Langsung ke konten utama

Trekking Pertama Kawah Ratu Jalur Cidahu

Dari sekian banyak pengalaman berlari, sampai minggu kemarin saya belum pernah sekali pun mengikuti event atau kegiatan trail run atau kurang lebih berlari dengan menyusuri bukit-bukit atau jalan menanjak.

Kenapa saya belum mau mencobanya? Karena berdasarkan catatan pengalaman berlari saya, rata2 heart-rate (HR)/detak jantung saya mudah sekali naik dengan cepat apabila saat :

     - berlari dengan lebih cepat, berlari melewati jalan menanjak,
     - berjalan menaiki anak tangga dengan cepat atau aktivitas outdoor yang
        memerlukan banyak gerakan yang agak rumit. Sepertinya hal itu wajar saja yah
        karena jantung terpicu untuk bekerja lebih kuat,

namun demikian tingkat percepatan kenaikan HR bagi tiap orang berbeda mengikuti tingkat kebugaran dan factor usia tentunya.

Kendala lain adalah kekhawatiran saya akan nyeri di lutut akan kembali terjadi apabila saya melakukan aktivitas trekking atau trail run.

Sementara kegiatan trail-run atau trekking itu kegiatan seperti menaiki anak tangga yang selalu menanjak dengan tingkat ketinggian yang berbeda-beda.

Kenapa saya bisa memberikan penjelasan seperti diatas? Karena itu adalah kumpulan pengalaman saya saat beraktivitas, seperti berikut ini :

Catatan waktu berlari saya tercepat untuk jarak 5KM adalah sekitar 31 menit diantara rata-rata sekitar 34 menit untuk waktu tempuh berlari saya untuk jarak 5KM. pada saat berlari dengan waktu 31 menit itu beberapa kali smartwatch saya memberi peringatan kalau heart-rate saya sudah melampaui batas maksimum di angka 177, ini menandakan bahwa saya tidak boleh lebih cepat lagi berlari demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

Pada saat saya liburan di Nusa Penida, saya turun ke Pantai Kelingking yang jalur untuk menuju kesana sangat curam dan berat, pada saat turun menuju lokasi, so far aman saja, heart-rate berdetak secara normal, mekipun sempat beberapakali naik cepat, tapi aman.

Pada saat kembali ke atas, jalur yang memang curam itu sangat menantang buat saya, ditambah terik panas matahari siang hari yang menyengat sangat mempengaruhi daya tahan tubuh saya. Sangat terasa sekali tekanannya, HR saya naik dengan cepat, factor pemicunya selain kita harus berjalan menanjak melewati batu-batuan yang kadang dibeberapa bagian sangat kecil, atau bahkan kita berpegangan dengan akar pohon sebagai pembantu mempermudah saya meloncat cuaca yang terik, rasa deg2an yang kuat juga ikut memicu HR saya naik dengan cepat, tidak bisa saya bayangkan bagaimana seandainya saat saya naik keatas kemudian saya tiba2 tidak sadarkan diri, jatuh ke bawah dengan hantaman batu dari ketinggian akibat HR saya yang tinggi dan memaksakan untuk tetap bergerak.

Yang saya lakukan adalah saat HR saya bergerak naik cepat, saya istirahat sebentar, diam ditempat sambil menunggu detak jantung menurun kembali ke normal, jika sudah, saya lanjutkan kembali.

Sebelumnya saya pernah melakukan kegiatan trekking, naik gunung di Maluku Utara saat saya bertugas disana, Gunung Kie Matubu di Pulau Tidore dengan ketinggian sekitar 1730 mdpl, merupakan titik tertinggi di Maluku Utara, namun karena saat itu saya masih belum mempunyai kegiatan olahraga yang rutin seperti sekarang, saat trekking disana penuh dengan drama yang tidak akan terlupakan. ( sudah saya ceritakan tersendiri di blog ini juga ).

Terakhir sebagai bukti bahwa HR saya sangat cepat sekali naik adalah saat saya mengikuti freeletics yang diselenggarakan oleh sebuah komunitas gerak, indosweatcamp, dimana aktivitas yang dilakukan adalah kombinasi gerak dan lompat dengan waktu yang sudah ditentukan.

Dan minggu kemarin, saya memberanikan diri untuk mengiyakan ajakan teman untuk melakukan kegiatan trekking run ke Kawah Ratu yang berada di Kaki Gunung Salak.

Awalnya dari pertemuan saat lari bareng di Kebun Raya Bogor, sambil berlari kami ngobrol santai, salah satunya adalah membahas masalah trail run atau trekking.

