Long Weekend di Pulau Belitung

Tujuan saya libur cuti bersama kali ini akhirnya jatuh ke Pulau Belitung, dan bagaimana proses terjadinya memutuskan ke Belitung, kira2 seperti ini.

Sebelumnya saya pernah ke Belitung tetapi itu lebih ke acara atau kegiatan kantor, ada forum nasional kepala seksi duktekkom yang melibatkan seluruh kepala seksi duktekkom dari seluruh kanwil DJP se-Indonesia. Karena saat itu saya juga pegawai yang baru masuk ke dalam lingkungan duketkkom, jadi saya juga hampir tidak kenal dengan orang yang ikut serta kegiatan tersebut.

Kegiatannya sebenarnya lebih banyak santai, tetapi entah mungkin krn perasaan saya saja, meksipun santai tapi kalau dibarengi dengan kegiatan kantor tetap saja rasanya berbeda.

Dan jalan2 di Belitung saat itu pun hanya sebatas di Pulau Lengkuas dengan Mercu Suar-nya dan Pantai bekas lokasi syuting Film Laskar Pelangi.


Sepulang dari sana, saya sempat ekplorasi Belitung melalui informasi yang ada di intenet, rupanya banyak tempat menarik disana, dan saya berfikir suatu saat saya akan kembali ke Belitung.

Puji syukur Alhamdulillah, Allah mendengar niat saya tersebut.

Jadi selepas liburan dari Nusa Penida akhir Agustus lalu, saya sudah mencari infromasi mau kemana libur Panjang di akhir Oktober nanti, beberapa tempat sudah saya kunjungi dan ada beberapa yang ingin saya kunjungi kembali, namun tetap kembali ke budget yang saya siapkan untuk liburan.

Pikirannya saat itu ingin ke Jogja, pengen sekali menikmati Jogja tanpa harus dibarengi dengan kegiatan event lari, karena selama ini kalau ke Jojga selalu dibarengi dengan acara Borobudur Marathon sehingga waktunya tidak cukup banyak untuk ekplorasi.

Saya sudah survey tiket dan penginapan serta lokasi2 yang ingin dikunjungi, dan ketika teman memberitahu kalau di tanggal liburan tersebut ada event lari skala kecil, saya semakin bersemangat untuk berkunjung ke Jogja.

Semakin mendekati hari rupanya ada teman yang menawarkan perjalanan ke Belitung, saya cek tiket ke Belitung rupanya juga murah, bahkan lebih murah daripada tiket kereta ke Jogja, ditambah dengan berbagai cerita tentang suasana Belitung entah kenapa pikiran menjadi bercabang antara ke Jogja atau Belitung.

Mendekati hari, membaca situasi yang akan terjadi, sepertinya Jogya akan lebih ramai dari biasanya dimasa liburan sekarang, karena sptnya orang juga sudah mulai jenuh di rumah saja, tiket perjalanan yang lebih murah juga lebih mudah bagi mereka yang masih ragu untuk pergi ke luar pulau. Akhirnya saya putuskan untuk pergi ke Belitung saja.

Perjalanan kali ini sendirian, benar2 sendirian, jujur ini yang pertama kali saya melakukan perjalanan sendirian di dalam negeri, ada rasa berbeda ketika saya melakukan perjalanan sendirian ke luar negeri, kalau di dalam negeri seperti ada yang aneh saja bepergian sendiri.

Namun saya tetap berniat untuk pergi sendiri dan saya percaya niat baik akan dimudahkan dalam perjalanan.

Saya juga sempat mencari penginapan dan transportasi selama disana, penginapan saya di RedDoorz Plus Rahat Icon Hotel, sementara untuk transportasi saya menyewa motor dengan tarif 75 ribu per hari, sesuai kesepakatan saya akan ambil setiba di bandara nanti.

Kamis, 29 Oktober 2020

D-day itu adalah hari ini, 
Setelah beberapa hari sebelumnya selalu mendapat pemberitahuan penjadwalan ulang penerbangan oleh pihak maskapai, akhirnya hari rabu pagi sudah mendapat kepastian jam terbang baik pergi maupun kembalinya.

Penerbangan saya pagi ini jam 9 pagi, jam 6 pagi saya sudah berangkat dari rumah saya di Pamulang, naik gojek menuju setasiun MRT Lebak Bulus untuk naik Damri menuju bandara, jam 7 pagi Damri sudah berangkat ke bandara Soetta untuk perjalanan sekitar 40 menit, sampai di bandara sudah jam 8 kurang, segera saya menuju loket chek ini.

