginan, flu, pilek, batuk2, meskipun duduk di karpet tebal dan empuk tapi tetap kurang nyaman juga kalo kedinganan, karena nggak bisa rebahan hehehehe, jadi mengakalinya sambil menunggu waktu shalat subuh tiba, palingan tadarusan atau merem2 sambil duduk gitu, sebab mau rebahan gak bisa, mau senderan di tiang juga gak nyaman, karena asal sumber AC itu dari tiang2 yang ada di dalam masjid, dimana kalau kita bersandar pada tiang2 tersebut kisi-kisi AC itu persis sejajar dengan badan kita keluar dari tiang2 tersebut.

Tapi kalau siang hari better banget ngadem di dalam masjid, bisa rebahan juga klo missal jamaah sedikit dan udaranya sejuk banget bikin ngantuk

Meskipun mesjidnya luas banget dan jamaah juga sangat banyak, tidak berarti jadi kotor, karena team kebersihan secara berkala akan datang membersihkan lantai dengan menggunakan mesin pembersih lantai dan mereka berkelompok secara cepat dan cekatan membersihkan ruangan masjid agar tetap harum dan nyaman, kita benar2 menjadi Tamu Allah di Rumah Allah.

Disaat waktu luang, saya suka jalan keliling sekitar masjid, kadang mengajak ibu saya sambil belanja oleh-oleh buat di rumah, atau nyobain makan di tempat makan diseputar masjid, meskipun dari pihak travel pun sudah menyediakan menu makanan dan minuman berlimpah setiap hari tapi kadang saya pengen coba mencicipi makanan yang biasa dijual di sana.

Setelah mencukupkan hari di Madinah, selanjutnya saya dan rombongan bersiap menuju Kota Mekkah sekaligus melaksanakan ibadah umrah disana.

Dari Madinah untuk bisa melaksanakan Umroh, kita harus ke tempat Miqat untuk mengambil niat umrah, miqat artinya batas dimulainya ibadah umrah, setiap jamaah yang hendak melakukan ibadah umrah yang masuk dari Kota Madinah harus miqat di Mesjid Bir Ali. 

Ditempat ini semua jamaah sudah berniat umrah sebelum masuk ke Mekkah, salahsatunya adalah mengganti semua pakaian dengan pakaian ihram, bagi laki2 hanya mengenakan dua lapis kain putih yang tanpa jahitan tanpa ada pakaian lain yang dikenakan termasuk pakaian dalam, sementara untuk perempuan mukena lengkap, setelah itu melakukan shalat niat ihram, setelah semua ketentuan dipenuhi, barulah jamaah boleh melaksanakan umrah, komplek masjid ini sangat luas, karena memang difungsikan sebagai gerbang masuk awal ke Kota Mekkah, jarak dari Bir Ali ke Kota Mekkah sekitar 11 KM. sementara jarak dari Kota Madinah ke Mekkah sekitar 445KM, dulu belum ada jalan tol, jadi jarak tempuh sekitar 7-8 jam menggunakan bus. Sepanjang jalan yang nampak hanya jalanan yang kering dan gersang, bukit-bukit yang semunya dari batu yang keras, tidak ada sebongkah tanah sedikitpun yang nampak, tapi jangan khawatir, Bus nya nyaman sekali.

Rasa hati ini seperti tidak karuan, deg2an karena sebentar lagi saya akan melihat langsung pusat qiblat umat Islam seluruh dunia, Ka’bah, dari dalam bus sudah nampak bangunan megah Masjidil Haram, hati ini tergetar saat pertama kali melihat bangunan tersebut, kagum, takjub dan terharu karena akhirnya bisa sampai disini, lalu kemudian saya dan rombongan diarahkan masuk melalui pintu jalur Sa’i, dan sudah terbayang sebelumnya begitu luas dan megahnya Masjidil Haram, sampai2 saya belum nampak sedikitpun bangunan Ka’bah. 

Sedikit demi sedikit, makin masuk ke dalam ruangan Masjid, sedikit demi sedikit nampaklah di depan mata, Ka’bah yang selama ini hanya dilihat dalam bentuk foto dan gambar, Allahu Akbar, tidak terasa harunya hati ini menatap lama ke arah Ka’bah, sambil terus berjalan mengikuti panduan rombongan saya terus menatap Ka’bah yang begitu megah berada di tengah lautan manusia yang sedang thawaf. 

