Langsung ke konten utama

Bali - Seminyak, Pura Ulun Danu Beratan, Kintamani


Kali ini saya kembali mendapat kesempatan liburan lagi, dengan beberapa piihan destinasi, dengan berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan kembali ke Bali, inginnya saya mengambil cuti lebih banyak tetapi rupanya cuti 5 hari sudah cukup banyak buat liburan kali ini, ditambah dengan 2 hari weekend menjadi semakin banyak jumlah hari liburnya.

Sebenarnya pengennya bukan ke Bali, tetapi karena pertimbangan perjalanan ke luar Jawa dan Bali memerlukan test PCR yang harganya lebih mahal daripada test Antigent, ini menjadi salahsatu alasan saya memilih ke Bali.

Agak bingung juga mau kemana selama di Bali, karena beberapa tempat wisata familiar sudah saya kunjungi, namun akhirnya saya memutuskan ke beberapa tempat yang kebetulan saya belum kesampaian dari dulu.

Liburan di masa pandemic ada keuntungannya, hotel2 yang biasa bertarif mahal kali ini saya bisa mendapatkannya dengan harga kurang dari Rp 100.000 per malam tanpa ada kurang fasilitas, juga penyewaan kendaraan bermotor yang diskon sampai dengan 50% dari harga normal.

Jalan-jalan yang sepi, suasana tempat yang dikunjungi juga tidak ramai, sehingga cukup nyaman buat saya menikmati suasana, dibanding bila suasana normal yang pastinya ramai dan macet di beberapa tempat.

6 Oktober 2021

Penerbangan saya menggunakan Lion Air, yang jadwal terbang seharusnya adalah jam 08:00 pagi tapi dimundurkan ke jam 10:00 pagi, untungnya pihak Lion sudah memberitahukannya beberapa hari sebelum saya terbang dan jadwal perubahannya masih bisa diterima, sehingga saya tidak perlu merubah jadwal perjalanan saya. 


Sehari sebelumnya juga saya sudah test antigent sebagai syarat penerbangan ke Jawa Bali saat itu, apabila sudah mempunyai sertifikat vaksinasi dosis ke-2.

Naik Damri dari setasiun Lebak Bulus yang berangkat jam 08:00, tiba di bandara Soetta kurang lebih sekitar satu jam kemudian. Protokol kesehatan tetap diberlakukan, dengan menggunakan aplikasi Peduli Lindungi, semua data sudah tersimpan disana sehingga tidak perlu lagi menunjukkan surat hasil vaksin atau test antigent sebagai salahsatu syarat terbang. 


Untungnya juga sudah bisa self-checkin untuk yang tidak mempunyai bagasi, sehingga saya tidak perlu repot antri di meja check in. penerbangan saya hari ini tepat waktu dan tiba di Bandara Ngurah Rai sesuai perkiraan dengan selamat.

Keluar dari bandara saya sudah komunikasi dengan pihak rental motor dan ketemuan di parkiran motor, setelah menyelesaikan proses pembayaran, gasss lah saya ke penginapan saya di daerah Seminyak, Grandmas Plus Hotel Seminyak. 


Perjalanan tidak memerlukan waktu lama, tiba di hotel sudah menunggu beberapa teman yang sudah tiba lebih awal dengan penerbangan berbeda.
Siang ini terik sekali di Bali, kami sempatkan makan siang, istirahat kemudian sorenya sempatkan berjalan-jalan menikmati sunset di Pantai Double Six.




7 Oktober 2021

Hari ini adalah hari ke-2 saya di Bali, jadwal hari ini adalah ke Ubud dan menginap disana, karena pertimbangan saya akan jelajah sampai ke Bali tengah dan saya fikir lebih baik saya menginap di Ubud dengan pertimbangan jaraknya tidak terlalu jauh saat balik dibanding saya tetap menginap di Seminyak.

After breakfast, jam 09:00 bersama teman, saya berangkat ke Ubud dengan mengghunakan motor sewaan, penginapan saya di Ubud Tropical Garden yang bersebelahan dengan Monkey Forest.


