Langsung ke konten utama

Trekking ke Gunung Gede


Tidak pernah terbayangkan sebelumnya saya akan sampai di puncak Gunung Gede, Jawa Barat, kenapa? Karena saya memang tidak terlalu menyukai aktivitas mendaki gunung dengan berbagai alasan pribadi yang sebenarnya bisa dikompromikan, seandainya memilih, saya lebih menyukai aktivitas olahraga air seperti snorkeling atau diving dibanding trekking atau camping di atas gunung.

Beberapa kali teman saya mengajak trekking ke Sentul atau ke Gunung Gede, namun dengan berbagai alasan selalu saya tolak.

Sampai pada akhirnya saya terbujuk teman saya untuk mencoba trekking ke tempat yang lebih rendah dulu, yang lebih mudah dulu dari segala keribetan yang saya bayangkan, sampai akhirnya ketika semua proses trekking selesai dilaksanakan, saya malah jadi berubah pola pemikiran saya tentang aktivitas trekking, saya jadi seperti menemukan kesenangan baru dalam aktivitas olahraga yang lebih dari sekedar lari di jalanan, namun kini aktivitas trekking ke perbukitan.

Dan kesempatan itu pun tiba, di akhir February 2022 kemarin saya berhasil menjejakkan kaki saya di atas puncak Gunung Gede di ketinggian 2.958 Mdpl.

Sebelum berangkat, saya sudah menyiapkan apa saja yang perlu saya bawa untuk persiapan menuju ke atas dari hasil diskusi saya dengan teman-teman yang sudah lebih berpengalaman.

Sabtu, 26 Februari 2022, sore setelah shalat ashar, saya berangkat dari rumah di Pamulang menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango di Cibodas dengan menggunakan motor, jalur yang saya lewati antara lain, jalur menuju Parung sampai Jambu Dua, di perempatan Jambu Dua saya belok kiri melewati taman corat coret, lurus terus sampai diujung jalan yang sudah dibeton, ada persimpangan, jika belok ke kanan saya akan menuju Bendungan Katulampa, jika ke kiri saya akan menuju Kawasan Summarecon Bogor.

Dan saya berbelok ke kiri melewati Summarecon Bogor, menembus Kawasan Gunung Geulis dan ketemu di Megamendung lalu kemudian berkendara di Jalan Raya Puncak, melewati perkebunan teh puncak, Masjid At Taawun, Puncak Pas, Ciloto, Cimacan dan sebelum mendekati RSUD Cimacan belok ke kanan menuju Jalan Kebun Raya Cibodas dan berakhir di Pintu Gerbang Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP).

Total perjalanan kurang lebih sekitar 3 jam karena adanya kemacetan di Jalan Raya Puncak, shalat maghrib dan makan malam plus sempat hujan gerimis.

Di area ini banyak warung yang menyediakan penginapan sederhana untuk mereka yang hendak melakukan trekking atau camping sebagai tempat transit sebelum naik ke atas

Saya malam itu menginap di sebuah warung yang di dalamnya sudah dijadikan tempat bermalam berupa ruang terbuka untuk tidur atau beristirahat, dengan harga penginapan yang sangat murah per malam hanya 25k, jangan berharap banyak, hanya disediakan kasur lipat dan bantal, sedangkat lain-lain silahkan menyediakan sendiri. 


Kamar mandi ada 1 sementara toilet yang bisa juga untuk tempat mandi  disediakan sebanyak 3 tempat, tempatnya bersih, airnya, jangan ditanya, melimpah ruah tapi DINGIN SEKALI

Malam itu saya hanya berani lap badan saya yang kira2 lengket agar lebih nyaman tidurnya, karena untuk mandi, saya tidak kuat dinginnya.

Disepakati besok pagi saya dan teman-teman akan mulai berangkat naik jam 6 pagi, jadi saatnya saya beristirahat yang cukup agar besok punya tenaga lebih banyak.

Namun rupanya udara sangat dingin sekali, saya yang biasa tidur menggunakan kaos dan celana pendek meski d ruangan AC, malam ini saya lengkap menggunakan celana panjang sejak dari rumah, ditambah jaket tebal yang juga saya pakai untuk berkendara motor dari rumah, demi menjaga tubuh hangat, namun karena tidak terbiasa, tetap tidak nyaman untuk tidur, udara dingin tetap menyengat, saya memakai kaos kaki agar kaki tetap hangat dan mata tetap tidak bisa terpejam dengan lama.

Sebaiknya next jika ingin menginap dengan kondisi seperti itu, persiapkan pakaian yang lebih baik agar tidur lebih nyaman.