Pagi ini rupanya wisatawan sudah banyak yang berdatangan menunggu keberangkatan, dimaklumi karena hari ini adalah hari pertama dimulainya libur cuti bersama akhir Oktober 2020.

Tidak seperti longweekend di bulan Agustus lalu yang masih sepi dengan wisatawan atau para calon penumpang pesawat, long weekend kali ini sudah lebih ramai lagi calon penumpang yang akan terbang, saya perhatikan rata2 hendak berwisata terlihat dari pakaian dan barang bawaannya.

Pesawat saya pagi itu rupanya penuh, tidak menyangka juga akan penuh seperti ini, biasanya ada satu kursi kosong di tiap lajur, tapi kali ini saya perhatikan hampir penuh terisi semua.

Pesawat take off dan mendarat sesuai jadwal, setiba di Bandara Hanandjoedin Tanjung Pandan, saya langsung menghubungi penyewaan sepeda motor, saya whatsapp dan saya telepon ber-kali2 tapi tidak ada respon sama sekali, sampai beberapa kali sopir taxi menawarkan taxinya untuk mengantar saya ke kota, saya tepis dengan alasan saya sudah memesan motor, namun sampai setengah jam berlalu tidak ada kabar sama sekali dari pihak penyewaan motor.


Tanda-tandanya tidak ada respon dari penyewaan motor, segera saya searching lagi tempat penyewaan motor, rupanya beberapa tempat sudah penuh dipesan, sampai akhirnya saya menemukan orang yang bisa disewa motornya namun dengan harga yang lebih mahal, tapi tidak masalah karena motor yang akan saya sewa jenis NMAX, sementara sebelumnya saya sewa Vario. Setelah ada kesepakatan, akhirnya saya minta diantar sopir taxi ke kota yang sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi karena tidak ada pilihan akses, mau tidak mau terpaksa kita harus mengambil taxi sebagai transportasi ke kota, tarifnya 80 ribu sekali jalan.

Dalam perjalanan ke kota barulah pihak penyewaan motor merespon telepon saya yang awal, tetapi saya sudah terlanjur kecewa dan tidak mau menggunakannya lagi, dan yang bersangkutan minta maaf.

Setibanya di penginapan, tidak lama kemudian motor yang saya pesan pun tiba, setelah menyelesaikan segala sesuatunya, segeralah saya bergerak, pertama kali saya langsung mencari tempat makan siang, karena kebetulan sudah jam makan siang, setelah itu saya putuskan untuk segera menuju lokasi yang paling jauh dulu, sesuai rekomendasi dari sopir taxi tentang bagaimana memanfatkan waktu liburan saya yang sedikit untuk dapat lokasi yang banyak.

Tujuan pertama saya adalah ke lokasi bekas syuting Film Laskar Pelangi, replika SD Muhammadiyah yang menjadi sekolah penulis Buku Laskar Pelangi, Andrea Hirata, yang berlokasi di daerah Gantong. Kenapa disebut replika, karena memang hanya replika dua buah kelas yang sekolah sebenarnya berada lebih jauh lagi dipedalaman pulau.

Merujuk pada Google Map, jarak dari Kota Tanjung Pandan ke Desa Gantong berjarak sekitar 68 KM atau sekitar 1,5 jam perjalanan menggunakan motor, saya sudah terbiasa berkendara motor selama satu jam lebih, jarak dari rumah saya di Pamulang ke kantor saya saat berdinas di daerah Gunung Sahari, Jakarta Pusat, itu sekitar 1 jam lebih, jadi saya fikir bukan sesuatu yang dikhawatirkan.

Membaca blog beberapa traveler dijelaskan bahwa kondisi jalan di Pulau Belitung sangat mulus, dan kenyataannya memang sangat mulus dan sepi sehingga nyaman untuk berkendara, dan jangan khawatir, meskipun sepi tetapi aman dan nyaman.

Setibanya di lokasi replika SD Muhammadiyah, saya cek waktu tempuh perjalanan rupanya lebih dari 1,5 jam, saya kalkuasi sekitar 2 jam perjalanan dengan kecepatan berkendara saya rata-rata 65 KM/jam, tanpa macet.

Tiket masuk ke lokasi hanya Rp. 3.000.- tanpa dipungut biaya parkir. saya amati sekitarnya sambil membayangkan adegan-adegan di Film Laskar Pelangi, setelah sempat mengambil selfie, lalu saya meninggalkan lokasi tersebut. Disekitar loaksi juga seperti ada semacam tempat untuk berkumpul atau istirahat untuk sekedar makan dan minum.




