Langsung ke konten utama

Trekking ke Kawah Ratu Jalur Pasir Reungit

Dan akhirnya saya sampai juga di Kawah Ratu, sebuah Kawasan penuh dengan asap belerang dengan pemandangan yang menawan, status aktif normal namun masih aman untuk dikunjungi.

Seminggu setelah saya berhasil melakukan trekking yang pertama ke Bukti Paniisan di Kawasan Sentul, saya jadi makin tertantang untuk bisa trekking ke tempat yang lebih tinggi lagi, inginnya ke Kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango atau biasa disebut Gepang, namun teman saya merekomendasikan untuk mencoba tempat dengan ketinggian yang lebih menantang dari Paniisan namun lebih rendah daripada Gepang, dan akhirnya jatuh ke Kawah Ratu.

Sebenarnya ke Kawah Ratu kali ini adalah percobaan yang kedua, dimana percobaan pertama saya dengan teman saya mencoba melalui jalur Cidahu, namun kendala tanah longsor dan jalur pendakian belum resmi dibuka akhirnya terpaksa kami turun kembali.

Kali ini kembali bersama teman baik saya yang bersedia menemani saya trekking ke dua tempat sebelumnya -- namanya Muhammad Duyeh, Guru Muda yang menyukai Olahraga -- coba melalui jalur Pasir Reungit yang ada di Gunung Bunder yang biasa tempat orang-orang camping atau main-main di beberapa curug yang ada disana.

Hari Minggu subuh, 16 Januari 2022, kami janjian ketemu di Gerbang Pintu Masuk Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak yang ada di Gunung Bunder, saya berangkat dari rumah tidak lama setelah shalat subuh, menggunakan sepeda motor, ketika saya cek di google map, saya lihat perjalanan sekitar 1 jam 44 menit, dan saya beritahukan ke teman saya yang berangkat dari Caringin, bahwa saya sudah berangkat. Alhamdulillah cuaca pagi itu sejuk sekali, tidak hujan seperti yang kami khawatirkan.

Sekitar jam 06.15 pagi saya sudah sampai di gerbang dan tidak lama kemudian teman saya pun juga tiba, setelah membayar tiket masuk seharga Rp 20.000,- per orang, kemudian kami melanjutkan perjalanan ke tempat titik trakking di dalam Kawasan, ada beberapa titik namun kami mantapkan untuk memulai dari arah Curug Ngumpet.

Perjalanan di dalam Kawasan masih banyak yang rusak kondisinya, kami yang menggunakan sepeda motor harus lebih berhati-hati karena banyak bebatuan dan licin karena kemarin sore turun hujan disini.

Dari tempat penitipan motor, kami naik sedikit menuju pintu masuk ke Kawah Ratu, kami didata dan ditanyakan apakah perjalanan ditemani petugas atau tidak, jika tidak ditemani petugas, oleh staff disana diminta untuk boleh berangkat minimal 3 orang, karena kami berdua, akhirnya kami diminta menunggu kedatangan yang lain sehingga jumlah minimal tercapai.

Tiket masuk ke Kawah Ratu Rp. 15.000 per orang, belum termasuk jasa pemandu jika ingin dibantu petugas. karena kami tidak ditemani petugas, kami diminta mengisi formulir pernyataan tidak bersedia didampingi petugas.

Saat itu rupanya ada rombongan lain yang juga datang dan karena saya fikir kami berdua mampu melakukan trekking sendiri, kami pun memulai duluan tanpa menunggu yang lain. Start kami mulai pukul 07:30 pagi.

Perjalanan awalnya berupa jalan bebatuan yang tertata rapi, namun lama kelamaan kami akan menemui jalur berupa aliran sungai, tanah lembek dan bahkan kubangan yang jika kita tidak hati2, kaki kita akan masuk ke dalam kubangan lumpur.

Pentunjuk arah menuju Kawah Ratu akan kita temui dibeberapa titik perjalanan untuk memandu para pendaki melewati jalan sehingga tidak tersesat.

Sampailah kami pada titik Sumber Air Terakhir, kenapa demikian, karena hanya ditempat inilah air yang ada dapat kita manfaatkan baik untuk bersih2 maupun untuk minum, karena setelah itu kita juga masih menemui beberapa aliran air tetapi tidak direkomendasikan untuk dimanfaatkan karena sudah mengandung sulfur/belerang.


Selama perjalanan kami sudah mulai merasakan aroma belerang yang makin lama makin kuat tercium.

Tidak lama kemudian, kami tiba di Kawasan kawah mati, dinamakan demikan karena Kawasan tersebut memang dulunya berupa kawah aktif namun saat ini sudah tidak ada lagi kepulan asap yang menunjukan kalau Kawasan ini masih aktif, yang kita bisa lihat disana adalah Kawasan gersang dan gosong, banyak pepohonan yang sudah mati karena efek panas atau terbakar.



Kemudian kami nanjak lagi dan lagi-lagi kami menemui kawah mati dengan kondisi yang sama.



Setelahnya barulah kami dapat melihat dengan mata kepala sendiri Kawasan Kawah Ratu yang menjadi tujuan akhir, sebuah Kawasan kawah aktif dengan kepulan asap membumbung tinggi, aroma belerang yang kuat serta hawa yang hangat.




Ucap syukur Alhamdulillah kami nikmati suasana disekitar, tidak lupa kami sempatkan foto-foto dan merasakan sensasi air dingin di aliran air yang dari kejauhan berwarna biru.


Saat itu saya lihat ke jam tangan waktu menunjukan pukul 09:05 dan jarak tempuh di aplikasi tracking menunjukkan jarak 4,4 KM.

