Senin, 22 Juli 2019

Solo Traveling Eropa Balkan - Beograd, Serbia


Lanjutan dari Athena .... 

Tanggal 20 April, hari sabtu pagi saya sudah check out dan karena sudah tidak ada lagi hal yang ingin dilihat di Athena, saya segera menuju airport, menggunakan MRT dari Monastiraki station langsung menuju bandara, tarif kereta tetap 10 euro dari dan ke bandara.

Sebelumnya saya sudah melakukan web-check in sehingga saat di bandara saya tinggal menunjukan bukti check in online saya di iPhone, dan ternyata saya tidak perlu cetak bukti check in saya lagi, tapi cukup dengan melakukan scan barcode yang ada di bukti check in saya. Konsep paperless check in  online benar2 terjadi, tidak seperti di negeri kita yang bukti check in online tetap harus dicetak ulang. Saat melakukan pelaporan check in, saya amati hanya saya satu-satunya penumpang berwajah asia di dalam penerbangan saya ini, semuanya wajah eropa.

Jadwal terbang seharusnya jam 14:35 waktu Athena, namun ternyata delay ke jam 17:00 dan tidak ada kompensasi apapun atas keterlambatan ini, saya sudah menanyakan kompensasi apa yang saya terima sebagai penumpang, namun ternyata petugas menyatakan tidak ada kompensasi atas keterlambatan ini, saya jadi bertanya pada diri sendiri apakah kompensasi keterlambatan ini hanya kebijakan yang ada di Indonesia atau berlaku di seluruh dunia. Dan saya perhatikan tidak ada satupun penumpang yang menanyakan kompensasi ini.

Akhirnya pesawat jadi terbang jam 17:00 dengan lama penerbangan sekitar 2 jam, seharusnya estimasi saya sudah tiba di Beograd jam 16:35 di jadwal semula, namun karena keterlambatan ini saya baru tiba di Beograd, Serbia pukul 18:00, waktu di Serbia 1 jam lebih lambat daripada Yunani. Saya sudah mengantisipasi dan melakukan estimasi jika tiba di Beograd hari masih terang dan masih cukup waktu buat saya mencari penginapan di tengah kota Beograd.

Sesaat keluar dari pintu pesawat dan hendak menuju pintu gerbang masuk ke imigrasi, terdapat pengecekan paspor oleh pihak otoritas bandara, setiap penumpang dicek satu per satu paspor mereka termasuk saya, entah kenapa mereka melakukan pengecekan seperti itu. Saat tiba giliran saya, petugas tersebut agak detail sekali memperhatikan paspor saya sampai2 petugas tersebut menggunakan kaca pembesar untuk memastikan bahwa paspor saya asli, karena kebetulan paspor saya baru perpanjangan dan belum banyak stempel imigrasi jadi mungkin jadi sedikit menarik perhatian petugas tersebut, dan mungkin juga karena saya satu2nya penumpang berwajah asia dan beberda postur dengan penumpang lain yang berwajah eropa, namun karena saya mengikuti semua aturan dengan benar, saya yakin tidak ada masalah, dan setelah beberapa saat barulah paspor saya dikembalikan ke saya dan saat melewati meja imigrasi, tidak ada masalah sedikitpun tentang paspor saya.

Sebelum melewati imigrasi dan setelah melewati petugas tadi, saya sempatkan menukarkan uang Euro saya ke dalam Dinar Serbia, saat itu nilai tukar 1 Dinar Serbia setara dengan Rp 136.-

Keluar dari bandara menuju kota, saya naik bus M1 yang standby persis disebelah pintu keluar kedatangan, tariff bus dari bandara ke kota sebesar 300 Dinar, penginapan saya terletak tidak jauh dari Central Bus Beograd, tinggal jalan kaki sekitar 10 menit akan tiba di penginapan saya berdasarkan petunjuk di map offline saya.

Saya sudah booking penginapan di Downtown Hostel, lokasinya sangat jelas, tetapi ketika saya mencoba mencari, awalnya saya salah masuk, karena tidak ada petunjuk penginapan dan di lokasi tersebut terdapat beberapa penginapan sejenis, satu lokasi yang saya anggap benar coba saya masuki, dengan memencet tombol suara, lalu di seberang sana dijawab oleh seorang bapak2 yang menanyakan saya berasal darimana, dan saya sebutkan negara saya, bapak tersebut lalu menyuruh saya masuk dengan sebelumnya membuka kunci pintu secara system, ketika pertama kali saya masuk ke dalam, langsung timbul keraguan akan lokasi penginapan saya, karena di dalam berupa bangunan kosong seperti bangunan tidak berpenghuni, karena bapak itu menyuruh saya naik ke lantai 2, dengan pikiran positive dan membaca doa, saya naik ke atas menemui bapak di balik pintu, dan langsung dibukakan pintu dan menyambut saya.

