Senin, 22 Juli 2019

Solo Traveling Eropa Balkan - Sarajevo, Bosnia Herzegovina


Lanjutan dari Beograd, Serbia ... 

Sekitar jam 7 pagi, saya sudah berada di Central Bus Station Beograd di seberang penginapan saya, bus akan berangkat ke Sarajevo pukul 8 pagi, lama perjalanan sekitar 7-8 jam perjalanan, sebelumnya kemarin sore saya sudah menanyakan lokasi bus yang akan berangkat ke Sarajevo untuk menghindari kebingunan besoknya.

Setelah menyiapkan bekal sarapan, sambil menunggu bus datang, saya menukarkan sisa uang Dinar saya menjadi Euro karena saya tidak menggunakan uang Dinar lagi, tidak lama setelah itu jam sudah menunjukkan pukul 7:45, saatnya saya masuk ke dalam peron, saya perhatikan setiap orang yang akan masuk ke dalam peron membayar dengan koin yang saya perhatikan tidak jauh berbeda warna dan bentuknya dengan uang logam Dinar senilai 50, dengan santai saya masuk ke peron dan menyerahkan uang logam ke petugas, namun tidak lama petugas melihat uang logam yang saya berikan berbeda, saya minta dimana perbedaannya, petugas tersebut menunjukan uang logam yang dimaksud, barulah saya mengerti bahwa untuk masuk ke dalam peron adalah orang yang benar2 membeli tiket, saat membeli tiket, petugas tiket akan memberikan coin uang logam tadi untuk diberikan kepada petugas tersebut, saya tidak mempunyai coin tersebut karena saya membeli tiket secara online, saya menanyakan ke petugas dimana saya harus mendapatkan coin tersebut, ditunjukkan oleh petugas lokasinya dan segera saya membeli coin tersebut yang harganya sekitar 130 Dinar, lebih mahal dari uang logam yang tadi saya kira, terpaksa saya kembali menukarkan uang Euro saya untuk ditukarkan dengan Uang Dinar karena mereka tidak menerima transaksi dengan Euro, karena terburu2 bus akan segera berangkat, karena bus di eropa semuanya on time, saya tidak sempat lagi menukarkan sisa uang dinar ke Euro. Saatnya berangkat ……..

Perjalanan darat dari Serbia ke Bosnia, kita akan melewati dua pos imigrasi, saat tiba di pos imigrasi Serbia, petugas imigrasi akan naik ke atas dan mengambil satu per satu paspor penumpang sambil melakukan pengecekan jumlah penumpang, setelah selesai, paspor dikembalikan lalu kami melanjutkan perjalanan menuju Bosnia.

Saat tiba di Pos Imigrasi Bosnia yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Pos Imgrasi Serbia, petugas kembali masuk ke dalam bus dan mengambil paspor masing2 penumpang dan dikembalikan setelahnya.

Proses di kedua pos imigrasi tidak memakan waktu terlalu banyak, kecuali ada penumpang yang oleh petugas masih diperlukan informasi lebih banyak dan itu biasanya akan memakan waktu lebih lama.

Selama perjalanan bus hanya sekali berhenti di rumah makan, karena sopir dan keneknya hendak sarapan, sepertinya tempat ini adalah tempat singgah bus2, namun karena masih pagi dan kebetulan penumpang tidak terlalu banyak, dan sepertinya penumpang sudah menyiapkan bekal sarapan masing2, bus kembali melanjutkan perjalanan. Sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan yang sangat menakjubkan, persis seperti jika kita melihat di film2, terutama selepas dari Pos Imigrasi Bosnia, benar2 memanjakan mata, rumah2 dengan cerobong asap, sungai yang jernih, bukit2 yang hijau, udara yang sejuk dan segar.




Setelah melewati perjalanan sekitar 7 jam, tibalah di Kota Sarajevo, dari atas sudah terlihat dengan jelas keindahan Kota Sarajevo yang berada di lembah diantara dua bukit, pemandangan sungguh memikat jika kita melihat dari atas, tidak salah jika pada masa perang Bosnia kemarin, Kota Sarajevo menjadi sasaran empuk serangan dari tentara Serbia, karena jika Sarajevo sudah terkepung, mereka tidak bisa kemana2, namun keajaiban Allah tetap saja ada.

Bus saya berhenti di Centrino Bus Station, Sarajevo, berada pinggir kota Sarajevo, sebenarnya ada satu lagi Central Bus Station yang berada di tengah kota, tetapi sepertinya bus yang dari Serbia semua berhenti di Centrino Bus Station ini.

Sebelum berangkat ke Eropa, saya sebelumnya sudah membaca artikel tentang Bosnia, terutama penggunaan mata uang, informasi yang saya dapat jika saya turun di Centrino Bus Station, terdapat tempat penukaran uang yang berada di dalam mall yang terletak tidak jauh dari setasiun bus, saya ikuti petunjuknya namun ternyata disana tidak ada tempat penukaran uang, baik konter money changer ataupun mesin semacam ATM yang saya temui saat tiba di Bandara Beograd Serbia.

Saya coba bertanya ke penduduk local disekitar mall tetapi mereka tidak mengetahuinya, lalu saya coba kembali jalan ke setasiun, ada toko roti, fikir saya nanti saya bisa beli makan disana sekalian menukarkan uang Euro saya ke dalam Mark Bosnia, namun ternyata penjualnya memberitahu jika mereka tidak meneima pembayaran dengan mata uang selain Mark, saya tanyakan dimana letak money changer, dia bilang ada di mall besar sebelah setasiun, saya coba ke mall tersebut meski harus berjalan ratusan meter, namun sesampai disana lagi2 saya tidak menemukan money changer/ATM, kebetulan ada seorang anak muda dengan ibunya, dan saya bertanya ke mereka, mereka bisa berbahasa inggris dengan baik, dan menunjukan lokasi bank terdekat tempat dimana saya bisa menukarkan uang Euro saya.

Segera saya menuju bank tersebut dan Alhamdulillah saya akhirnya bisa mendapatkan mata uang Mark Bosnia dan segera kembali ke setasiun dimana saya menitipkan koper kecil saya di toko roti tadi. nilai tukar mata uang Mark Bosnia terhadap Rupiah saat itu adalah 1 Mark Bosnia senilai Rp 8.200,-

Setelah selesai makan, saya beranjak ke halte bus terdekat untuk naik bus menuju penginapan saya di daerah kota tua Sarajevo, Bascarcija. Naik bus nomor 1, turun di Austrija Square, dari situ saya berjalan kaki melewati Jembatan legendaris Latinka Birdge, lalu sekitar 10 menit kemudian sampai di Vensa Hostel yang sudah saya pesan melalui booking.com. sepanjang jalan dari halte menuju lokasi penginapan, saya melewati kawasan pemukiman penduduk yang kebanyakan tinggal di apartemen, dan nampak beberapa tembok apartemen banyak yang rusak oleh terjangan peluru saat perang Bosnia kemarin dan tetap dibiarkan begitu menjadi saksi sejarah.




Vensa Hostel terletak di pinggir jalan yang sempit namun, ramai, dilalui banyak kendaraan dan juga trem, saya pencet tombol pemberitahuan, namun ternyata tidak berfungsi, saya coba cek pintunya juga digembok rapat dan terlihat seperti lama tidak dibuka, saya coba jalan sekeliling namun tetap juga tidak ketemu pintu masuk.

Saya ke penginapan sebelah, kebetulan ada staff disana, saya beritahu ke dia jika saya kesulitan akses ke hostel Vensa, staff tersebut mencoba membantu namun dia juga tdk menemukan akses masuk, saya diajak masuk ke penginapannya dan mencoba bantu menelepon staff hostel Vensa, namun penjelasan dia terdapat masalah pada komunikasi dan internet sehingga pihak vensa hostel tdk dpt memberi informasi, saya ditawari oleh staff tersebut untuk menginap di penginapannya dan saya cek kamarnya lumayan bagus karena kebetulan penginapan yang belum lama dibuka, semua masih bau barang baru, setelah negosiasi mengenai harga akhirnya saya sepakat untuk menginap disitu, daripada saya mencari penginapan lain yang belum tentu didapat dan sesuai harganya. Namanya Passenger Guest House, terletak persis di sebelah Hostel Vensa yang sampai sekarang saya masih bingung kenapa akses masuknya tidak dapat diketahui.

Selesai beres2, kebetulan hari masih terang, dan saya manfaatkan untuk berjalan2 sebentar disekitar penginapan, pertama sekali saya kembali ke Latinka Bridge yang saya bilang legendaris, Latinka Birdge ini merupakan tempat terjadinya pembunuhan keluarga ningrat Frans Ferdinand dan istrinya dari Serbia yang menjadi pemicu terjadinya Perang Dunia I, karena pembunuhan tersebut ber-efek pada hubungan diplomatic negara2 terkait dan meluas sampai negara2 sekutu masing2. Pemandangan disekitar jembatan tersebut juga sangat indah, terutama di sore hari.





Dari situ saya juga melihat Gedung Parlement, beberapa gedung bersejarah dan nampak dari kejauhan seperti nampak bangunan seperti istana atau puri, namun hancur bagian atapnya, menurut penjelasan bangunan tersebut rusak akibat bom dan tetap dibiarkan demikian sebagai bagian dari saksi bisu sejarah menyedihkan pembantaian muslim Bosnia oleh tentara Serbia.

Memutar balik, saya sudah sampai di kawasan Kota Tua Bascarsija yang terkenal dengan Sebilj, seperti monument tapi menurut penjelasan dulunya adalah sebagai tempat mengambil air bagi pedagang atau orang yang lewat disekitar situ, karena dulunya kawasan tersebut adalah kawasan perniagaan pada masa Kesultanan Ottoman.







Saya keliling sebentar kawasan itu sambil mencari informasi tour yang banyak berdiri café dan coffe shop serta penjual souvenir aneka ragam, selanjutnya saya sempatkan shalat maghrib jamak dengan isya di Mesjid Gazi Husrev-beg sebelum saya kembali ke penginapan karena hari sudah gelap dan angin kencang semakin menambah dingin cuaca awal musim semi.

Besok paginya setelah sarapan, saya menuju Sarajevo Central Bus station untuk memastikan keberangkatan bus saya besok hari, dari Sebilj saya naik Trem nomor 3A untuk turun di Central Bus Station, dengan tiket pergi seharga 1.6 Mark atau sekitar Rp. 12.000-an, dekat Central Bus juga ada Train Station dan berdiri Avaz Twist Tower yang katanya bisa naik ke anjungan untuk melihat pemandangan Kota Sarajevo dari atas, namun ketika saya sudah di depan gedung ada rasa seperti enggan naik keatas melihat tidak banyak aktivitas orang disana selain aktivitas orang bekerja dengan pakaian kerja kantoran.



Dan akhirnya saya urungkan naik ke atas, saya melanjutkan perjalanan jalan kaki dari sana menuju National Museum of Bosnia yang berjarak sekitar 500 meter, tiket masuk seharga 8 Mark, kita diajak melihat sejarah Bosnia, namun saat didalam isinya tidak jauh berbeda dengan Museum of Acrapolis di Athena yang berisi potongan2an patung atau batu dan informasi sejarah jaman lampau, yang tadinya ekspektasi saya berisi sejarah kerajaan Bosnia dimasa lalu.

Tidak lama saya disitu lalu saya berjalan-jalan disekitar kawasan sana yang merupakan pusat kota Sarajevo, terdapat Kedutaan Besar Amerika, dan beberapa bangunan berarsitektur indah lainnya. Saya kembali ke penginapan sebentar mengambil jaket, cuaca cerah namun udara masih dingin membuat saya yang sudah memakai kemeja berbahan flannel dan kaos dalam tetap merasa kedinginan.

Makan siang saya kembali dengan Kebab,namun kali ini Kebab-nya lebih berasa nikmat, harga terjangkau dan ukuran cukup besar, cukup untuk membuat kenyang perut saya saat itu.

Selesai makan siang, saya mengunjungi Museum Of Crimes Against Humanity and Genocide 1992-1995, loaksinya masih di kawasan Kota Tua Sarajevo, tiket masuk seharga 10 Mark, museum ini menyajikan peristiwa sejarah berdarah perang Bosnia, terutama pembantaian mengerikan dan upaya penghapusan etnis Muslim Bosnia oleh tentara Serbia, foto2, cerita2 baik dalam bentuk tulisan atau video, bukti2 berupa pakaian2 dan barang2 terakhir milik korban disajikan secara rapih, saya baca satu per satu cerita terakhir para korban lengkap dengan pakaian yang dikenakan saat ditemukan, memorabilia dan sebagainya, selain itu juga kita akan melihat berbagai bentuk alat penyiksaan dan diceritakan bagaimana bentuk penyiksaan yang dilakukan pada saat itu, tidak dapat dibayangkan bagaimana semua ini bisa terjadi di zaman yang sudah modern.










Selesai dari Museum, saya berencana naik ke Yellow Bastion yang ada di seberang Sebilj, dari tempat saya naik Trem, saya berjalan lurus dan jalannya naik secara perlahan, tidak jauh saya sudah sampai di pemakaman umum tempat para korban perang Bosnia di makamkan, di atas pemakaman itulah lokasi Yellow Bastion, dan akhirnya saya berhasil naik keatas dan melihat pemandangan Kota Sarajevo yang indah dari atas ketinggian. Di tengah pemakaman juga terdapat Makam Presiden Pertama Bosnia Herzegovina, pemakaman disini semuanya bernuansa warna putih dengan penataan yang sangat rapi dan terawat dengan baik, saya perhatikan satu per satu secara random, rata2 yang dimakamkan disini adalah korban perang Bosnia “gelombang” pertama tahun 1992.



Pemandangan dari atas benteng sangat indah, karena musim semi, langit sangat cerah dan udara sangat bersih sehingga pemandangan sangat luas terlihat. Sambil melihat2 dan mengambil foto, tiba2 ada suara yang menawarkan saya untuk diambil fotonya dengan latar belakang Kota Sarajevo, dengan senang hati saya terima tawarannya dan banyaklah foto2 saya tercipta di atas benteng. Kami berkenalan, seorang anak muda dari Russia, usianya masih sangat muda, 18 tahun atau setara dengan kelas Tiga SMU kalau di Indonesia, namanya Konstanin Kezin, dan dia cukup dipanggil Kezin yang akhirnya menjadi teman perjalanan saya selama berkeliling Kota Sarajevo, kami menyusuri sudut Kota Tua dan lokasi lainnya sambil bertukar cerita.











Tidak terasa akhirnya matahari mulai tenggelam, kami berpisah di Latinka Bridge karena Kezin akan melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Beograd dari Centrino Bus Station tempat saya pertama tiba kemarin di Sarajevo dan saya pun kembali ke penginapan untuk istirahat dan sempatkan untuk shalat maghrib dan isya plus membeli makan malam dan sarapan untuk besok pagi.


Perjalanan di Sarajevo yang singkat yang sebenarnya masih ingin saya rasakan sehari lagi harus berakhir, besok paginya saya akan melanjutkan perjalanan ke Kota Kotor Dubrovnik, Croatia ….
 

 
 
 
 
 
 

2 komentar:

  1. Waduh...serem ya yang di Museum Genocide..

    BalasHapus
    Balasan
    1. nggak serem, hanya menyedihkan karena tragedi kemanusiaan masih terjadi di zaman modern spt skrg

      Hapus

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...