Salahsatu hal yang saya masih enggan untuk trail/trekking adalah selain heart rate saya yang mudah naik secara cepat, juga saya tidak mempunyai sepatu khusus trail berikut aksesorisnya.

Dan pada akhirnya saya diyakinkan tidak perlu aksesories yang ribet cukup mempunyai sepatu trail dan tas ransel untuk membawa keperluan yang diperlukan. dan akhirnya saya pun membeli sepatu tersebut.

Tidak seperti pejalanan ke Bogor sebelumnya, kali ini saya akan berangkat ke Bogor dengan tetap menggunakan kereta api, namun titik keberangkatannya bukan dari setasiun Sudirmara, melainkan dari Setasiun Depok Baru, meski sedikit lebih jauh dan sedikit lebih mahal tarif ojek online-nya dari rumah, namun waktu tempuh ke Bogor jauh lebih cepat, hanya setengah jam sudah sampai, dibanding jika berangkat dari Sudirmara bisa memakan waktu lebih dari 2 jam karena harus transit dulu di Tanah Abang dan mengganti kereta.

Tiba di setasiun Bogor, saya sudah ditunggu teman saya yang akan bersama-sama menuju ke rumah temannya tempat kami menginap nanti, namun sebelum itu kami sempatkan dulu makan siang serta ngopi-ngopi di Kota Bogor.

Setelah dirasa cukup, bersiaplah kami menuju ke tempat teman di daerah Cidahu, namun rupanya hujan lebat mengguyur Kota Bogor dan sekitarnya dan membuat perjalanan kami tertahan, sekitar satu jam kemudian setelah hujan agak sedikit mereda, barulah kami melanjutkan perjalanan.

kami sempatkan shalat maghrib dan isya di mesjid Alun-alun Cicurug dan tidak lupa makan malam disekitar sana yang saat itu sedang ramai di malam minggu. Selesai dari sana kami lanjutkan menuju ke tempat rumah teman.

Minggu subuh, kami bersiap menuju Gerbang Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak via Cidahu, sebelumnya kami agak ragu apakah Kawasan sudah dibuka secara normal atau belum, karena informasi yang tidak terlalu valid, merujuk Kawasan lain yang masih boleh dibuka, kami berfikir Kawasan yang lain pun setidaknya memberlakukan yang sama, apalagi ini Kawasan terbuka yang luas dan tidak banyak yang berkunjung kesana.

Motor kami titipkan di warung terdekat, kemudian teman saya bertanya ke petugas di pintu gerbang, dan rupanya informasi yang di dapat Kawasan masih belum dibuka untuk umum karena pandemic. Sedih dengarnya, karena kami sudah sangat siap untuk naik.

Sambil duduk2 sarapan dan ngeteh, kami ngobrol dengan pemilik warung bahwa sebenarnya bisa saja kami naik ke Kawasan asal tidak diketahui oleh petugas tadi, jadi kami diminta menunggu pergantian piket petugas, nanti petugas berikutnya sudah dikenal baik dan sepertinya kebijakan akan berbeda. Sepertinya bapak ini memberi kode penawaran jasa pendampingan naik ke kawah, namun kami berniat tidak menggunakan jasa pendampingan karena teman saya sudah pernah kesana dari jalur ini.

Dan setelah terjadi pergantian petugas, teman saya kembali bertanya apakah boleh kami boleh naik ke kawah, dan Alhamdulillah rupanya petugas tersebut membolehkan kami naik, dan segera kami bersiap masuk ke dalam dan tidak lupa membayar tiket masuk Kawasan.

Kemudian kami masuk ke dalam Kawasan dan memarkirkan kendaraan motor, lalu kami bersiap mendaki, pintu masuknya nyaris tidak terlihat karena posisinya yang persis d pinggir jalan, dan tidak seperti sebuah gerbang masuk yang sering dilalui orang, munkin karena efek pandemic yang membuat semua tempat destinasi yang dimungkinkan dikunjungi orang banyak ditutup, sehingga tampilannya pun seperti bukan sebuah gerbang yang ramai.

Setelah itu saya mengikuti perjalanan teman saya yang sebelumnya sudah pernah melewati jalan ini, melewati berbagai bentuk tanjakan baik karena bongkahan batu besar atau tumbangnya pohon2 turut mengihiasi perjalanan disamping jalur yang memang sudah terbentuk. Namun karena memang jalurnya sudah lama tidak dilalui efek penutupan, sudah banyak tumbuhan atau belukar yang mulai menutupi jalurnya.



Dan akhirnya sampailah kami pada satu titik perjalanan bahwa jalurnya tertimbun longsoran yang berasal dari atas bukit, membuat kami tertahan untuk lanjut.