Perjalanan dari Seminyak ke Ubud memakan waktu sekitar 1 jam dengan menggunakan motor dengan jarak tempuh sekitar 29 KM.

Setiba di Penginapan di Ubud Tropical Garden, rupanya belum bisa early check in, akhirnya saya menitipkan tas saya sehingga saya tidak perlu repot2 membawa tas selama bepergian.

Tujuan pertama adalah Pura Ulun Danu Beratan, yang berada di Danau Beratan di Kabupaten Tabanan, jarak tempuh dari Hotel sekitar 1 jam lebih dengan jarak 44 KM.

Sampai disana jelang shalat duhur, dan saat itu sepertinya sedang ada upacara sembahyangan para penganut agama Hindu karena di komplek candi banyak sekali para penduduk yang datang berkunjung dan seperti bersiap melakukan persembayangan di Pura.


Untungnya para turis masih diperbolehkan memasuki kawasan pura meskipun kawasan tempat ibadah utamanya tidak diperkenankan, namun pengunjung tetap dapat menikmati suasana komplek pura dengan nyaman dan para penduduk pun tetap dapat beribadah dengan nyaman pula.




Tiket masuk ke kawasan pura Rp 30.000.- dan terlebih dahulu check in melalui aplikasi Peduli Lindungi.

Saya sempatkan makan siang di seberang komplek pura, dan rupanya daerah sini merupakan daerah banyak muslim, terdapat masjid besar di seberang jalan, dimana saya juga sempatkan shalat jamak qashar duhur dan ahsar dan rumah makan halal yang menawarkan masakan khas Bali Lombok.


Selesai makan, saya berdiskusi dengan teman seperjalanan, apakah mau ke Kawasan Tegallang Rice Terrace, Kawasan persawahan dengan susunan yang berundak yang menarik buat spot foto, atau ke Kawasan Kintamani dengan pemandangan Gunung dan Danau Batur. 

Jarak dari Ulun Danu Beratan ke Kintamani Lookout  berjarak 59 KM dengan jarak tempuh 1 jam 30 menit, sementara jarak dari Ulun Danu Beratan ke Tegallang Rice Terrace berjarak 52 KM dengan jarak tempuh yang kurang lebih sama.

Kalau ke Tegallang bisa lebih dekat ke Hotel di Ubud, sekitar 11 KM atau sekitar 20 menit berkendara, sementara dari Kintamani ke penginapan di Ubud berjarak 33 KM atau 55 menit berkendara.

Setelah mempertimbangkan waktu tersisa, jarak tempuh dan pemandangan yang akan didapatkan, akhirnya diputuskan ke Kintamani.
Perjalanan menuju Kintamani kurang lebih sama dengan jalur dari Ubud ke Ulun Danu Beratan, sering melewati tanjakan-turunan dan berkelok.



Menjelang Kintamani, nampak langit mendung berawan, kadang tiba2 terik panas, saya tidak tahu apakah memang mendung atau bagaimana, karena sepanjang jalan meski terlihat sejuk tapi tidak ada rintik hujan yang turun.

Rupanya saya tidak menyadari kalau Kawasan Kintamani ini adalah dataran tinggi dengan udara yang sejuk sekali, beberapa kali kabut turun menemani selama perjalanan saya, membuat sensasi perjalanan menjadi berbeda.


Perlahan tapi pasti, akhirnya muncul juga penampakan Gunung Batur, sesuai petunjuk posisi yang paling bagus adalah di Kintamani Lookout, seperti bagian yang sengaja dikosongkan sebagai lokasi wisata untuk puas memandangi pemandangan Gunung Batur dan Danau Batur secara luas tanpa halangan.


Tapi disepanjang jalan juga terdapat beberapa café dengan serambi langsung menghadap ke pemandangan Gunung dan Danau Batur, tapi saya dan teman memilih sebuah warung kopi dengan pemandangan yang tidak kurang strategisnya untuk melihat Gunung dan Danau Batur dengan memesan kopi dan makanan ringan dengan harga warung kami lima.