Pagi pun mulai menunjukkan dirinya, jam 4 saya sudah bangun, persiapan shalat subuh dan gantian ke kamar mandi, saya paksakan badan saya untuk disiram air dingin yang bikin saraf2 kulit saya seperti mati rasa karena membeku, masuk ke kamar mandi saja sudah terasa sekali hawa dinginnya, bagaimana nanti ketika badan saya tersiram air yang super dingin ini, sambil menggigil kedinginan, perlahan saya siram badan saya sedikit demi sedikit dengan air dingin tersebut, tetap dengan menggigil saya mandi sampai selesai dan akhirnya selesai juga “siksaan” air dingin subuh tadi.

Yang saya khawatirkan panggilan alam pagi yang mana kadang saya sering kesulitan dengan WC jongkok, Alhamdulillah pagi ini aman, 

Justru ketika sudah mandi bersih, badan saya terasa hangat dan siap beraktivitas.

Sarapan sudah, sekalian membawa bekal untuk makan siang diatas, mulailah kami ber-4, saya, Bone, Ulum dan Susan, bergerak menuju ke atas gunung, mereka bertiga sudah punya pengalaman naik gunung sebelumnya, sementara buat saya ini kali pertama.

Saya lihat ke arah gunung, cuaca mendung berkabut, puncak gunung tertutup kabut sampai ke setengah badan gunung, berharap agar cuaca bersahabat selama perjalanan. 

Lalu membayar tiket masuk ke Kawasan TNGP 



Setelah itu barulah dimulai pendakian dimana jalurnya mostly susunan bebatuan yang sebagian tersusun rapi, bedanya dengan yang di jalur Cisadon Sentul atau di Gunung Kencana Puncak, susunan batu di Gunung Gede ini lebih besar dan lebar, namun tetap kurang nyaman untuk dibuat lari, bahkan untuk lari2 kecil sekalipun (untuk saya), karena meski landai tetapi ayunan kaki lebih tinggi daripada jalur yang tadi saya sebutkan, munkin model seperti ini jalur event trail yang sering diadakan fikir saya dalam hati. 

Kiri kanan seperti tempat lainnya adalah pepohonan yang rimbun, di beberapa tempat juga berdampingan dengan jurang dan sebagainya.

Sampai di pos pertama, di sebelah kiri akan nampak telaga biru, karena katanya bening dan satu-satunya telaga yang akan kita temukan sepanjang jalur naik ke Gunung Gede. 



Lalu saya melewati jembatan panjang yang ternyata dibawahnya adalah jurang yang dialiri sungai. 


Kalau cuaca cerah saat itu, akan nampak jelas sekali puncak Gunung Gede dan Pangrango terlihat, namun karena cuaca pagi ini berkabut, yang nampak hanya kabut putih memenuhi seluruh langit.

Tidak lama kemudian saya sudah sampai di persinggahan Panyangcangan, Air Terjun Cibeureum, dari titik ini untuk menuju ke Puncak Gunung Gede masih sekitar 8,5 KM lagi, melihat medan perjalanan, akan terasa sangat panjang sekali perjalanan, tapi saya tetap optimist akan tiba di puncak gunung sesuai waktu perkiraan. 



Saya lanjutkan perjalanan dan kini sudah sampai di Shelter Batu Kukus 1, lalu kemudian tiba di Shelter Batu Kukus 2 dimana Susan sudah menunggu diatas karena memang dia sudah nanjak lebih lebih cepat, disini saya istirahat sebentar sambil mengatur nafas dan ngemil untuk menambah energy sebelum melanjutkan pendakian. 





Di titik berikutnya saya menemukan beberapa kelompok orang yang buka tenda disana tapi ini sepertinya bukan area tujuan orang-orang yang sengaja camping, karena area nya kecil. 

Lanjut perjalanan, ketemu tanjakan yang sebelahnya ada air terjun kecil dan yang menariknya adalah airnya panas, jadi oke buat foto karena spot nya bagus. 

Lanjut lagi saya sudah sampai di persinggahan Kandang Batu, disini area untuk camping dan banyak pendaki yang buka tenda disini, area-nya lebih luas dari yang sebelumnya saya lewati. 

Ketemu air terjun tidak jauh darisana. 

Pendakian membawa saya sampai di persinggahan Kandang Badak, area yang lebih luas lagi dan menjadi tempat para pendaki memasang tendanya karena area ini luas dan menjadi pusat perkemahan para pendaki. 