Dan dimulailah rangkaian umrah dimulai dengan thawaf keliling Ka’bah sebanyak 7 putaran sambil membaca Doa’, start awal dimulai dari sudut yang bersisian dengan pintuk Ka’bah, ditandai dengan adanya warna lampu hijau sebagai penanda start dan batas satu putaran thawaf, dalam satu putaran Ka’bah kita akan melewati yang namanya Multazam dimana disanalah posisi Hajar Aswd, lalu melewati Rukun Yamani, Rukun Iraqi, , Maqam Nabi Ibrahim dan satu ruangan setengah lingkaran yang diyakini sebagai bagian dari bangunan Ka’bah, sehingga jika kita shalat di dalam lingkaran tersebut dianggap shalat di dalam Ka’bah.

Selesai thawaf kita diarahkan menuju posisi Multazam untuk berdoa sebanyak2nya apa saja yang kita mintakan, posisi multazam ini diyakini posisi dimana jika kita berdoa, doa kita akan lekas dikabulkan Allah SWT.

Selesai rangkaian Thawaf kita lanjutkan dengan Sa’i, yaitu berjalan atau berlari kecil antara Bukit Safa dan Bukit Marwah yang berjarak sekitar 400-500 meter, dan kita lakukan sebanyak 7 kali bolak balik dari Shafa ke Marwa, setelah selesai Sa’i, kita berdoa kemudian sebagai penutup rangkaian umrah kita melakukan tahallul, yaitu memotong beberapa helai rambut sebagai penanda berakhirnya larangan2 yang diberlakukan saat menggunakan ihram/umrah. 



Karena baru sampai Mekkah dan langsung melaksanakan umrah, saya dan rombongan diminta untuk kembali ke hotel untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan jauh dari Madinah ke Mekkah.

Pelaksanaan umrah dilakukan dalam dua kali kesempatan selama saya berada di Kota Mekkah.namun untuk pelaksanaan yang kedua karena sudah berada di Mekkah, rombongan tetap harus mengambil niat umrah dengan pergi ke Mesjid Aisyah yang ada di Tan’im, tidak lagi di Bir Ali.

Hari-hari lainnya saya banyak melakukan aktivitas yang tentu saja didominasi dengan kegiatan Ibadah di dalam Masjidil Haram, sama seperti saat melakukan ibadah di Masjid Nabawi. 




Selama di Kota Mekkah, pihak travel juga mengajak jamaah untuk berziarah ke tempat-tempat bersejarah seperti kita diajak ke Jabal Tsur, Jabal Tsur merupakan saksi kejadian hebat dimasa lalu, saat itu Nabi SAW dan Abu Bakar pernah bersembunyi di salah satu gua yang ada di Jabal Tsur saat dikejar kaum kafir yang hendak membunuhnya.

Lalu jamaah diajak ke kawasan Mina tempat dimana saat jamaah haji melakukan ibadah melontar sebagai bagian dari rangkaian ibadah haji, ibadah ini hanya dilakukan saat jamaah melakukan ibadah haji, tapi tidak dilakukan saat umrah seperti sekarang, karena memang waktunya sudah ditentukan.

Di tempat ini juga kita diperlihatkan lokasi tempat melontar, yaitu Jamarat, jamaah hanya bisa melihat dari kejauhan saja dan saat di Kawasan Mina juga kami hanya melihat dari atas kendaraan, karena Kawasan Mina tertutup kecuali saat pelaksanaan haji. 



Lalu kita juga ziarah ke Jabal Ramah atau Jabal Arafah, dinamakan demikian karena di sinilah moment wukuf, puncak ibadah haji dilakukan di Arafah, Jabal Rahmah juga merupakan tempat pertemuan Nabi Adam dan Siti Hawa saat mereka diciptakan dan turun ke bumi, di sinilah awal mula sejarah peradaban manusia. 





Dan pada akhirnya saya mempunyai kesempatan untuk menyentuh Ka’bah, saya sentuh kiswah Ka’bah yang begitu harum wanginya, saya ciumi terus karena begitu harumnya, kiswah adalah kain penutup bangunan Ka’bah yang berwarna hitam yang terdapat kaligrafi disekeliling bangunan, kiswah juga tidak berwarna hitam polos tetapi detailnya dia bermotif.

Alhamdulillah saya mendapat moment mencium Hajar Aswad yang begitu sulitnya untuk bisa menciumnya, jangankan menciumnya, berdekatan dengan Hajar Aswad saja susahnya minta ampun, karena setiap jamaah pasti ingin sekali menciumnya, bisa dibayangkan betapa ruwetnya disekitar Hajar Aswad, berdesakan, sikut-sikutan, aneka bentuk tubuh manusia dari berbagai bangsa, bahkan ketika sudah hampir mencium hajar aswad pun bisa mungkin akan tergeser oleh desakan tangan-tangan yang berebutan untuk mencium hajar aswad, lokasi Hajar Aswad itu berada di sudut sebelah pintu Ka’bah, tempat dimulainya thawaf.

