Bali - Pura Lempuyang Agung, Desa Panglipuran, Canggu

 


8 Oktober 2021

Pagi2 sebelum jelajah destinasi berikutnya, saya sempatkan menikmati kolam renang hotel untuk sekedar berendam, dengan view penginapan design Bali dan disebelahnya adalah hamparan sawah yang sengaja dibentuk untuk mengesankan suasana pedesaan yang damai.



Diseberangnya adalah monkey forest dimana setiap sore, beberapa monyet datang menghampiri penginapan saya tinggal dan menjadi tugas pegawai hotel untuk menghalau agar jangan sampai monyet2 tersebut masuk ke dalam kamar tamu.

Hari ini rencana saya ingin mengunjungi Pura Lempuyang Agung yang terkenal karena bisa berfoto di depan gapura dengan efek seperti berada di atas air yang terkenal itu.

Jarak dari penginapan ke Pura adalah sekitar hampir 2 jam berkendara motor atau sejauh 71KM. perjalanan mengandalkan peta dari Google Map, saya dibawa melintasi pedesaan di pedalaman Bali yang menjadikan perjalanan saya lebih menarik dan lebih berasa ada di Bali, karena bisa melihat sisi lain dari Bali dibanding dari apa yang selama ini terlihat di Kawasan wisatanya.

Sesampai disana, kendaraan kita semua harus parkir ditempat yang sudah disediakan, kemudian kita harus membeli tiket transportasi menuju lokasi pura seharga Rp 50.000 perjalanan pergi dan kembali, jarak yang sebenarnya tidak jauh tapi jalan menanjak dan berliku, dan sebaliknya nanti akan menurun dan berliku. 


Sesampai di gerbang pura, kita kembali diminta membeli tiket masuk seharga Rp. 50.000 untuk masuk ke Pura termasuk fasilitas difoto dan dipinjamkan selendang atau sarung.


Dari situ, untuk naik ke pura yang ada di atas, disediakan jasa ojek seharga Rp 5.000 sekali berangkat, karena saya tidak tahu berapa jauh jaraknya, saya ikut saja, rupanya jaraknya tidak jauh hanya memang cukup curam jalur mendakinya.

Saya puaskan diri berfoto di beberapa titik sampai akhirnya saya memutuskan untuk turun ke bawah, sengaja jalan kaki ke bawah karena jalannya tidak terlalu jauh dan masih bisa dengan jalan kaki sampai menuju parkir kendaraan yang akan mengantar saya kembali ke parkiran motor.




(aturan harus naik kendaraan mereka sepertinya belum lama diberlakukan, karena kata temen yang pernah kesana sebelumnya, dulu semua kendaraan bisa langsung naik ke atas komplek pura, dan hanya perlu berjalan sebentar, tetapi sepertinya saat ini pihak pemerintah desa memberlakukan aturan seperti itu).

Setelah itu kembali melakukan perjalanan selama 2 jam ke penginapan di Ubud, sempatkan juga untuk makan siang bakso di Amlapura, kota kecil yang cukup ramai dan banyak warga muslim disini.

Di setengah perjalanan kembali ke penginapan, tiba2 saya teringat ada beberapa lokasi yang belum sempat dikunjungi, pilihannya adalah Taman Air Tirta Empul, Taman Air Tirta Gangga dan Desa Adat Panglipuran, namun saya hanya bisa mengunjungi satu tempat saja karena keterbatasan waktu.

Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi Desa Adat Panglipuran, karena pertimbangan ke Kolam Air tidak sempat membawa perlengkapan mandi dan baju pengganti jika basah. 


Tiket masuk ke Desa Adat Panglipuran seharga Rp 25.000,- 


Di Desa ini kita bisa melihat suasana desa adat yang sangat tertata dengan baik, bersih dan indah, sempat berfoto di beberapa tempat sambil menikmati suasana di desa tersebut.




Selesai dari sini saya segera kembali ke penginapan dan beberes serta bersih2 seperlunya, karena kami sepakat malam ini akan kembali ke penginapan di seminyak.

9 Oktober 2021

Kemarin saat saya posting lokasi saya di Pantai Double Six, teman saya yang sedang tugas di Bali berkabar bahwa dia akan ke Ubud bersama temannya hendak melihat Ubud Writers and Readers Festival.



Rencana hari ini sebenarnya saya akan jelajah pantai di Tanjung Benoa, Nusa Dua, Pandawa dan Uluwatu, namun sepertinya temen saya terlalu sibuk dengan jalan2 sampai malam dengan temannya, saya fikir gak enjoy juga jalan2 dengan kondisi seperti ini, sehingga akhirnya saya memutuskan untuk ikut teman saya pergi ke Ubud untuk melihat festival tersebut sekalian jumpa karena sudah lama tidak bertemu.