Saat tiba disini, jarak tempuh sudah tercatat sejauh 9 KM, menurut penjelasan teman saya masih ada sekitar 2-3 KM lagi menuju puncak, disana saya istirahat sebentar, makan dan minum untuk menambah energy.

Saat beristirahat, cuaca tiba2 berubah mendung gelap, gerimis mulai rintik, angin makin lama makin kencang disusul hujan deras sekali membuat semua yang singgal yang tidak kebagian tenda terutup rapat akan kehujanan, angin kencang, dingin sekali, saya yang hanya berpakaian kaos dan celana pendek mulai merasakan kedinginan, tiba-tiba kaki saya kram, awalnya sedikit tapi menjalar kesepanjang paha dalam saya, saya coba urut2 sampai kram saya hilang.

Sekitar 1 jam hujan deras dan angin kencang berlangsung, saya pun sudah menggunakan jas hujan yang sudah saya siapkan, namun saya tidak sadari kalau jas hujan plastiknya tipis, tubuh saya tetap kedinginan namun Alhamdulillah aman.

Dari Kandang Badak, menurut penjelasan teman saya, sebentar lagi akan ketemu Tanjakan Setan, disini saya dan teman saya sempat ragu apakah akan tetap naik sampai puncak atau hanya sampai tanjakan setan karena cuaca yang buruk, penjelasan tukang gorengan sempat menyarankan dengan kondisi seperti sekarang lebih baik tidak melanjutkan pendakian, kami sempat ragu, namun akhirnya diputuskan minimal sampai di tanjakan setan, setelah itu kita lihat kondisi cuaca apakah memungkin untuk tetap naik atau terpaksa turun kembali. 

Meskipun katanya sebentar lagi, tetapi karena jalurnya makin menanjak, badan juga sudah lelah, tetap terasa lama sekali, jarak sekitar 1-2KM itu terasa panjang sekali sampai akhirnya saya melihat sendiri bagaimana rupa Tanjakan Setan yang dimaksud.

Tanjakannya berupa batu menjulang ke atas, untuk bisa melewati tanjakan itu para pendaki harus menggunakan tali yang sudah disediakan, baik yang akan naik maupun turun, namun bagi yang tidak yakin bisa melewati tanjakan setan bisa melewati jalur alternative di sebelahnya yang jalurnya masih menanjak tajam tetapi banyak ruang untuk berpegangan. 


Setelah melihat kondisi tanjakan setan sedemikian, saya memutuskan untuk naik ke atas melalui jalur alternative dengan pertimbangan, jalur tanjakan setan saat itu sangat licin karena baru saja hujan reda ditambah hanya mengandalkan tali yang menggantung plus tenaga yang makin berkurang.

melewati jalur alternative meskipun tetap menajak tajam, saya masih bisa berpegangan tidak hanya dengan tali tetapi juga dengan akar-akar pohon yang kuat menjuntai, sehingga saya masih bisa berhenti ketika kelelahan.

Setelah sekian lama jalan mendaki, akhirnya saya sudah berada di lokasi dimana langit terlihat dengan luas dan saya menemukan patok-patok berkawat seperti penanda batas antara daratan dan jurang disebelahnya.

Saya fikir saya sudah sampai di puncak, namun ternyata perjalanan masih ada sekitar 1 KM lagi untuk benar2 sampai di tugu penanda puncak Gunung Gede, melewati tapak2 tersebut dalam kondisi kabut tebal dan cuaca dingin.

Rasanya lega sekali ketika sudah sampai di tugu penanda Puncak Gunung Gede, plong banget perjuangan menuju ke atas. Yang saya rasakan kelelahan seperti ini hampir sama dengan kelelahan saat finish virgin Full Marathon saya, tubuh letih sekali sampai malas bergerak atau berlari, sampai bilang dalam hati kayaknya nggak akan lagi ikut event lari jauh seperti ini, namun ketika sudah finish atau sampai ditujuan, rasanya seperti ada tenaga baru yang masuk kembali ke badan, dan ketika kondisi sudah pulih, ingin kembali merasakan situasi seperti sebelumnya, ketagihan kata orang.

Saya sempatkan foto-foto bersama teman-teman, makan dan beristirahat sebentar sekali, karena tidak lama kemudian hujang angin kembali datang menerjang, diputuskan untuk segera turun dengan pertimbangan waktu untuk turun lebih cepat dan lebih mudah.


Jalur yang saya lewati saat naik kini perlahan berubah menjadi jalur sungai kecil karena jalannya banyak tertutup air hujan yang deras, saya berkali-kali bertemu dengan para pendaki baik yang hanya ingin naik ke atas atau yang akan camping, ataupun mereka yang juga hendak turun setelah selesai camping.

