Eksplorasi Nusa Penida - Diamond Beach, Atuh Beach dan Bukit Teletubies


Tiba-tiba ke Bali


Entahlah apa yang ada dalam benak saya saat itu, semenjak pandemic corona melanda seluruh dunia membuat pergerakan menjadi terbatas karena menghindari semakih menyebarnya virus corona tersebut

Semua aktivitas yang dirasa tidak terlalu penting sebaiknya dihindarkan, dengan harapan virus tidak semakin menyebar dan kita pun terlindungi dari paparan virus yang kita tidak tahu dimana saja keberadaannya.

Singkatnya, pada bulan Agustus 2020 tuh, di akhir minggu ke-3 ada harpitnas, jauh2 hari sebelum corona menyerang, saya sudah menyiapkan diri untuk ikut event lari Mandiri Jogja Marathon, namun event tersebut dibatalkan sampai pemberitahuan lebih lanjut, dan saya tidak tahu mau kemana, karena mau pergi2 pun serba terbatas dan ribet.

Harpitnas itu di tanggal 21 Agustus, hari jumat, sampai hari Minggu tanggal 16, saya belum mendapat kepastian apakah di hari jumat itu libur atau nggak, saya bertanya ke bagian kepegawaian pun katanya tetap masuk, saya beritahukan ke teman yang di Bandung bahwa saya tidak jadi ke Bandung karena ternyata hari jumat saya masih masuk kantor, padahal rencana mau lari di daerah Ciwidey.

Selasa malam tanggal 20, saya baru mendapat kepastian bahwa hari jumat itu merupakan hari libur bersama, dan saya bilang ke teman saya yang di Bandung, bahwa hari jumat itu hari libur, tetapi teman saya bilang bahwa dia sudah terlanjur berjanji dengan temannya karena sebelumnya saya sudah menyatakan tidak jadi berangkat ke Bandung.

Kemudian saya berfikir hendak ke Surabaya, saya cek tiket sepertinya harganya masih tidak terlalu mahal, tetapi saya masih bingung dengan proses keberangkatan pesawat yang harus menyertakan bukti rapid test.

Saya bertanya ke teman saya yang kemarin terbang ke Surabaya bagaimana proses check in dan sebagainya terkait covid, apakah saat pulangnya juga harus test rapid lagi, temen saya bilang tidak perlu karena cukup hasil pertama dan hasil rapid test berlaku selama 14 hari ke depan.

Setelah mendapat penjelasan tersebut, tiba2 teman saya tersebut mengajak saya untuk ke Bali, dan saya cek tiketnya tidak terlalu mahal dengan kondisi seperti sekarang, saya minta kepastian lagi ke teman saya apakah yakin saya boleh ikutan ke Bali, dan dijawab yakin sekali.

Dan akhirnya pun saya ke Bali, Rabu pagi disela kegiatan meeting online di rumah, saya mencari tiket penerbangan ke Bali, setelah waktu dan harga sudah seusai, saat jam istirahat saya melakukan rapid test di Kimia Farma yang tidak jauh dari rumah, dan semuanya siap.
Kamis siang sudah hari pertama long weekend, saya sudah berangkat ke bandara, antisipasi penumpang yang penuh dengan antrian saat proses check in seperti yang sudah pernah saya lihat di berita-berita. Perjalanan ke bandara sangat lancar dan rupanya bandara pun sepi dari pengunjung dan calon penumpang, padahal saat itu adalah saatnya long weekend, namun karena kondisi covid dan penerbangan ke domestic masih terbatas dan le luar negeri pun masih belum dibuka, kondisinya sangat kontras dengan saat sebelum corona menyerang.

Dan saya pun terlalu awal tiba di bandara, masih sekitar 4 jam lagi untuk boarding, mau menunggu dimana? Saya cari lounge yang biasa saya singgah sebelum terbang rupanya masih tutup, mau keliling juga malas karena suasana sepi dan banyak toko yang masih tutup, dan akhirnya saya hanya duduk mendengarkan music selama itu sampai boarding time tiba.

Dan waktu boarding pun tiba, satu per satu semua penumpang naik masuk ke pesawat, di pintu pengecekan tiket, petugas membagikan face shield ke para penumpang sebagai bagian dari protokol kesehatan pencegahan virus corona.

Tiba di Ngurah Raii airport saya segera menuju pintu keluar untuk segera mencari ojek oniine menuju penginapan, tetap dilalah mendapat kabar baik, teman saya bersama temannya menjemput saya di bandara karena kebetulan saat itu mereka berada tidak jauh dari bandara, dan tibalah saya di penginapan yang sama saat saya mengiikuti Bali Marathon 2019 lalu.

Sesampai di penginapan, kami mengobrol sebentar, kemudian mematangkan agenda kegiatan kami selama di Bali, kami beristirahat.

Jumat pagi jam 6 kami sudah bersiap di depan hotel sekaligus check out, karena pagi itu kami akan menyeberang ke Pulau Nusa Penida untuk melakukan perjalanan selama dua hari disana.