Longsoran tersebut membuat putusnya jalur perjalanan karena lebarnya area longsoran sampai teman saya menjadi ragu untuk melanjutkan, khawatir tidak menemukan jalan yang seharusnya. 

Akhirnya diputuskan untuk kembali turun demi menjaga keselamatan bersama. Setelah sampai di gerbang lagi, diputuskan untuk keliling seputar area sana dan sempat turun ke salah satu curug terdekat.


Selesai dari curug, kami kembali naik keatas dan bersiap untuk pulang, sempat duduk2 sebentar di warung sambil minum teh dan snack, sambil ngobrol2 kembali dengan bapak pemilik warung, kami ceritakan kondisi diatas, bapak pemilik warung menceritakan bahwa barusan ada satu rombongan yang berangkat naik keatas dengan didampingi petugas.



Tidak apa2 kami belum berhasil mencapai kawah hari ini, tetapi kami yakin suatu hari nanti kami akan kembali untuk mencapai Kawah Ratu.

Kemudian kami kembali ke rumah teman saya untuk bersih2 dan lanjut perjalanan kembali ke Bogor, diperjalanan kami sempat mampir di Bakso Rujak dan kebetulan hari itu cuaca hujan deras, sambil menunggu hujan reda sekalian istirahat.

Demikian perjalanan perdana saya trekking menuju Kawah Ratu.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Cerita tentang berlari, dari dulu sebenarnya saya suka berlari meski hanya sebatas jarak-jarak pendek, dan seringnya tidak secara rutin saya lakukan, saat penugasan di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara, banyak sekali waktu yang saya miliki untuk beraktivitas, saya fikir kenapa tidak saya isi dengan kegiatan berlari, kota yang sepi, cuaca juga lumayan bersih, sebenarnya bersih, tetapi rupanya di Pulau Halmahera terdapat Gunung Dukono yang aktif yang sering mengeluarkan debu tebal ke udara yang mengotori udara di sekitarnya, bahkan jika sedang sangat aktif sampai menjadi hujan debu yang tebal yang menyisakan gumpalan debu yang sangat tebal seperti butiran pasir, jadi ketika udara sedang bersih, minggu sore menjelang maghrib saya selalu mencoba berlari mengelilingi komplek kantor bupati, lumayan meski hanya 2-3 KM, tetapi itu sudah sangat melelahkan buat saya, kadang berganti menjadi setiap minggu pagi setelah shalat subuh, berlari di kawasan Pelabuhan Tobelo yang belum lama diresmikan ol

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Masih tentang Singapura ... Selain jalan2 di Orchard Road, kita juga bisa berkunjung dan berfoto di Patung Merlion yang ada di kawasan Raffles, patung singa ini menjadi icon singapore dan bahkan sampai sekarang, namun setelah beberapakali kunjungan ke kawasan ini, suasanya sudah banyak berubah, bila kita melihat dengan posisi seperti patung merlion, yang kita lihat hanyalah laut yang luas. Namun sekarang dengan posisi yang sama kita bisa melihat Marina Bay Sand Hotel dan Resort, perubahan yang sangat cepat sudah terjadi d sini.  Background belum ada Marina Bay Sand    setelah ada Mrina Bay Pemandangan pada malam hari Sebelum mencapai foto diatas, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan seperti ini kalau malam hari      Ramai pengunjung yang datang ke sini untuk sekedar berfoto dengan gaya-nya masing2, ada yang datang berombongan, berduaan ataupun selfie sendirian. Kawasannya sangat luas dan nyaman sehingga membuat or

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2

…. Lanjutan dari tulisan sebelumnya  Juli Bulan Juli, kegiatan tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya, tetapi di Bulan Juli ini saya sempat berkunjung ke Curug Cigamea yang ada di kaki Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun, Gunung Salak.  Seminggu kemudian saya bersama teman-teman lari juga main ke Bandung sekalian merasakan kembali suasana berlari di event lari Pocari Sweat Bandung Marathon yang seharusnya diadakan pada tanggal tersebut, namun karena pandemic akhirnya event tersebut dibatalkan, tetapi diganti dengan event lari Pocari Sweat Virtual Run.  Agustus Bulan Agustus, Alhamdulillah keluarga besar sudah bisa datang ke rumah sekalian selamatan atas rumah yang kembali saya tempati, event berlari masih tetap lari mingguan, kadang ada teman lari yang ngajak lari bareng dengan jarak tempuh yang lebih jauh disamping jarak tempuh rutin tetap dilakukan.  Pocari Sweat Virtual Run 10K juga diselenggarakan di bulan ini dan saya juga sudah menyelesaikan event virtual run ini deng