Perlahan tapi pasti, setiap kali saya melewati titik-titik pemberhentian seperti tanjakan setan, Kandang Badak dan beberapa tempat, saya semakin semangat untuk segera turun, tenaga juga masih cukup banyak untuk bisa turun dengan selamat, saya tertinggal di belakang jauh karena efek betis yang kram saat berhenti di Kandang Badak saat hendak naik, mulai terasa kembali, sesekali saya berhenti untuk sekedar mengoleskan Conterpaint cream untuk meredakan rasa nyeri.

Alhamdulillah sampai juga di titik awal pendakian, dengan selamat, kaki-kaki yang dikhawatirkan bermasalah, Alhamdulillah aman, teman saya sudah menunggu di bawah dan segera kembali ke penginapan, waktu saat itu menunjukkan pukul 17:15 sesuai dengan perkiraan. 

Setelah beristirahat beberapa saat, saya fikir saya tidak perlu ber-lama2 lagi di penginapan, lebih baik saya beristirahat ke bawah di Kota Bogor untuk bisa beristirahat dengan lebih nyaman, lebih hangat dan pulangnya juga bisa lebih cepat.

Jam 18:00 saya pamitan dengan Bone dan Ulum, mereka sengaja bermalam disana, sementara Susan juga pulang sore itu kembali ke Sukabumi. Saya cek jalur pulang menggunakan Google Maps dari Cibodas turun ke Kota Bogor sekitar 2 jam, saya fikir wajar kalau lebih lama. 

Bsimillah, saya memulai perjalanan turun ke bawah, tidak lama setelah melewati gerbang masuk Kawasan, antrian panjang kendaraan sudah terlihat, saya fikir mungkin di depan sana ada kendaraan yang bermasalah atau ada sesuatu, terus saja saya berkendara tapi antrian tetap saja terus mengular sampai di persimpangan jalan raya puncak, kalau belok ke kanan ke arah Sukabumi, sedangkan ke kiri kea rah puncak, dan saya berbelok ke kiri.

Antrian terus saja mengular panjang dan saya baru menyadari kalau mungkin jam sekarang sedang diberlakukan zona buka tutup, benar saja, di depan ada polisi yang menjaga garis pembatas, sementara motor boleh melaju dan dengan senang hati para premotor melaju dengan cepat di jalan yang sepi, namun itu tidak berlangsung lama.

Antrian kendaraan kembali terjadi dan rasanya tidak ada bedanya motor tetap tidak tertib, karena sering mengambil jalur berlawanan sehingga akhirnya “tabrakan” tidak terhindarkan seperti terjadi di tikungan menjelang Masjid At Taawun, kendaraan yang hendak naik ke atas tertahan oleh rombongan motor yang hendak turun yang memakan jalur yang mau naik, dan saya tertahan cukup lama sekitar 1 jam disana.

Setelah diminta mengerti, akhirnya rombongan motor yang melawan arus bersedia “dipinggirkan” demi memberi jalan kendaraan yang akan naik dan berangsur arus mulai kembali bergerak, tapi untuk motor, tidak untuk mobil yang seperti tidak bergerak samasekali.

Kepadatan kembali terjadi terus sampai ke bawah sampai menjelang rest area Gunung Mas, kendaraan benar-benar tidak bergerak, lama sekali berdiam disana, hampir 2 jam berlangsung, seluruh jalur baik yang akan naik dan turun, tertutup oleh kendaraan yang akan turun, baik itu motor maupun mobil.

Karena terlalu lamanya menunggu sampai-sampai semua kendaraan mematikan mesinnya demi menghemat bahan bakar, karena banyak sekali ditemui sepanjang jalan kendaraan yang mogok entah karena kehabisan bahan bakar atau memang kendala di mesin. 



Waktu sudah menunjukkan pukul 22:30 dan belum ada tanda-tanda pergerakan, dan itu berarti sudah sekitar 4,5 jam saya diperjalanan dengan kondisi jalan seperti itu, saya perhatikan ada satu pengendara motor yang berboncengan, sepertinya anak dan bapak, saya perhatikan dari tadi sang anak selalu mengeluh minta untuk jalan terus, sang bapak dengan sabar menenangkan kondisi sang anak, namun lama kelamaan saya baru menyadari kalau sang anak mempunyai masalah dan saya perhatikan betapa sabarnya sang bapak menenangkan anaknya agar jangan semakin ngambek.

pakai acara jatuh segala aelah ....




