Kembali ke Belitung #1


Jalan-jalan tutup tahun 2020 akhirnya jatuh ke Pulau Belitung, kenapa akhirnya kembali ke Pulau Belitung karena dengan berbagai pertimbangan

Sepulang dari Belitung di liburan akhir Oktober kemarin, teman saya bertanya, mau kemana liburan di akhir tahun?, saya bilang bahwa ada beberapa pilihan liburan di akhir tahun dengan biaya perjalanan terbilang murah, saya sebutkan beberapa tempat dan salah satunya adalah ke Pulau Belitung. Saya sertakan juga beberapa contoh besaran tiket perjalanan ke beberapa destinasi sebagai perbandingan satu sama lain plus apa-apa saja yang akan bisa kita nikmati jika kita berada di destinasi yang kita tuju.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya diputuskan liburan akhir tahun 2020 (kembali) ke Pulau Belitung, kenapa saya selipkan kata kembali, karena memang buat saya ini akan kali ke-3 saya ke Pulau Belitung, dua kunjungan sebelumnya sudah saya ceritakan dalam tulisan saya di blog ini.

Harga tiket pesawat AirAsia tanggal keberangkatan 24-27 Desember 2020 sebesar Rp. 778.500, buat saya harga yang masih sangat wajar apalagi mengingat saat itu adalah liburan panjang, sebagai perbandingan di waktu yang sama, ke Bali, Jokdja atau Surabaya atau Toraja via Makassar menetapkan tiket seharga lebih dari 1 juta untuk tiket perjalanannya, belum lagi urusan akomodasi dan makan-minumnya.

Setelah tiket penerbangan sudah dibeli, kemudian saya menghubungi pihak penginapan waktu ke Belitung sebelumnya, Alhamdulillah masih bisa dapat harga kamar yang murah di lokasi yang strategis karena berada di tengah Kota Tanjung Pandan, kota terbesar di Pulau Belitung, Rahat Icon Hotel namanya, tarif per kamar Rp 170.000,- per malam tanpa breakfast dan buat saya tidak masalah karena untuk mencari sarapan sangat mudah sekali karena lokasi sarapan banyak di sekitar penginapan.

Alasan saya mau kembali lagi ke Pulau Belitung adalah karena saat kunjungan sebelumnya saya tidak sempat Hoping Island lantaran hujan deras seharian di hari ke-2 kunjungan saat itu, dan saya berharap di kunjungan kali ini ada kesempatan untuk itu, sehingga saya memastikan untuk men-charter kapal untuk keliling pulau-pulau yang ada di sekitarnya, informasi charter kapal ini saya dapat dari bapak yang menyewakan motor ke saya, bapak itu menawarkan charter kapal dan sewa alat snorkeling dengan biaya yang masih wajar, Rp 500.000,- apalagi kami ber-4 sehingga biaya carter kapal kami tanggung bersama, sementara sewa motor per harinya adalah Rp 100.000 untuk jenis motor Yamaha Nmax dan Rp 80.000 untuk jenis motor Honda Vario, sementara BBM-nya ditanggung penyewa.

Saya memang selalu merencanakan setiap perjalanan dengan detail, itu sangat diperlukan karena itu menjadi panduan buat saya saat perjalanan benar-benar dilakukan, saya buka type traveler yang istilahnya “go show” yang melihat kegiatan setiba dilokasi, karena itu sangat menghabiskan waktu, dan membuat perjalanan tidak terarah. Itu berlaku ketika saya melakukan perjalanan seorang diri ataupun ketika saya pergi bersama teman2 dan saya diminta untuk membuat rencana perjalanannya.

Kami sudah mempersiapkan semua yang diperlukan saat perjalanan nanti, termasuk hasil rapid test antibody yang diperlukan saat check in di bandara. Namun beberapa hari menjelang keberangkatan tiba-tiba keluar pemberitahuan dimana semua pelaku perjalanan yang akan menggunakan pesawat harus memiliki surat hasil rapid test antigen dan berlaku maksimal 3x24 jam sejak saat diterbitkan.

