Langsung ke konten utama

Trekking di Bukit Paniisan Sentul

Sepulang dari trekking di Kawah Ratu lewat Cidahu yang gagal, saya dan teman saya kembali membahas masalah trekking ini, ingin sekali lagi mencoba peruntukan bisa mencapai Kawah Ratu, namun masih terkendala dengan jalur yang akan dilalui, teman saya hanya mengerti jalur yang pernah dilewati yaitu jalur Cidahu, sementara jalur lain dia belum begitu paham.

Sampai pada akhirnya kami mencoba alternative trekking destinasi yang lain, dan akhirnya jatuh kepada Sentul, ada dua pilihan yaitu ke Bukit Paniisan atau Desa Cisadon, dan setelah dibahas lagi jatuh keputusan hanya ke Paniisan di tahun baru 2022.

sabtu sore saya menginap di salah satu penginapan murah di Bogor, lalu saya dan teman saya janjian ketemu pukul 5:30 subuh di Taman Corat Coret yang tidak jauh dari penginapan saya, dari sana kami berkendara motor menuju ke Sentul Nirwana, perjalanan sekitar 30 menit.



Jam menunjukan pukul 6 pagi lewat sedikit ketika kami tiba di Sentul Nirwana, sebuah bundaran yang sepertinya semakin ramai ketika hari semakin siang. Parkir kendaraan dekat Indomaret Sentul Nirwana, kemudian dari situ kami bersiap menuju Bukit Paniisan.

Jalur yang dilalui adalah melewati sebuah perkampungan, rumah2 padat penduduk, lalu kemudian mulai memasuki ladang singkong milik penduduk setempat, lama2 mulai memasuki area perkebunan dan hutan, jalan makin lama makin mendaki namun masih landai, pemadangan arah ke Kota Bogor dengan Gunung Salak yang menjulang serta ditambah cuaca yang cerah menambah semangat saya untuk terus naik.

Setelah itu saya dibawa melewati area perkemahan gunung pancar, melewati jalan yang sudah tertata rapi, menembus jalan raya kembali untuk kemudian masuk ke wilayah hutan kecil serta perkebunan milik warga setempat.sampai akhirnya kami melewati pemandian air panas Gunung Pancar.

Dari sana kembali melewati jalan raya menuju perumahan penduduk, kemudian kembali masuk ke perkebunan dan hutan kecil dan saya sempat naik ke gundukan tanah yang lebih tinggi untuk mengambil foto dengan view yang lebih menarik.

Sampai pada sebuah jalur tanjakan yang buat saya sangat tertantang, sampai kelelahan dibuatnya, membuat saya sering berhenti untuk mengatur pernafasan saya, karena tanjakan masih panjang, saya harus mengatur pernafasan dan irama detak jantung saya agar tidak berantakan.

Dan akhirnya saya bisa melewati tanjakan itu, munkin bagi orang lain yang sudah terbiasa akan terlihat biasa, tapi buat saya ini pengalaman yang menantang.


Kemudian kami melewati sebuah makam keramat, entah kenapa ada orang yang memakamkan keluarganya jauh diatas bukit, dari situ sebentar lagi akan sampai pada tanjakan terakhir sebelum sampai di Bukti Paniisan.

Diatas Bukit Paniisan ini terdapat sebuah warung yang sepertinya sudah menjadi icon setiap pendaki yang ke Paniisan pasti akan mengenal pemilik warung ini, Pak Haji Jajang, di warung ini menyediakan aneka makanan dan minuman, yang saya suka adalah minuman cendol yang terbuat dari daun cendol asli sehingga sangat terasa sekali aroma daun cendolnya.

Menurut teman saya, situasinya disini sudah jauh lebih baik dan sudah lebih tertata. Ada papan penanda bahwa kita sudah berada di Bukti Paniisan untuk lokasi berfoto dengan latar belakang Gunung Salak.

Kilometer di Smart watch saya menunjukan jarak tempuh 7,7 KM, dengan catatan waktu sekitar 2 jam pendakian, kami beristirahat sebentar diatas sambil ngobrol2 dan menikmati kesejukan angin sepoy2 diatas bukit.


Jam 10 kami putuskan untuk kembali turun melewati jalur yang sama saat naik, tapi sepertinya akan lebih mudah karena jalurnya lebih banyak turun tapi cuaca mulai panas.


Tepat adzan duhur kami sudah tiba di bunderan Sentul Nirwana, langsung mencari tempat makan karena sudah sangat lapar untuk kemudian kami segera mencari masjid untuk melaksanakan shalat duhur dan bersih2.

Total perjalanan dari Sentul Nirwana sampai Bukit Paniisan dan kembali ke Sentul Nirwana adalah 15 KM dengan waktu tempuh 3,5 jam.

Demikian perjalanan saya trekking ke Bukit Paniisan.


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Cerita tentang berlari, dari dulu sebenarnya saya suka berlari meski hanya sebatas jarak-jarak pendek, dan seringnya tidak secara rutin saya lakukan, saat penugasan di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara, banyak sekali waktu yang saya miliki untuk beraktivitas, saya fikir kenapa tidak saya isi dengan kegiatan berlari, kota yang sepi, cuaca juga lumayan bersih, sebenarnya bersih, tetapi rupanya di Pulau Halmahera terdapat Gunung Dukono yang aktif yang sering mengeluarkan debu tebal ke udara yang mengotori udara di sekitarnya, bahkan jika sedang sangat aktif sampai menjadi hujan debu yang tebal yang menyisakan gumpalan debu yang sangat tebal seperti butiran pasir, jadi ketika udara sedang bersih, minggu sore menjelang maghrib saya selalu mencoba berlari mengelilingi komplek kantor bupati, lumayan meski hanya 2-3 KM, tetapi itu sudah sangat melelahkan buat saya, kadang berganti menjadi setiap minggu pagi setelah shalat subuh, berlari di kawasan Pelabuhan Tobelo yang belum lama diresmikan ol

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Masih tentang Singapura ... Selain jalan2 di Orchard Road, kita juga bisa berkunjung dan berfoto di Patung Merlion yang ada di kawasan Raffles, patung singa ini menjadi icon singapore dan bahkan sampai sekarang, namun setelah beberapakali kunjungan ke kawasan ini, suasanya sudah banyak berubah, bila kita melihat dengan posisi seperti patung merlion, yang kita lihat hanyalah laut yang luas. Namun sekarang dengan posisi yang sama kita bisa melihat Marina Bay Sand Hotel dan Resort, perubahan yang sangat cepat sudah terjadi d sini.  Background belum ada Marina Bay Sand    setelah ada Mrina Bay Pemandangan pada malam hari Sebelum mencapai foto diatas, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan seperti ini kalau malam hari      Ramai pengunjung yang datang ke sini untuk sekedar berfoto dengan gaya-nya masing2, ada yang datang berombongan, berduaan ataupun selfie sendirian. Kawasannya sangat luas dan nyaman sehingga membuat or

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2

…. Lanjutan dari tulisan sebelumnya  Juli Bulan Juli, kegiatan tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya, tetapi di Bulan Juli ini saya sempat berkunjung ke Curug Cigamea yang ada di kaki Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun, Gunung Salak.  Seminggu kemudian saya bersama teman-teman lari juga main ke Bandung sekalian merasakan kembali suasana berlari di event lari Pocari Sweat Bandung Marathon yang seharusnya diadakan pada tanggal tersebut, namun karena pandemic akhirnya event tersebut dibatalkan, tetapi diganti dengan event lari Pocari Sweat Virtual Run.  Agustus Bulan Agustus, Alhamdulillah keluarga besar sudah bisa datang ke rumah sekalian selamatan atas rumah yang kembali saya tempati, event berlari masih tetap lari mingguan, kadang ada teman lari yang ngajak lari bareng dengan jarak tempuh yang lebih jauh disamping jarak tempuh rutin tetap dilakukan.  Pocari Sweat Virtual Run 10K juga diselenggarakan di bulan ini dan saya juga sudah menyelesaikan event virtual run ini deng