Sampai akhirnya tanda-tanda pergerakan muncul dan kami semua bersorak gembira menyalakan kendaraan masing-masing untuk bersiap melanjutkan perjalanan, namun sekali lagi kesabaran harus berlipat ganda bagi pengendara mobil karena kendaraan mereka masih sulit bergerak dibanding kendaraan motor.

Perlahan tapi pasti akhirnya saya bisa keluar dari jebakan dan tekanan macet yang sangat sangat tidak beraturan, jam menunjukkan pukul 00:00 ketika saya akhirnya tiba di penginapan yang sudah saya pesan sehari sebelumnya di Kota Bogor untuk beristirahat. 

Pengalaman pertama kali naik ke Gunung Gede dan terjebak di situasi kemacetan yang sangat parah, yang seringnya saya lihat di televisi namun kemarin saya benar-benar terjebak di dalamnya.

Demikian pengalaman saya trekking ke Gunung Gede.


Komentar

  1. Sekedar saran. Utk meminimalisir kepleset dn jatuh, alangkah baiknya pke trekking pole #anakkecilsoktau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Siapp, Om Dimas 🙏
      Alhamdulillah kemarin pas trekking aman aja, itu jatuh bukan saat d gunung tapi saat kejebak macet d puncak waktu mau pulang 😊

      Hapus
    2. Iyah, kan udh baca. Tpi saran itu, untuk trekking selanjutnya👀

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Cerita tentang berlari, dari dulu sebenarnya saya suka berlari meski hanya sebatas jarak-jarak pendek, dan seringnya tidak secara rutin saya lakukan, saat penugasan di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara, banyak sekali waktu yang saya miliki untuk beraktivitas, saya fikir kenapa tidak saya isi dengan kegiatan berlari, kota yang sepi, cuaca juga lumayan bersih, sebenarnya bersih, tetapi rupanya di Pulau Halmahera terdapat Gunung Dukono yang aktif yang sering mengeluarkan debu tebal ke udara yang mengotori udara di sekitarnya, bahkan jika sedang sangat aktif sampai menjadi hujan debu yang tebal yang menyisakan gumpalan debu yang sangat tebal seperti butiran pasir, jadi ketika udara sedang bersih, minggu sore menjelang maghrib saya selalu mencoba berlari mengelilingi komplek kantor bupati, lumayan meski hanya 2-3 KM, tetapi itu sudah sangat melelahkan buat saya, kadang berganti menjadi setiap minggu pagi setelah shalat subuh, berlari di kawasan Pelabuhan Tobelo yang belum lama diresmikan ol

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Masih tentang Singapura ... Selain jalan2 di Orchard Road, kita juga bisa berkunjung dan berfoto di Patung Merlion yang ada di kawasan Raffles, patung singa ini menjadi icon singapore dan bahkan sampai sekarang, namun setelah beberapakali kunjungan ke kawasan ini, suasanya sudah banyak berubah, bila kita melihat dengan posisi seperti patung merlion, yang kita lihat hanyalah laut yang luas. Namun sekarang dengan posisi yang sama kita bisa melihat Marina Bay Sand Hotel dan Resort, perubahan yang sangat cepat sudah terjadi d sini.  Background belum ada Marina Bay Sand    setelah ada Mrina Bay Pemandangan pada malam hari Sebelum mencapai foto diatas, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan seperti ini kalau malam hari      Ramai pengunjung yang datang ke sini untuk sekedar berfoto dengan gaya-nya masing2, ada yang datang berombongan, berduaan ataupun selfie sendirian. Kawasannya sangat luas dan nyaman sehingga membuat or

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2

…. Lanjutan dari tulisan sebelumnya  Juli Bulan Juli, kegiatan tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya, tetapi di Bulan Juli ini saya sempat berkunjung ke Curug Cigamea yang ada di kaki Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun, Gunung Salak.  Seminggu kemudian saya bersama teman-teman lari juga main ke Bandung sekalian merasakan kembali suasana berlari di event lari Pocari Sweat Bandung Marathon yang seharusnya diadakan pada tanggal tersebut, namun karena pandemic akhirnya event tersebut dibatalkan, tetapi diganti dengan event lari Pocari Sweat Virtual Run.  Agustus Bulan Agustus, Alhamdulillah keluarga besar sudah bisa datang ke rumah sekalian selamatan atas rumah yang kembali saya tempati, event berlari masih tetap lari mingguan, kadang ada teman lari yang ngajak lari bareng dengan jarak tempuh yang lebih jauh disamping jarak tempuh rutin tetap dilakukan.  Pocari Sweat Virtual Run 10K juga diselenggarakan di bulan ini dan saya juga sudah menyelesaikan event virtual run ini deng