Bapak itu langsung menanyakan paspor saya, namun karena saya was-was tidak yakin dengan lokasi penginapan ini yang berupa bangunan tua, sepi dan seperti tidak terawat, saya menahan diri tidak menyerahkan paspor saya, saya mengkonfirmasi ke bapak tersebut dengan menunjukan bukti booking penginapan saya dari booking.com, semula bapak tersebut tidak menghiraukan bukti pemesanan penginapan saya, namun karena saya bersikeras akhirnya bapak itu memberitahu bahwa ini bukanlah penginapan yang saya pesan, lalu sambil minta maaf, saya segera keluar dari ruangan dan bapak tersebut mungkin agak kesal dan menutup pintu dengan setengah membanting.

Saya semakin was2 mengingat suasana bangunan, apalagi keadaan diluar sudah mulai gelap karena jam sudah menunjukan jam 19:00 lewat dan sebentar lagi matahari tenggelam, saya akan kesulitan menemukan penginapan saya.

Lalu saya coba lagi mengamati lokasi penginapan saya di peta offline, rupanya lokasinya masih beberapa meter lagi, saya coba ikuti petunjuknya, lagi2 saya dihadapkan dengan barisan bangunan tua dan kosong yang saya tidak yakin penginapan saya disitu, saya mencoba memutari komplek bangunan tersebut namun tidak nampak sedikitpun penanda penginapan saya, hari semakin gelap dan angin makin kencang, saya tetap berdoa dan berharap segera menemukan lokasi penginapan saya, saya mencoba menanyakan ke beberapa orang yang lewat namun mereka banyak yang tidak mengetahui keberadaan alamat yang saya maksud, sampai2 saya hampir salah masuk lagi tempat penginapan.

Akhirnya saya coba sekali lagi menanyakan ke seorang bapak yang hendak masuk ke mobilnya dan ketika membaca alamat penginapan saya, ditunjukkan olehnya lokasi bangunannya dan rupanya lokasi tersebut sudah saya lewati dua kali namun benar2 kita tidak menduga kalau lokasi tersebut adalah sebuah penginapan.

Segera setelah saya memastikan kebenaran alamat dan sesuai dengan tanda petunjuk penginapan yang sangat kecil yang orang lain tidak akan mengira jika itu adalah sebuah nama penginapan, karena bentuknya mirip dengan papan nomor rumah. Saya memencet tombol memberitahu kalau saya menginap disana, di seberang suara dijawab oleh seorang laki2 yang langsung mengkonfirmasi jika saya berasal dari Indonesia dan saya langsung mengiyakan, saya diminta menunggu sebentar diluar karena dia akan segera turun, Alhamdulillah akhirnya ketemu juga penginapannya.


Saat orang tersebut menemui saya, dia memberitahukan bahwa kamar yang sudah saya pesan sudah dipakai orang karena katanya saya tidak ada pemberitahuan apakah saya jadi datang atau tidak, saya sempat kaget namun akhirnya lega karena orang tersebut akan membantu saya mencarikan penginapan yang sesuai dengan harga yang saya pesan di booking.com.

Saya diantar olehnya ke penginapan di seberang blok, namanya Cuba Hostel, deskripsi kurang lebih sesuai dengan penginapan yang saya pesan, segera semuanya saya selesaikan, saya diantar oleh petugas ke kamar saya, kamar saya type dormitory isi 6 orang ranjang susun, saya ditempatkan diatas karena tempat tidur yang lain sudah terisi semua. Saya langsung disambut ramah oleh penghuni kamar dan berkenalan, rata2 mereka semua orang tua dari berbagai negara, ada yang dari Chez Republik, Ukraina dan Serbia sendiri, hanya yang dari Chez Repuiblik yang bisa berbahasa Inggris, sementara yang lainnya orang tua yang hanya mengerti Bahasa local mereka, namun demikian mereka tetap menyambut saya dengan ramah, sambil istirahat kami berbincang2 karena munkin mereka surprise bertemu dengan orang dari negara lain yang jauh dan berbeda postur dengannya, malam itu saya dapat beristirahat dengan nyaman, feels like home jadinya.




Esok harinya, saya mulai melakukan perjalanan sesuai dengan rencana, lokasi yang saya kunjungi adalah Benteng Kalemegdan, benteng ini rupanya bekas bangunan saat Kesultanan Ottoman, dan pernah menjadi benteng pertahanan perang juga, namun yang tersisa sekarang adalah berupa bangunan tembok benteng dan didalamnya berupa taman2 yang luas dan beberapa ruangan terbuka dijadikan tempat menyimpan kendaran bekas pertempuran dan beberapa dijadikan arena bermain, selebihnya menjadi ruang terbuka tempat orang beraktifitas, saat berada di ujung benteng, kita dihadapkan dengan pertemuan dua sungai yang airnya sangat bersih dan di sepanjang bantaran sungai dijadikan tempat lokasi restaurant terapung dan kita bisa menikmati dinner sambil berkeliling menyusuri sungai, menurut penjelasan staff hostel, wisata tersebut menjadi wisata yang paling terkenal di Serbia, tampak dari kejauhan jejeran perahu restaurant sedang parkir dan menambah keindahan pemandangan.




Dari atas benteng juga kita bisa melihat pemandangan Kota Beograd secara luas, tidak banyak bangunan tinggi di Beograd, hanya ada 2-3 banguann baru dengan arsitektur modern, selebihnya banguan tua dan tidak terlalu tinggi, dari kejauhan juga akan nampak Hotel Jugoslavia yang sangat terkenal. Keluar dari komplek benteng, diujung jalan berjejer penjual souvenir yang menjajakan aneka souvenir yang didominasi magnet dan gantungan kunci.










Keluar menyeberang jalan, kita akan bertemu dengan kawasan pedestrian yang sangat mengasyikkan dan sangat ramai oleh pejalan kaki, namanya Kneza Mihaila, panjang jalan ini saya perkirakan kurang lebih 1 KM panjangnya, di kiri kanannya berupa bangunagn dengan arsitektur yang sangat indah dipandang mata, kualitas jalan yang sangat bagus, deretan toko2 yang menjual aneka rupa, dan café-café yang menyediakan tempat duduk diluar ruangan, sangat menyenangkan dilihatnya. Tidak ada kendaraan sama sekali yang lewat disitu karena memang jalan ini dikhusukan untuk pejalan kaki, dari ujang jalan ke ujung jalan satunya, sementara lebar jalan sekitar 5 meter kurag lebih, benar2 sangat nyaman.





Disekitar situ juga kita bisa melihat kawasan Republic Square dengan patung Mihailo sebagai icon-nya.


Saya sempatkan shalat Duhur dan Ahsar di Masjid Bajrakli yang merupakan masjid peninggalan Kesultanan Ottoman, yang sejauh yang saya dapat, hanya inilah masjid satu-satunya yang ada di Beograd, entah munkin ada lokasi lain di daerah yang lain, namun dari map offline Kota Beograd yang saya unduh, hanya inilah masjid yang langsung ditemukan, lokasinya tidak terlalu jauh dari kawasan pedestrian dan benteng, disekitar situ juga saya sempatkan membeli makan siang saya. Saya nikmati siang sampai sore di Kneza Mihalia yang sangat nyaman.




Selesai di Kneza Mihalia, saya melanjutkan perjalanan saya melihat Gedung Parlement dan Gereja Orthodox yang tidak jauh lokasinya dari sana, saya kembali ke penginapan untuk beristirahat dengan catatan akan kembali menyusuri jalan melihat Gereja Ortodhox terbesar di Serbia. Namun ternyata tubuh saya sudah letih sekali dan butuh istirahat, saya tidak mau memaksakan diri karena perjalanan masih lama lagi ke beberapa negara.







Saat di penginapan, sebenarnya Orang Chez Republik menawarkan saya untuk menemani melihat Museum Joseph Bros Tito, Pahlawan pendiri negara Yugsolavia, doi sangat terkesan dengan Tito, apalagi saat saya menyebut nama Presiden Soekarno, dia seperti sumringah dan senang, dari penuturan ceritanya, dia sangat merindukan suasana saat Yugsolavia masih berdiri dimana semua negara Balkan masih bersatu dan menjadi negara yang kuat di kawasan eropa saat itu.



Namun tubuh saya perlu istirahat, akhirnya saya menyudahi perjalanan singkat saya di Beograd hari itu, karena besok paginya saya akan melakukan perjalanan ke Sarajevo, Bosnia Herzegovina.
 

 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Weekend ke Pasar Lok Baintan di Banjarmasin

Jantung saya berdebar dengan keras tatkala melihat penujuk waktu di tangan sudah menunjukan pukul 17:20 dan saya baru sampai di parkiran...