Selanjutnya saya mencari lokasi yang katanya bekas Rumah Ahok saat tinggal dan menjadi Bupati Belitung Timur, dan sekarang rumah tersebut menjadi Rumah Fifi, saya hanya melihat sebentar kemudian beranjak ke Museum Kata milik Andrea Hirata, saya beberapa kali cek dengan google map tapi kok selalu tidak ketemu sampai saya amati sekali lagi, rupanya bangunan tersebut merupakan rumah yang sudah dimodifikasi menjadi sebuah museum, diberi cat warna warni cerah dengan banyaknya kata-kata yang menempel di dinding rumah, sekilas kalau tidak ngeh saya tidak tahu kalau itu adalah Museum Kata, karena lokasinya dipinggir jalan dan bersebelahan dengan rumah penduduk, tidak ada pembedaan samasekali.


Selanjutnya saya berpindah ke lokasi berikutnya ke daerah Manggar. Jarak lokasi dari Desa Gantong ke Manggar sekitar 25Km atau berjarak tempuh 35 menit dengan motor. Pilihannya sebenarnya ada beberapa antara Pantai Serdang, Pantai Punai atau Pantai Burung Mandi, namun karena pertimbangan waktu yang jika dilahap semuanya tidak akan cukup waktu, sehingga saya putuskan saya akan memilih ke Pantai Manggar yang ada di tengah Kota Manggar, kecamatan lebih tepatnya.

Pantai Serdang ini berpasir putih, memanjang ber-kilometer jauhnya, sepanjang garis pantai tersebut bersandar perahu-perahu nelayan dengan cat warna warni cerah dan sangat menarik, saya suka sekali berada di Pantai ini, namun saya tidak bisa ber-lama2 karena keterbatasan waktu saya harus segera kembali ke Kota Tanjung Pandan sebelum matahari terbenam, akhirnya saya putuskan saya sebentar saja disini dan segera saya berkendara untuk kembali ke Kota Tanjung Pandang yang pastinya akan memakan waktu lebih dari 2 jam perjalanan.




Setengah perjalanan saya beristirahat sebentar, makan gorengan dan minum kopi sambil mengistirahatkan badan, terutama leher saya yang sangat pegal.
Alhamdulillah saya tiba kembali di Kota Tanjung Pandang tepat adzan maghrib berkumandang. 

Malamnya saya mencoba Mie Atep, Mie Khas Belitung yang selalu menjadi review para traveler, cukup berjalan kaki dari penginapan karena lokasinya yang sangat dekat, harganya Cuma Rp 18.000 plus es juru kunci jadi Rp 24.000.- lumayan untuk bikin kenyang perut.

Setelah itu saya mampir ke salahsatu kedai kopi yang ada disana, What’s Up Café, persis di bundaran Kota Tanjung Pandan, pilihan aneka minuman dan makanan ringan dengan harga terjangkau. 


Perjalanan hari pertama di Pulau Belitung selesai.

Jumat, 30 Oktober 2020

Esok paginya saya sudah bersiap untuk lari pagi keliling kota, saya targetkan 10KM saja untuk lari pagi ini, setelah saya bersiap, saya perhatikan cuaca di luar seperti mendung, tetapi saya coba untuk tetap berlari. Jam 06:00 bbwi pagi saya mulai berlari.

Jalur yang saya lewati dari penginapan ke arah Tugu Satam atau Satam Square, What’s Up Café, Kong Djie Café lurus ke arah Pantai Tanjung Pendam, Hotel Kartika Jaya lurus terus mengikuti jalan sampai ketemu Fairfield by Marriot Belitung, tidak jauh dari situ akan bertemu dengan pertigaan, belok kanan melewati Pusat Oleh-oleh Belitung untuk terus lurus mengikut jalan, melewati beberapa per-empatan, sampai bertemu dengan Masjid Jami Al Khoir yang ada di perempatan jalan.


Sampai disana rintik hujan mulai turun, saya yang tadinya hendak lurus melewati perempatan tersebut akhirnya saya putuskan untuk belok kanan untuk memperpendek jalur lari melewati KPP Pratama Tanjung Pandan dan Maxone Hotel diseberangnya, lurus sedikit tidak lama kemudian belok kiri ke arah penginapan, menjelang sampai penginapan hujan sudah mulai semakin deras, jarak tempuh tercatat sudah 8KM, saya fikir tanggung sekali untuk berhenti, karena mencapai 10KM lagi sebenarnya sebentar saja, saya tunggu hujan berhenti, dan akhirnya tinggal gerimis saja, saya fikir saya harus tuntaskan saja larinya sampai 10KM nanti setelah lari saya bisa istirahat dan mandi air hangat di penginapan.

