Jumat, 19 Juli 2019

Solo Traveling Eropa Balkan - Athena, Yunani (1)


Perjalanan Trip Eropa Balkan ini melintasi 6 negara pecahan Yugoslavia yang terdiri dari Serbia, Croatia, Bosnia, Montenegro, Albania dan Kosovo, karena untuk bisa masuk ke negara2 tersebut tanpa harus mengurus visa di tiap negara, saya mengambil visa Schengen type C multy entry melalui kedutaan besar Yunani di Jakarta, sehingga saya memulai perjalanan dari Athena.

Perjalanan dimulai dari Balikpapan tanggal 16 April 2019, saya ke Jakarta untuk memberikan hak suara saya dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden serta beberapa anggota legislative yang dilaksanakan secara serentak tanggal 17 April 2019.

Malam harinya, baru lah saya berangkat memulai perjalanan, dengan menggunakan penerbangan Scoot yang harus transit dulu di Singapura, selepas itu dari Singapura dilanjut ke Athena, penerbangan saat itu full penumpang yang didominasi orang2 berwajah eropa, sepertinya mereka yang sudah menyelesaikan perjalanan di asia dan hendak kembali ke negara masing2 atau memang penduduk yunani yang hendak pulang ke negaranya sendiri.

Perjalanan dari Jakarta pukul 8 malam dan tiba di Singapura pukul 11 malam, transit selama sekitar hampir 4 jam, barulah lanjut penerbangan selama hampir 12 jam ke Athena dan sampai di Athena pukul 10 pagi keesokan harinya, 1 jam lebih lambat karena memang keberangkatannya pun terlambat 1 jam dari jadwal semula.

Tiba di Bandara Athena, langsung menuju meja imigrasi, proses yang cepat tanpa ada pertanyaan, bahkan petugas memberikan ucapan welcome to Athens dengan senyuman, setelah itu saya menuju toilet untuk bersih2 dan berganti pakaian seperlunya, cuaca di Athena saat itu dingin dan berangin kencang, karena kebetulan masih musim peralihan dari musim dingin ke musim semi.

Saat hendak keluar dari imigrasi, seorang petugas bandara menanyakan paspor saya dan menanyakan berapa jumlah uang yang saya bawa, sepertinya ini adalah semacam random chek yang biasa dilakukan oleh mereka, seperti yang pernah saya alami saat tiba di Bandara Kansai Osaka Jepang.

Keluar dari bandara, sesuai petunjuk saya segera menuju stasiun MRT yang masih berada dalam satu komplek bandara untuk menuju pusat kota Athena, dari airport saya membeli tiket MRT seharga 10 euro menuju Monastiraki station, lama perjalanan sekitar 1 jam, di Athena saya menginap di daerah Monastiraki, yang merupakan salahsatu pusat keramaian di Athena yang bersebelahan dengan Syntagma, penginapan saya di Small World Funny Hostel, kamar dormitory isi 14 orang campur, seharga 14 euro per malam. Lokasi hotel benar2 berada di tengah keramaian, untuk menemukan lokasinya saya harus jeli mencarinya karena pentunjuk hotel tertulis kecil dan berada diantara toko2 dan kedai kopi, tapi Alhamdulillah saya segera menemukan lokasinya berbekal peta offline yang sudah saya unduh saat masih di tanah air.


Ada satu kejadian yang agak mengagetkan saya dan diluar perhitungan saya yang tidak saya ketahui sebelumnya, jika ternyata di Eropa penggunaan kartu kredit sudah harus menggunakan PIN untuk otorisasi, sementara saya terbiasa menggunakan tanda tangan untuk otorisasi setiap transaksi di Indonesia, yang semula saya hendak membayar penginapan dengan kartu kredit terpaksa saya membayar cash. dan setelah itu saya segera membuat perhitungan kembali tentang penggunaan uang selama traveling ini, mengingat uang yang saya bawa sepertinya pas sekali, khawatir malah kurang karena saya tidak punya akses untuk mengambil uang, kartu kredit harus menggunakan pin, sementara kartu debit ATM saya sudah beralih ke kartu GPN yang tidak bisa d lakukan transaksi di luar negeri.

Di Athena saya berencana tinggal selama 4 hari 3 malam, dengan perhitungan tgl 17 April saya sudah sampai dan tgl 20 saya sudah check out, karena saya tgl 17 masih di perjalanan dan tgl 20 pagi sudah harus check out, efektive saya hanya menikmati kota Athena selama 2 hari 2 malam, tapi buat saya itu cukup untuk explore kota Athena dengan daya Tarik wisata di Komplek Acropholis dan sekitarnya.


Tanggal 18 April saya tiba di penginapan sekitar jam 2 siang, setelah selesai check in, saya melihat-lihat suasana sekitar penginapan, lalu saya istirahat mengingat saya melakukan penerbangan yang panjang selama hampir 20 jam dengan pergantian waktu dan cuaca yang sangat jauh berbeda, untuk menjaga kondisi tubuh saya tetap fit dan sehat.