Karuan saja membuat kami sempat kesal dan bimbang, kesal karena kami sudah mempunyai hasil test rapid antibody namun kami kembali harus melakukan test rapid antigent, yang berarti bertambah lagi pengeluaran yang tidak diduga, kesal juga karena pemberitahuan tersebut begitu mepet dengan waktu keberangkatan sementara kami tidak tahu dimana lokasi untuk melakukan test antigent termasuk besaran biaya test tersebut, sempat terfikir untuk membatalkan saja perjalanan dengan keribetan yang datang secara tiba2 dan kami belum siap mengantisipasi.

Ditengah kebimbangan, perlahan kami mulai mendapatkan informasi beberapa lokasi untuk melakukan test antigen dan besaran biayanya, setelah difikirkan dan didiskusikan, kami putuskan untuk tetap melakukan perjalanan dan kami kembali melakukan test rapid antigen. 


Kabar kepastian jadwal keberangkatan pesawatpun sudah didapatkan yang sebelumnya sempat terjadi beberapakali perubahan jadwal.

Hari Kamis, 24 Desember 2020, saya dan dua teman saya, Ulum dan Bone janjian berangkat bareng dari Damri Lebak Bulus, sementara Zaqi berangkat dari daerah Pasar Minggu, dan tiba di Bandara Soetta sekitar 1 jam kemudian.

Suasana di bandara begitu ramai, tidak seperti longweekend sebelumnya di bulan Oktober yang masih sepi, tapi kali ini benar-benar ramai dengan para calon penumpang pesawat dengan berbagai tujuan, suasana seperti tidak sedang dalam masa pandemic corona.

Penerbangan hari ini berjalan lancer dan tepat waktu, Alhamdulillah kami tiba di Bandara Hanandjoedin Belitung sesuai waktu, sekeluar dari bandara sopir taxi yang sudah kami pesan sebelumnya sudah menunggu kami untuk diantar ke penginapan yang sudah dipesan sebelumnya di Rahat Icon Hotel.

Setiba di Hotel, check in dan kami menempati kamar masing-masing, setelah beristirahat sebentar, kemudian kami keluar untuk mencari makan siang dan langsung melakukan perjalanan pertama kami yaitu ke Pantai Tanjung Tinggi sekalian untuk mengukur jalan perjalanan, karena informasi yang diberikan oleh pemilik kapal, semua perjalanan hoping island dilakukan mulai dari Pantai Tanjung Tinggi.

Perjalanan dari Hotel ke Pantai Tanjung Tinggi menurut Google Map sekitar 30 menit berkendara motor, kalau saya pelajari jalurnya rupanya jalur tersebut akan melewati hotel pertama kali saya ke Belitung yaitu Swissbell Hotel yang ada di Tanjung Binga, benar-benar mengulang perjalanan kembali buat saya, saat diperjalanan sempat turun hujan gerimis, tapi alhamdulillah tidak terlalu deras dan kami tetap tancap gas melanjutkan perjalana, disebagian perjalanan disuguhi pemandangan tepi pantai berpasir putih yang landai. Dan tidak lama kemudian tibalah kami di Pantai Tanjung Tinggi.

Pamtai Tanjung Tinggi ini rupanya juga sudah pernah saya datangi saat pertama kali ke Belitung, pantai ini pernah menjadi lokasi syuting Film Laskar Pelangi, dengan formasi bebatuan besar dan kecil yang menarik untuk lokasi foto-foto, hujan gerimis kembali turun tapi untungnya hanya sebentar.

Kami menyusuri pantai Tanjung Tinggi, dan menyusuri gugusan bebatuan disisi sebelahnya, rupanya pemandangan disebelah lebih menarik dan formasi batuannya pun lebih mudah untuk dinaiki dan lebih bagus buat spot foto-foto.



Setelah itu kami kembali ke hotel karena hari sudah sore untuk beristirahat karena rasa lelah karena efek perjalanan dan penerbangan hari ini. Besok pagi disepakati kami akan melakukan perjalanan darat menyusuri Pulau Belitung.

Malam itu kami sempatkan mencoba makan Mie Belitung yang katanya tidak lengkap jalan-jalan ke Belitung kalau tidak mencoba Mie Atep Belitung plus Es Juru Kunci. 

berlanjut ke Part #2


Komentar

  1. mau tanya es juru kunci (kuncen) rasanya gimana yah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. itu es jeruk khas belitung, mirip jeruk nipis terus d kasih gula, rasanya, hmmmm ... mantappp :-)

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2