Titik temu di kostnya di Denpasar, dari sana bersama temannya yg kebetulan bawa mobil, kami ke Ubud, kemarin saat ke Ubud saya tidak sempat kemana-kemana, jadi hari ini saya akan menghabiskan siang hari di Ubud

Festival readers and writers ini tadinya mau mendengarkan cerita backpacker Agustinus Wibisono, tetapi rupanya dia hadir bukan sebagai pembicara melainkan sebagai pendengar, setelah melihat list jadwal pembicara siapa saja, akhirnya diputuskan untuk tidak ber-lama2 disitu, tetapi kami lanjut makan siang di Warung Nasi Kedewatan Ibu Mangku.



Selesai makan siang, kami lanjutkan menuju lokasi wisata yang jarang terdengar, sebuah situs sejarah yang bernama Yeh Puluh, yang berlokasi di Desa Bedulu, Gianyar.



Situs sejarahnya kecil saja, hanya berupa barisan ukiran di batu cadas yang diyakini dibuat pada masa 14-15 Masehi, karena memang tidak terlalu luas dan lokasinya yang kurang menarik, munkin itu yang menjadi pertimbangan lokasi ini jarang dikenal orang.




Saat akan kembali, temen saya bilang kalau onde-onde yang ada di pantai double six itu hits banget sampai jadi rebutan, dan saya direkomendasikan untuk mencobanya, saya fikir kapan lagi saya mencobanya kalau tidak sekarang, sekalian penasaran apa enaknya sih onde-onde disana yang katanya hits.

Jadilah kami berangkat menuju Pantai Double Six sambil melihat sunset.

Sesampai disana hari sudah gelap karena pas adzan maghrib, matahari pun sudah tenggelam diujung samudera hindia, kami mencari onde-onde tersebut yang rupanya sedang dibuat lagi karena stock yang pertama sudah habis.



Onde-onde tersebut akhirnya datang, ditemani teh botol dingin, kesampaian juga mencicipi onde-onde yang hits itu di Pantai Double Six dan kami pun beranjak dari sana karena tempatnya akan segera ditutup.

Sebelum sampai hotel, saya sempatkan test antigent untuk penerbangan pulang besok hari ke Jakarta.

10 Oktober 2021

Hari ini adalah hari terkakhir saya di Bali, sarapan pagi di dekat Toko Souvenir Kaos Joger, kemudian saya ijin ke teman2 tidak bergabung karena hari ini saya mau beli oleh-oleh dan ke Canggu, Kawasan pantai yang ramai dengan orang Surfing.

Karena penerbangan saya sore pukul 16:40, jadi setelah selesai belanja, jam 8 pagi teman saya sudah menjemput saya di hotel, menggunakan motor kami berangkat ke Canggu, tidak lupa sebelumnya sarapan lagi karena sarapan sebelumnya “kurang nendang”.

Saat di Ubud kemarin, teman saya bercerita kenapa bule2 di sini sepi, menurut info dari orang Ubud, bule2 sekarang ramai ke Canggu, mereka surfing dan “menghidupkan” suasana di Canggu, dan ketika saya ke Canggu benar adanya, kalau bule2 itu ramai disana, mereka sekedar berjemur atau selebihnya surfing di pantai, saya perhatikan baik laki atau perempuan, tua dan muda, mereka bersemangat berselancar dengan deburan ombak yang cukup menantang.



Di parkiran motor, saya sempat ngemil kopi dan roti croissante, harganya cukup murah tapi enak banget.

selesai darisana saya kembali ke hotel, kemudian segera bersiap untuk check out dan menuju bandara.

Sampai di bandara saya kembalikan motor sesuai perjanjian, harga sewa motor cukup murah menurut saya disaat pandemic seperti sekarang.

Penerbangan tepat waktu dan Alhamdulillah saya sudah kembali di Jakarta.

Perjalanan yang berkesan, cuaca sangat mendukung, tidak ada turun hujan selama saya di Bali, kecuali ada satu kesempatan hujan tapi itu dari subuh sampai ke pagi jam 7, selebihnya cerah.


Komentar

  1. Selalu merasa senang membaca perjalanan seseorang, merasa ikut dalam perjalanan tersebut. Memberikan semangat dan motivasi untuk dapat secara langsung menuju ke sana. Hidup merupakan perjalanan dalam menikmati waktu yang diberikan kepada kita.
    Terima kasih Bang Andi, sudah membagikan cerita perjalanan yang menyenangkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih atas masukannya, Gio, semoga menambah semangat dalam menulis perjalanan meskipun hanya lewat sebuah tulisan :-)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park