Esok paginya selesai sarapan saya mengunjungi bekas lokasi Olympiade pertama di dunia yang diselenggarakan di kota Athena, nama stadionnya adalah Panathenaic Stadium pada tahun 1860 yang menjadi cikal bakal olympiade modern sekarang.

Sebelum sampai di stadion, berbekal peta offline saya melihat Temple of Hadrian, bangunannya sekarang tinggal sebuah gapura/gerbang yang terletak di pinggir jalan yang tetap dirawat, diseberangnya terdapat Temple of Olympian Zeus yang bangunannya tinggal berupa pondasi dan beberapa tiang yang masih tegak berdiri yang berdiri di tengah taman yang cukup luas. Untuk masuk ke lokasi Temple Zeus, dikenakan tiket masuk sebesar 6 euro, saya tidak masuk ke dalam karena melihat dari luar sudah cukup bagus pemandangannya, karena memang tidak ada bangunan detail yang lain yang bias dilihat kecuali rangka konstruksi bangunan tsb.





Setelah dari dua lokasi tersebut barulah saya melihat Olympian stadium tadi, untuk stadium dan temple of Hardian tidak dipungut biaya.






Selesai dari ketiga lokasi tersebut saya mengunjungi Acropholis Museum yang lokasinya tidak jauh dari Olympian Zeus, cukup menyeberang jalan dan berjalan kaki selama 5-10 menit akan tiba di lokasi musem. Saat hendak memasuki museum, Nampak barisan antrian menuju Acropolis Comples yang menjadi icon wisata utama di Yunani, saya memang sengaja tidak mengunjungi lokasitersebut di hari ini karena masih cukup waktu saya untuk mengunjunginya esok hari.

Masuk ke dalam Museum Acropolis, dikenakan tiket masuk sebesar 10 euro, namun tidak banyak hal menarik yang saya dapat dari dalam museum, karena hanya berupa potongan2 bagian temple yang sebagian besar juga tidak utuh dengan informasi yang tertera di bawahnya, bagi penyuka cerita sejarah Yunani dengan aneka bentuk nama dan aksara yang rumit, mungkin menarik untuk diteliti lebih jauh.





Selesai dari museum, saya mencoba untuk kembali pulang ke penginapan dengan mengikuti petunjuk jalan yang ada di peta offline, dan ternyata saya menemukan Komplek Temple of Agora yang lagi2 cukup dinikmati dari luar tanpa harus membeli tiket masuk seharga 6 euro, karena di komplek ini tidak jauh berbeda kondisinya dengan Olympian Zeus yang hanya berupa pondasi dan beberapa tiang dan kerangka bangunan yang masih ada.

Sebenarnya jika masih utuh, bangunan Olympian Zeus dan Agora ini berupa bangunan besar seperti yang ada di Acropolis diatas.


Disebelah masjid terdapat Hadrian’s Library berupa kompleks bangunan yang pada masanya merupakan universitas, kompleks bangunannya megah, tetapi tetap saja tinggal puing2 bangunan dan kita hanya bisa menerka megahnya bangunan tersebut dari gambar rekonstruksi yang ada di papan informasi. Untuk masuk ke lokasi bangunan dikenakan tiket masuk 10 euro, tetapi saya tidak masuk, karena tetap bias dinikmati dari luar dengan bebas.


Di sebelah Monastiraki MRT, terdapat Monastiraki Flea Market, tempat turis membeli souvenir atau oleh2, kebanyakan magnet dan gantungan kunci atau t-shirt, tetapi tidak distu saja, disekitar square juga banyak penjual souvenir dan tempat makan.

Saya sempatkan membeli Kaos Hard Rock Café sebagai souvenir wajib buat saya setiap mengunjungi sebuah negara.

Makan siang saya di sebuah restoran yang menjual kebab dan semacamnya, sepertinya yang menjual muslim krn tertera halal di sana.


Selesai melihat Agora complek, ternyata saya sudah berada di dekat Monastiraki Square tempat saya tiba pertama kali kemarin, di sekitar square saya bias melihat Muesum Ceramics, yang sebenarnya sebuah bangunan masjid di masa Ottoman berkuasa disana, bangunannya sangat mudah dikenali itu sebuah masjid dan ketika saya masuk pun interior di dalamnya masih utuh terdapat bekas mimbar dan arah qiblat yang tetap dibiarkan utuh, dan berbagai ukiran kaligrafi yang masih tetap utuh, namun pemerintah Yunani menjadikan bangunan ini sebagai museum dan tempat dilakukan eksebisi.

Selebihnya sisa hari ini saya menikmati berkeliling kawasan sekitar dan kembali ke penginapan untuk istirahat sambil merencakan kegiatan esok hari.
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...