Kembali saya melewati jalur menuju Satam Square dan sampai di Kong Djie Kopi saya belok kanan dan bertemu di persimpangan jalan menuju Hotel Kartika Jaya untuk memutar melewati lagi Pantai Tanjung Pendam, tepat 10KM saya berada di Tugu Satam square, hujan mulai kembali deras dan segera saya kembali ke pengiapan.

Hari ini sepertinya tidak cerah, hujan deras turun sepanjang hari, sempat berhenti menjelang shalat jumat, dan saya sempatkan shalat jumat yang lokasinya tidak terlalu jauh dari penginapan dan makan siang.

Hari ini seharusnya saya akan menikmati sore hari di Pantai Tanjung Kelayang dan Tanjung Tinggi yang lokasinya berjarak waktu sekitar 30 menit menggunakan motor, namun karena cuaca yang selalu mendung dan turun hujan akhirnya saya batalkan kedua tempat tersebut, saya sempatkan ke Lokasi Tambang Kaolin yang tidak terlalu jauh dari Kota tapi lagi-lagi gerimis turun membuat saya terpaksa menyingkatkan waktu berada di lokasi tersebut, cukup untuk mengambil beberapa foto tanpa sempat menikmati suasana, saya bergegas mencari tempat berteduh




Saya kembali mampir di What’s Up Café yang saya fikir cukup representative untuk menikmati suasana gerimis di hari itu sambil mengamati orang-orang yang masih bergerak disaat hujan.

Setelah hujan berhenti, hari sudah cerah, saya mampir ke Pantai Tanjung Pendam yang katanya bagus untuk melihat sunset, tapi sepertinya tidak akan saya nikmati sunset sore ini karena cuaca yang kurang mendukung. 

Tiket masuk Rp 3.000.- untuk tiket masuk kendaraan, saat di dalam sepertinya sedang ada kegiatan disana, saya dekat dan lihat rupanya sedang ada pertandingan kasti putri, permainan yang dulu suka saya mainkan saat saya masih SD, sambil mengingat-ingat kembali cara permainannya saya nikmati sore itu dengan melihat suasana pertandingan yang seperti sudah menjadi permainan yang sangat diminati oleh masyarakat Pulau Belitung, terlihat dari antusiasme penduduk sampai-sampai dibuatkan pertandingan antar kecamatan. Sangat menarik.

Setelah shalat maghrib, saya sempatkan makan malam dan sisa malam saya habiskan istirahat di kamar.

Sepanjang perjalanan kembali ke penginapan saya memutar kembali keliling Kota Tanjung Pandan, dan banyak sekali kedai kopi yang ramai oleh masyarakat terutama anak muda untuk menghabiskan malam bersama.

Perjalanan di Pulau Belitung hari ke-2 berakhir.

Sabtu, 31 Oktober 2020

Hari ini adalah hari terakhir saya menikmati Kota Tanjung Pandan, sesuai rencana awal seharusnya saya masih akan ada di sini sampai besok, tetapi karena ada sedikit kesalahpahaman, akhirnya saya putuskan untuk memperpendek waktu perjalanan saya di Pulau Belitung, hari Rabu kemarin lusa, saya melakukan penjadwalan ulang tiket penerbangan pulang saya dari hari Minggu besok ke hari ini.

paginya saya sarapan di Kedai Kopi Kong Djie yang kemarin saya lewati saat berlari, kedai kopi yang legendaris di Pulau Belitung.

Setelah proses check out selesai, saya pesan gojek ke Bandara, tiba di bandara saya segera melakukan check in dengan sedikit drama dengan petugas loket karena nama saya tidak masuk daftar manifest penumpang yang akan terbang pagi itu akibat penjadwalan ulang, setelah komunikasi dengan petugas loket akhirnya nama saya berhasil masuk ke dalam daftar sehingga saya bisa terbang pulang hari itu

Demikian perjalanan singkat saya di Pulau Belitung, jika ada kesempatan saya ingin eksplorasi lebih banyak lagi Pulau Belitung.

Sekedar catatan, salahsatu daya Tarik traveling di Pulau Belitung adalah biaya hidup yang murah, penduduk yang ramah serta kotanya yang kecil tapi aman dan nyaman.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2