Hampir sekitar satu jam kami puas memandangi pemandangan indah ini ketika tiba2 kabut secara cepat datang merambat dan menutup pemandangan indah di depan mata, dan segera saya pun bergegas pulang karena khawatir kondisi kabut tebal ini akan berlangsung lama dan mengganggu jarak pandang perjalanan.

Akhirnya saya pun kembali pulang ke penginapan di Ubud.

Komentar

  1. Merekam perjalanan hidup dalam sebuah blog merupakan sebuah cara tetap mengingat dan bersyukur atas berkah yang sudah kita terima. Membagikan pengalaman menyenangkan selama perjalanan memberikan semangat kepada pembaca bahwa setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk bahagia dengan caranya. Ditunggu cerita perjalanan selanjutnya Bang :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas masukannya, semoga menambah semangat dalam menulis perjalanan meskipun hanya lewat sebuah tulisan :-)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Cerita tentang berlari, dari dulu sebenarnya saya suka berlari meski hanya sebatas jarak-jarak pendek, dan seringnya tidak secara rutin saya lakukan, saat penugasan di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara, banyak sekali waktu yang saya miliki untuk beraktivitas, saya fikir kenapa tidak saya isi dengan kegiatan berlari, kota yang sepi, cuaca juga lumayan bersih, sebenarnya bersih, tetapi rupanya di Pulau Halmahera terdapat Gunung Dukono yang aktif yang sering mengeluarkan debu tebal ke udara yang mengotori udara di sekitarnya, bahkan jika sedang sangat aktif sampai menjadi hujan debu yang tebal yang menyisakan gumpalan debu yang sangat tebal seperti butiran pasir, jadi ketika udara sedang bersih, minggu sore menjelang maghrib saya selalu mencoba berlari mengelilingi komplek kantor bupati, lumayan meski hanya 2-3 KM, tetapi itu sudah sangat melelahkan buat saya, kadang berganti menjadi setiap minggu pagi setelah shalat subuh, berlari di kawasan Pelabuhan Tobelo yang belum lama diresmikan ol

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Masih tentang Singapura ... Selain jalan2 di Orchard Road, kita juga bisa berkunjung dan berfoto di Patung Merlion yang ada di kawasan Raffles, patung singa ini menjadi icon singapore dan bahkan sampai sekarang, namun setelah beberapakali kunjungan ke kawasan ini, suasanya sudah banyak berubah, bila kita melihat dengan posisi seperti patung merlion, yang kita lihat hanyalah laut yang luas. Namun sekarang dengan posisi yang sama kita bisa melihat Marina Bay Sand Hotel dan Resort, perubahan yang sangat cepat sudah terjadi d sini.  Background belum ada Marina Bay Sand    setelah ada Mrina Bay Pemandangan pada malam hari Sebelum mencapai foto diatas, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan seperti ini kalau malam hari      Ramai pengunjung yang datang ke sini untuk sekedar berfoto dengan gaya-nya masing2, ada yang datang berombongan, berduaan ataupun selfie sendirian. Kawasannya sangat luas dan nyaman sehingga membuat or

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2

…. Lanjutan dari tulisan sebelumnya  Juli Bulan Juli, kegiatan tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya, tetapi di Bulan Juli ini saya sempat berkunjung ke Curug Cigamea yang ada di kaki Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun, Gunung Salak.  Seminggu kemudian saya bersama teman-teman lari juga main ke Bandung sekalian merasakan kembali suasana berlari di event lari Pocari Sweat Bandung Marathon yang seharusnya diadakan pada tanggal tersebut, namun karena pandemic akhirnya event tersebut dibatalkan, tetapi diganti dengan event lari Pocari Sweat Virtual Run.  Agustus Bulan Agustus, Alhamdulillah keluarga besar sudah bisa datang ke rumah sekalian selamatan atas rumah yang kembali saya tempati, event berlari masih tetap lari mingguan, kadang ada teman lari yang ngajak lari bareng dengan jarak tempuh yang lebih jauh disamping jarak tempuh rutin tetap dilakukan.  Pocari Sweat Virtual Run 10K juga diselenggarakan di bulan ini dan saya juga sudah menyelesaikan event virtual run ini deng