Kapal penumpang yang menuju ke Nusa Penida berada di Kawasan Pantai Sanur, pagi itu sudah ramai sekali orang yang hendak menyeberang. btw kapal kami akan berangkat pukul 07:30 WITA, namun agak sedikit terlambat menjadi pukul 08:00. Kapal yang kami pesan saat itu adalah Maruti Express Fast Boat, tiket seharga Rp. 85.000.- per orang melalui agen perjalanan, namun rupanya harganya lebih murah Rp 75.000 jika kita membeli langsung di loket keberangkatan.



Suasana di pelabuhan penyeberangan sudah ramai, jadwal penyeberangan selama masa pandemic saat itu berkurang banyak yang biasanya bisa 4-5 kali dalam satu hari, menjadi hanya 2 kali penyeberangan dalam satu hari, pagi dan sore.

Sambil menunggu keberangkatan, saya mengamati keadaan sekitar, membayangkan bagaimana riuhnya calon penumpang yang akan menuju Nusa Penida disaat long weekend dan kondisi normal.

Tepat jam 8 kami pun berangkat menyeberang ke Nusa Penida, Alhamdulillah selama perjalanan laut tenang dan saya memanfaatkan waktu tersebut untuk melanjutkan tidur pagi sampai tiba di Nusa Penida.

Tidak lama kemudian kami sudah tiba di Nusa Penida, segera kami menyewa motor untuk perjalanan selama dua hari, bagi traveler yang belum mempunyai kendaraan, terutama sepeda motor, jangan khawatir, di pelabuhan banyak penduduk local yang menawarkan sepeda motornya untuk disewa, kita perlu melakukan negosiasi untuk mendapatkan harga sewa yang seusai dengan lama hari dan kondisi motor yang kita sewa, hari itu kami mendapatakan motor yang kami sewa, setelah negosiasi dengan pemiliknya, disepakati harga yang sesuai.

Perjalanan pertama kami adalah penginapan yang sudah dipesan oleh teman saya melalui situs penginapan, nama penginapannya adalah Sunny Point Penida, dari foto kamarnya menarik dan setiba kami disana suasana kamar sesuai dengan yang digambarkan oleh pemilik dan tentunya juga suasana sekitar penginapan. Kami pun beristirahat sebentar, menyimpan barang bawaan dan membawa barang seperlunya untuk menikmati hari pertama di Nusa Penida.

Sesuai kesepakatan, saya mengikuti itinerary teman yang sudah dibuat dan kebetulan dia sudah pernah kesini beberapa tahun yang lalu, jadi biar teman saya yang menjadi navigator perjalanan dan saya yang mengendarai motor.

Siang ini kami akan mengunjungi tiga tempat sekaligus, dimana bebebrapa lokasi diantaranya berada dalam satu lokasi yang berdekatan..

Lokasi pertama adalah : Diamond Beach dan Atuh Beach, pemandangananya wow, indah sekali, kemudian segera kami ber-foto2 sambil menikmati keindahan panorama yang ditawarkan, untuk bisa lebih menikmati eksplorasi kami juga turun ke bawah tebing menuju pantai yang sangat indah dengan butiran pasirnya yang putih dan halus.



Panas terik mulai menyengat, namun tidak menyurutkan semangat kami untuk menikmati keindahan pemandangan disana.

Perjalanan turun ke bawah cukup terjal, namun di Diamond Beach sudah lumayan terbentuk jalurnya sehingga mudah untuk dilalui, bagi yang takut akan ketinggian, disarankan untuk ber-hati2 saat menuruni tebing.

Tanpa terasa kulit kami mulai gosonk, namun tidak kami hiraukan.

Sesampai dibawah, pantainya benar2 indah, tampak beberapa traveler mencoba menguji adrenalin dengan menaiki ayunan tinggi yang dibawahnya langsung menuju laut.

Kami menikmati pantai dengan membuat beberapa video dan foto2 dengan latar belakang deburan air laut Diamond Beach.




Selesai dari Diamond beach, selanjutnya Atuh Beach, kondisinya sama dengan Diamond Beach, kita harus menuruni tebing yang terjal tapi dengan jalur yang sudah diata rapi, namun tetap ber-hati2, melihat dari atas saja sudah sangat menyenangkan, apalagi jika turun ke bawah, dan kami pun turun ke bawah untuk menikmati Atuh beach langsung, warna garis pantainya mengingatkan saya akan wallpaper di iPhone seri 7.



Untuk masuk kedua lokasi ini, tidak ada tiket masuk yang harus dibayar, hanya kesediaan pengunjung untuk memberi sumbangan sekedarnya tanpa ada batasan minimal.

Setelah itu kami menuju Kawasan Bukit Teletubies yang katanya mirip dengan bukit2 yang adai di serial teletubies, namun buat saya biasa saja, hanya gundukan beberapa bukit yang agak mirip dengan yang ada di serial teletubis, oke lah.





Komentar

  1. Wahhh, luar biasa baru tau ternyata anda jago nulis juga. 👍👍👍👍 Teruskan

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari