Selasa, 23 Juli 2019

Solo Traveling Eropa Balkan - Pristina, Kosovo

Lanjutan dari Tirana, Albania ...


Pagi ini seusai jadwal saya akan berangkat ke Kota Prishtina di Negara Kosovo, saya sudah menunggu di agent bus yang kemarin, rupanya disana sudah ada beberapa penumpang yang juga menunggu, bus agak terlambat datang dan begitu datang tiba2 langsung saja penumpang yang akan naik mendadak banyak jumlahnya, indicator rebutan nih, segera saja saya mendekat dan langsung naik plus duduk di seat favorite.

Sementara penumpang lain yang didominasi ibu2 rempong yang mengisi hampir sebagain besar bus yang nampaknya mereka rombongan emak2 arisan yang berisik sekali sambil mengatur2 tempat duduk, dan imbasnya saya terkena usiran pindah tempat duduk, karena tidak mengerti bahasa mereka sementara sopir dan kenek juga spt tidak mau ambil pusing, terpaksa saya mengalah dan berusaha mencari tempat duduk yang lain yang rupanya sudah di-booking oleh mereka, menyebalkan sekali.

Sampai akhirnya saya berhasil juga mendapatkan tempat duduk disebelah bapak2 yang nampaknya juga turis, dan tidak terkena gangguin ibu2 rempong tersebut, sempat terjadi adu mulut antara rombongan ibu2 itu dengan salah satu penumpang ibu2 lain bukan rombongan mereka yang sepertinya complain dengan cara mereka yang atur2 tempat duduk sesuka hatinya, dan bahkan ada beberapa penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, beberapa anak muda yang tidak kebagian tempat duduk terpaksa duduk di dekat sopir beralaskan semacam sajadah tipis, sementara penumpang lain terpaksa diminta untuk turun karena bus sudah benar2 full.

Setelah semuanya kebagian tempat duduk, bus akhirnya berjalan, sepanjang jalan kebisingan suara ibu2 yang berteriak2 bercerita dan sangat mengganggu sekali, terpaksa sepanjang jalan saya pasang headset demi meminimalisir polusi suara.

Perjalanan memakan waktu sekitar 5 jam, sempat berhenti sebentar di rumah makan untuk sarapan dan pos imigrasi lintas batas antar negara Albania dan Kosovo.

Tiba di Terminal Bus Prishtine, saat di Kota Kotor, pihak penginapan yang saya pesan Prishtina Center Hostel memberitahu cara menuju penginapan dari terminal bus, mereka memandu melalui video yutube yang dikiriman link ke melalui email saya. Saya pelajari jalurnya dan ketika sudah sampai terminal bus saya ikuti petunjuknya, tentunya juga dengan menggunakan peta offline yang saya bawa. Karena begitu excitingnya saya saat sudah tiba di Prishtine setelah “menikmati” keriuhan suasana di dalam bus selama perjalanan, saya langsung berjalan keluar sampai lupa kalau saya bawa koper yang tertinggal di dalam bus.

Berjalan kaki dari terminal bus menuju penginapan memakan waktu sekitar 30 menit, dan selama perjalanan saya akan melewati spot2 tempat yang ingin saya lihat selama di Prishtina antara lain Gereja Bunda Tereza, Bill Clinton corner dan sebagainya.



Singkat cerita tibalah saya di penginapan, disambut dengan ramah oleh pemilik penginapan, dijelaskan semua fasilitas penginapan dan fasilitas di penginapan ini selengkap dan sebaik penginapan di Kota Kotor Montenegro, namun harga per kamarnya jauh lebih murah, hanya 6.3 euro, dormitory isi 6 bed.


Karena hari masih pagi, namun mengingat perjalanan yang menyebalkan tadi, saya banyak istirahat di hostel sekalian menikmati suasana hostel yang nyaman, sebentar saya keluar mencari makanan dan minuman yang akan saya masak dan nikmati di hostel, sambil duduk2 di balkon, karena hostel saya ada di lantai 4, rupanya saat itu di pedestrian utama sedang baru saja selesai event Pristhine Half Marathon, waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 1 lebih namun saya perhatikan masih banyak pelari yang baru menyelesaikan lombanya, saya Tanya ke staff hostel, jam berapa start lari dimulai, dia bilang jam 10 pagi baru dimulai, wow ….. siang sekali dalam hati, tidak dibayangkan jika jam segitu baru dilakukan di Indonesia, matahari sudah sangat tinggi dan udara sudah sangat panas, sementara jam 10 waktu Kosovo itu masih pagi sekali, matahari belum tinggi, udara masih dingin, jadi masih sangat layak utk memulai lomba jam 10.

Selesai masak, makan dan istirahat, saya coba explore kota Prishtine yang kecil ini, seperti kota2 di Eropa Balkan yang sudah saya kunjungi sebelumnya, terdapat semacam jalur pejalan kaki yang di kiri dan kanannya adalah toko2, café dan restaurant yang mejanya sampe ditempatkan diluar, karena memang musm spring ini udara sangat sejuk, sangat nikmat jika ingin menikmati sinar matahari tanpa harus merasa kepanasan.

Jalur pejalan kaki ini panjang, munkin hampir sekita 1 KM panjangnya, dan tempat yang pertama kali saya lihat adalah Patung Bunda Teresa yang berada persis disebelah penginapan saya, setelah itu saya menyeberang jalan untuk melihat Monumen NewBorn, yang oleh masyarakat Pristine dan Kosovo sebagai symbol kelahiran kembali Kosovo sebagai negara yang berdaulat, yang diperingati setiap tanggal 17 Februari, sebagai Hari Kemerdekaan Negara Kosovo.






Sebelum sampai di NewBorn saya sempatkan melihat Monumen Penghormatan terhadap Wanita Albania yang menderita selama perang Kosovo yang ingin memisahkan diri dari Serbia tahun 1998-1999.

Selanjutnya saya ke arah Gereja Bunda Tereza untuk melihat lebih detail interior gereja di dalamnya. Gereja ini sengaja dibangun sebagai penghormatan kepada Bunda Tereza yang asli Albania yang mendedikasikan hiudpnya untuk melayani orang miskin di India. Tower gereja rupanya bisa kita naiki sampai atas, dengan membayar 2 euro, petugas akan membukakan pintu lift utk bisa naik ke atas, dari atas kita bisa melihat pemandangan Kota Pristhine keseluruhan, kotanya memang kecil, tidak banyak bangunan tinggi yang berdiri disana.














Selesai melihat2 Gereja Bunda Tereza, saya melewati Universitas Kosovo yang mempunyai aristektur bangunan yang unik, selanjutnya saya berjalan kembali ke arah hotel, kali ini hendak menuju kawasan Kota Tua bekas pemukiman di masa Ottoman, tapi saya belum melakukan eksplorasi disana, tapi langsung menuju masjid menunggu waktu maghrib tiba sekalian shalat isya, udara yang semakin dingin, angin yang semakin kencang, rasa enggan sekali menyentuh air untuk berwudhu, namun harus saya paksakan karena memang harus berwudhu.


Selesai shalat, saya bergegas kembali ke penginapan karena saya tidak membawa jaket, membuat badan agak menggigil karena dinginnya udara malam musim semi.


Esok paginya, merupakan hari terakhir perjalanan saya di Kota Prishtine, hari ini saya lebih banyak ber-malas2an di penginapan, menikmati sarapan sampai makan siang di penginapan, tapi sebelum saya menutup perjalanan saya di Prishtine, saya kembali ke Kawasan Kota Tua yg kmrn saya lewati, rupanya jika pagi hari aktivitas sangat ramai, suasana pasar dengan segala bentuk kesederhanaannya, mengingatkan saya akan suasana pasar di sebuah kota kecil di Indonesia, mereka menggelar barang dagangan dalam kotak2 yang disusun sedemikian rupa, bedanya dengan di Indonesia, pasar di Pristhine ini, meskipun suasana jauh dari kata modern, namun kebersihan dan kenyamanan sangat terjaga, beda dengan di Indonesia, pasar tradisional yang terkesan bau busuk, becek dan kotor sehingga orang malas untuk datang kecuali terpaksa.

Saya amati kegiatan aktivitas mereka, ada yg menjual aneka sayuran, ikan, pernak-pernik kebutuhan rumah tangga dan beberapa yang menjual souvenir atau kerajinan khas Suku Albania yang merupakan etnis mayoritas di Kosovo.





Selesai dari situ saya nikmati suasana di sebuah taman kecil didekatnya, banyak orang2 tua duduk2 sambil menikmati pagi, orang2 yang berlalu lalang menuju ke tempat aktivitas masing2, kebiasan berjalan kaki di sini, di Eropa pada umumnya sangat tercipta dengan baik sehingga tidak salah kalau gaya hidup mereka terlihat lebih sehat, tua muda, laki perempuan atau anak2 semuanya sangat menikmati berjalan kaki.





Sekedar informasi, dari artikel yang saya dapatkan di internet, Kosovo awalnya merupakan sebuah propinsi otonom dari negara Serbia, namun entah karena didasarkan sejarah masa lalu, Kosovo di awal tahun 2000-an berusaha memisahkan diri dari Serbia, ada perlawanan dimasa itu sehingga terjadi peperangan antara Kosovo dan Serbia, Amerika Serikat membantu Kosovo untuk memerdekakan diri dari Serbia dan sekaligus sebagai negara pertama yang mengakui kedaulatan negara Kosovo, itulah sebabnya ada pojok Bill Clinton di Kota Pristhine sebagai bentuk penghormatan kepadanya sebagai presiden/kepala negara yang pertama mengakui Kosovo. Indonesia sampai saat ini masih belum mengakui kedaulatan negara Kososvo, mungkin “tidak enak hati”dengan negara Serbia yang notabene pernah menjadi induk dari negara Yugoslavia yang dimasa Non Blok menjadi sahabat negara Indonesia dengan India.

Sisa hari saya nikmati di kamar sambil berselancar di dunia maya sambil menunggu keberangkatan saya ke Pristhina Airport menuju Athena.

Dengan menggunakan taxi, karena tidak ada alat transportasi lain, pukul 18:30 saya sudan berada di Airport, bandara kecil namun bersih, penerbangan saya pukul 20:30 ke Athena, namun transit terlebih dahulu selama 2 jam di Istanbul karena kebetulan menggunakan Turkish Airline.

semua jadwal perjalanan sesuai waktu, hanya ada delay sekitar 1 jam, namun tidak terlalu berpenguh karena sampai di Athena tetap dini hari.

Pukul 4 dini hari saya sudah tiba kembali di Athena Airport, sementara jam penerbangan saya kembali ke Jakarta sekita pukul 11:30, terpaksa saya menunggu di Aiport, untungnya airportnya lumayan nyaman, ada tempat makan yg buka 24 jam sehingga saya bisa menumpang memejamkan mata sebentar disana.

Tiba waktunya jam 11:30 penerbangan saya ke Jakarta, jam 2:30 esok harinya tiba di Singapura untuk transit, dan jam 9 pagi Alhamdulillah akhirnya saya tiba kembali di tanah air Indonesia, total hampir selama 24 jam saya tidak mandi, badan belum terasa lengket karena saya masih di daerah/negara beriklim dingin, namun ketika sudah sampai di Jakarta, cuaca panas bikin gerah langsung membuat kulit di badan terasa lengket, segera saya mencari tempat mandi yang bisa digunakan untuk umum, sebelumnya saya sudah mencari lokasinya yang terpecncil di kawasan bandara, setidaknya saya membersihkan badan saya dan menghilankan lengket di badan sehingga bisa kembali aktivitas dengan fresh.

Dengan demikian berakhirlah sudah perjalanan keliling negara Eropa Balkan saya.
 

 
 
 
 
 
 
 
 
 

2 komentar:

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...