Bersyukur sekali saat itu cuaca sejuk, tidak panas dan juga tidak mendung, karena yang kami khawatirkan adalah cuaca mendung gerimis dan hujan, karena menurut penjelasan akan sangat berbahaya jika kita turun ke kawah dalam kondisi gerimis apalagi hujan, karena gas yang naik ke permukaan sangat berbahaya jika dihirup dan bahkan bisa menyebabkan kematian.

Setelah puas, kami segera turun kembali ke lokasi kami memulai, dengan melewati jalur yang tadi kami lewati, dan ketika kami melihat keatas, rupanya beberapa kelompok trekking sudah mulai berdatangan, kami bersyukur sekali bisa menikmati suasana di kawah dan berfoto-foto tanpa harus terganggu dengan keramaian orang.

Perjalanan turun seharusnya bisa lebih cepat, tapi rupanya jalur yang tadi pagi kami lewati sekarang sudah rusak, licin dan kotor karena sudah dilewati banyak orang, kami harus lebih hati2, sepanjang jalan kami banyak berpapasan dengan para pendaki yang hendak naik ke atas.

Alhamdulillah akhirnya kami tiba di gerbang masuk dan melapor kepada petugas untuk konfirmasi bahwa kami sudah turun lalu kemudian kami menuju ke tempat penitipan motor.

Waktu menunjukkan pukul 11:40 dan jarak temput total 8,69KM dengan ketinggian 1.388 Meter.


Secara keseluruhan jalur pendakian ke Kawah Ratu via Pasir Reungit tidak sesulit jalur Cidahu, jalur Pasing Reungit saya rasa sangat ramah buat semua level pendaki, baik yang sudah sangat pengalaman maupun buat mereka yang hanya sekedar hobi jalan-jalan, selama badan kita fit, Insya Allah akan sampai di Kawah Ratu dan kembali turun dengan selamat.

Demikian perjalanan saya trekking ke Kawah Ratu.


Komentar

  1. Selalu menyenangkan jika bermain dg alam, dan mencintai alam adalah sebuah kebebasan yg berlandaskan rasa tanggungjawab. Next, Gunung mana lagi nih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenkiyu, Om ... Alhamdulillah memang menyegarkan mata dan pikiran kalo main ke alam, next ke lokasi yang lebih menantang lagi kayaknya :-)

      Hapus
  2. Udah paling bener banget kalau yang namanya healinglah, refreshinglah itu ya ke gunung atau berlari ke hutan ;)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tenkiyu, Mbak ..... Alhamdulillah alternative kelayapan :-)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Cerita tentang berlari, dari dulu sebenarnya saya suka berlari meski hanya sebatas jarak-jarak pendek, dan seringnya tidak secara rutin saya lakukan, saat penugasan di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara, banyak sekali waktu yang saya miliki untuk beraktivitas, saya fikir kenapa tidak saya isi dengan kegiatan berlari, kota yang sepi, cuaca juga lumayan bersih, sebenarnya bersih, tetapi rupanya di Pulau Halmahera terdapat Gunung Dukono yang aktif yang sering mengeluarkan debu tebal ke udara yang mengotori udara di sekitarnya, bahkan jika sedang sangat aktif sampai menjadi hujan debu yang tebal yang menyisakan gumpalan debu yang sangat tebal seperti butiran pasir, jadi ketika udara sedang bersih, minggu sore menjelang maghrib saya selalu mencoba berlari mengelilingi komplek kantor bupati, lumayan meski hanya 2-3 KM, tetapi itu sudah sangat melelahkan buat saya, kadang berganti menjadi setiap minggu pagi setelah shalat subuh, berlari di kawasan Pelabuhan Tobelo yang belum lama diresmikan ol

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Masih tentang Singapura ... Selain jalan2 di Orchard Road, kita juga bisa berkunjung dan berfoto di Patung Merlion yang ada di kawasan Raffles, patung singa ini menjadi icon singapore dan bahkan sampai sekarang, namun setelah beberapakali kunjungan ke kawasan ini, suasanya sudah banyak berubah, bila kita melihat dengan posisi seperti patung merlion, yang kita lihat hanyalah laut yang luas. Namun sekarang dengan posisi yang sama kita bisa melihat Marina Bay Sand Hotel dan Resort, perubahan yang sangat cepat sudah terjadi d sini.  Background belum ada Marina Bay Sand    setelah ada Mrina Bay Pemandangan pada malam hari Sebelum mencapai foto diatas, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan seperti ini kalau malam hari      Ramai pengunjung yang datang ke sini untuk sekedar berfoto dengan gaya-nya masing2, ada yang datang berombongan, berduaan ataupun selfie sendirian. Kawasannya sangat luas dan nyaman sehingga membuat or

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2

…. Lanjutan dari tulisan sebelumnya  Juli Bulan Juli, kegiatan tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya, tetapi di Bulan Juli ini saya sempat berkunjung ke Curug Cigamea yang ada di kaki Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun, Gunung Salak.  Seminggu kemudian saya bersama teman-teman lari juga main ke Bandung sekalian merasakan kembali suasana berlari di event lari Pocari Sweat Bandung Marathon yang seharusnya diadakan pada tanggal tersebut, namun karena pandemic akhirnya event tersebut dibatalkan, tetapi diganti dengan event lari Pocari Sweat Virtual Run.  Agustus Bulan Agustus, Alhamdulillah keluarga besar sudah bisa datang ke rumah sekalian selamatan atas rumah yang kembali saya tempati, event berlari masih tetap lari mingguan, kadang ada teman lari yang ngajak lari bareng dengan jarak tempuh yang lebih jauh disamping jarak tempuh rutin tetap dilakukan.  Pocari Sweat Virtual Run 10K juga diselenggarakan di bulan ini dan saya juga sudah menyelesaikan event virtual run ini deng