Setelah semua rangkaian umrah dan perjalana wisata rohani selesai dilakukan di Kota Madinah dan Mekkah, akhirnya saya dan rombongan kembali pulang ke Jakarta melalui Bandara King Abdul Aziz Jeddah, namun sebelum itu saya dan rombongan diajak mampir ke Mesjid Terapung yang berada di tepi Laut Merah, jaman itu masjid itu sangat terkenal karena keunikannya, namun saat ini sudah banyak sekali model masjid terapung yang kita temui.

Tidak lupa juga saya mampir berbelanja parfum di pertokoan di Jeddah yang memang menjadi tempat favorite jamaah haji dan umroh Indonesia berbelanja oleh-oleh.

sebelum tiba di tanah air, rombongan transit selama beberapa jam di Brunei dan kami sempatkan keliling kota Bandar Seri Begawan, namun sayangnya saat itu sempat hujan deras sehingga kami tidak bisa berlama-lama di luar ruangan, hanya sempat ke Museum Nasional Brunei dan Mesjid Sultan Brunei. 


Alhamdulillah perjalanan saya ibadah umrah di tanah suci berakhir, keinginan mengajak ibu saya kembali ke tanah suci terlaksana.


Komentar

  1. Masyaa Allah...terharuuu akutuuu saat baca paragraf2 di bag awal. Btw aku suka baper klo baca tulisan or lihat org2 yg pergi beribadah ke tanah suci(apalagi klo pas haji). Ya Allah..,pingin ke sana lagi 🤲🏻😭

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Cerita tentang berlari, dari dulu sebenarnya saya suka berlari meski hanya sebatas jarak-jarak pendek, dan seringnya tidak secara rutin saya lakukan, saat penugasan di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara, banyak sekali waktu yang saya miliki untuk beraktivitas, saya fikir kenapa tidak saya isi dengan kegiatan berlari, kota yang sepi, cuaca juga lumayan bersih, sebenarnya bersih, tetapi rupanya di Pulau Halmahera terdapat Gunung Dukono yang aktif yang sering mengeluarkan debu tebal ke udara yang mengotori udara di sekitarnya, bahkan jika sedang sangat aktif sampai menjadi hujan debu yang tebal yang menyisakan gumpalan debu yang sangat tebal seperti butiran pasir, jadi ketika udara sedang bersih, minggu sore menjelang maghrib saya selalu mencoba berlari mengelilingi komplek kantor bupati, lumayan meski hanya 2-3 KM, tetapi itu sudah sangat melelahkan buat saya, kadang berganti menjadi setiap minggu pagi setelah shalat subuh, berlari di kawasan Pelabuhan Tobelo yang belum lama diresmikan ol

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Masih tentang Singapura ... Selain jalan2 di Orchard Road, kita juga bisa berkunjung dan berfoto di Patung Merlion yang ada di kawasan Raffles, patung singa ini menjadi icon singapore dan bahkan sampai sekarang, namun setelah beberapakali kunjungan ke kawasan ini, suasanya sudah banyak berubah, bila kita melihat dengan posisi seperti patung merlion, yang kita lihat hanyalah laut yang luas. Namun sekarang dengan posisi yang sama kita bisa melihat Marina Bay Sand Hotel dan Resort, perubahan yang sangat cepat sudah terjadi d sini.  Background belum ada Marina Bay Sand    setelah ada Mrina Bay Pemandangan pada malam hari Sebelum mencapai foto diatas, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan seperti ini kalau malam hari      Ramai pengunjung yang datang ke sini untuk sekedar berfoto dengan gaya-nya masing2, ada yang datang berombongan, berduaan ataupun selfie sendirian. Kawasannya sangat luas dan nyaman sehingga membuat or

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2

…. Lanjutan dari tulisan sebelumnya  Juli Bulan Juli, kegiatan tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya, tetapi di Bulan Juli ini saya sempat berkunjung ke Curug Cigamea yang ada di kaki Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun, Gunung Salak.  Seminggu kemudian saya bersama teman-teman lari juga main ke Bandung sekalian merasakan kembali suasana berlari di event lari Pocari Sweat Bandung Marathon yang seharusnya diadakan pada tanggal tersebut, namun karena pandemic akhirnya event tersebut dibatalkan, tetapi diganti dengan event lari Pocari Sweat Virtual Run.  Agustus Bulan Agustus, Alhamdulillah keluarga besar sudah bisa datang ke rumah sekalian selamatan atas rumah yang kembali saya tempati, event berlari masih tetap lari mingguan, kadang ada teman lari yang ngajak lari bareng dengan jarak tempuh yang lebih jauh disamping jarak tempuh rutin tetap dilakukan.  Pocari Sweat Virtual Run 10K juga diselenggarakan di bulan ini dan saya juga sudah menyelesaikan event virtual run ini deng