Kamis, 25 Juli 2019

Weekend ke Pasar Lok Baintan di Banjarmasin


Jantung saya berdebar dengan keras tatkala melihat penujuk waktu di tangan sudah menunjukan pukul 17:20 dan saya baru sampai di parkiran Bandara Sepinggan, sementara boarding jam 17:30, bergegas setelah menyelesaikan proses pembayaran ke driver gojek, setengah berlari saya menuju ke counter check-in yang ternyata berada di ujung lorong ( 100 meter jaraknya dari arah pintu masuk yang saya lewati), ketika saya melewati papan pengumuman jadwal keberangkatan pesawat, terbaca oleh saya, penerbangan ke Banjarmasin sudah masuk panggilan boarding, daaaaaan, Alhamdulillah ternyata konter check-in masih dibuka.


"Lekas ya, Pak"!, petugas mengingatkanku untuk segera menuju ke pesawat, setelah selesai di proses screening sambil bilang jadwal pesawat saya sudah boarding, lancar, namun sekali lagi saya harus setengah berlari karena lagi2 gate-nya ada di ujung, lorong proses screening ada di depan gate 4, sementara gate penerbangan saya ada di gate 11.

Pesawat sudah menunggu dan penumpang terakhir adalah saya, seperti yang sudah saya duga, kali ini saya akan naik pesawat jenis ATR-72-600 wings air, penerbangan akan memakan waktu sekitar 1 jam. Pukul 6 sore lewat beberapa menit, pesawat lepas landas, penerbangan mulus dan akhirnya saya tiba di Bandara Syamsudin Noor di Kota Banjar Baru sekitar pukul 7 sore WIB, rupanya Kalimantan Selatan masuk zona waktu Indonesia Barat, sementara Balikpapan dan Kalimantan Timur masuk zona waktu Indonesia Tengah.

Saat merencanakan perjalanan di Banjarmasin, saya sudah mencari tahu terlebih dahulu bagaimana transportasi selama di sana, terutama dari dan ke bandara, spt bandara di Indonesia pada umumnya, transportasi dari bandara ke kota, didominasi oleh taksi yang sudah dikelola oleh perusahaan tertentu dan biasanya mereka mematok tarif yang mahal, bagi sebagian orang, terutama untuk penyuka jalan2 seperti saya yang solo traveler, tarif tersebut dirasa sangat mahal.

Menurut informasi yang ada, tarif taxi dari bandara Syamsudin Noor ke Kota Banjarmasin, mereka mematok harga Rp 120.000.- dan itu harga bisa berubah lebih tinggi lagi jika kita tidak mengetahui sebelumnya atau mereka yang sangat membutuhkan segera, menjadi lahan buat para driver.

Namun demikian tetap saja ada celah buat kita mencari alternative transportasi dari bandara, namun dengan sedikit pengorbanan, dari artikel seorang traveller dijelaskan bahwa jika ingin mencari transportasi yang murah, saya harus keluar dulu dari bandara, berjalan kira2 200-300 meter dari pintu gerbang bandara, dan kita akan menjumpai trasnportasi online dengan mudah.

Saya mengikuti petunjuk yang ada di artikel tersebut, saya sengaja menolak setiap tawaran sopir taksi yang menawarkan jasa berbayar mereka, jam sudah menunjukan pukul 7:30 malam, saya menuju pintu keluar bandara, belok kiri dan berjalan terus, sesuai petunjuk saya harus berjalan menuju arah bundaran jalan dan disana bakal ada angkot ( angkutan kota ) namun orang sana bilang taksi kuning karena nomor polisi untuk transportasi umum memang berwarna kuning.

Tidak sampai saya di bundaran, saya coba iseng membuka aplikasi ojek online dan ternyata ada satu pengemudi yang nampak, segera saya pesan dan angka di aplikasi menujukkan harga Rp 41.000.- untuk sekali perjalanan dari Bandara ke penginapan saya di pusat kota Banjarmasin, kalau saya buka google map, jaraknya lumayan jauh untuk ukuran orang sini, sekitar 25 KM, jarak yang dulu biasa saya tempuh menggunakan kendaraan motor roda dua saat masih bekerja di Jakarta, jarak dari rumah saya di Ciputat Tangerang Selatan ke kantor saya di Pecenongan Gambir Jakarta Pusat, berjarak 25 KM.

Tidak lama kemudian, sang driver menelpon saya mengkonfirmasi apakah saya pemesan ojek online atau tidak dan saya mengiyakan sambil menyebutkan sebuah tempat dimana saya berdiri saat itu, dan sang driver mengarahkan saya agar berjalan sedikit lagi ke tempat dia, karena beralasan tempat saya berdiri saat itu masih belum aman buat para driver taxi online untuk mengambil sewa mereka.

Di telepon juga sang driver meminta saya untuk meng-cancel pesanan saya secara online dan meminta saya memesan secara manual dengan harga sedikit lebih tinggi, saya fikir harga yang ditawarkan tidak terlalu mahal dan akhirnya kami sepakat, driver membawa saya ke penginapan di Airy Sungai Martapura yang tidak terlalu jauh dari Kantor Walikota Banjarmasin di pusat kota Banjarmasin, perjalanan menggunakan sepeda motor memakan waktu tempuh sekitar 40 menit.

Selama perjalanan saya bertanya sedikit tentang situasi kota Banjarmasin, dan driver yang kebetulan seorang anak muda menjawab pertanyaan saya plus d tambah informasi tambahan yang menarik sekaligus ditunjukkan beberapa lokasi menarik sepanjang jalan yang kami lewati.

Alhamdulillah langit cerah malam itu sehingga perjalanan menjadi lancar.

Sesampai di penginapan, sambil membaca artikel tentang pasar terapung, memastikan kembali kemana esok hari akan pergi, apakah ke pasar terapung yang lokasinya lebih jauh, atau ke pasar terapung buatan pemerintah kota yang lokasinya ada di tengah kota, melhat destinasi lain yang ada di Banjarmasin, jarak dan waktunya.

Timbang fikir akhirnya saya memutuskan esok hari akan ke Pasar Terapung yang ada di Lok Baintan yang lokasinya sekitar 40 menit perjalanan dengan menggunakan transportasi online, apapun yang saya dapat saat itu.

Esok subuh saya sudah bersiap, pertama saya pesan go-car, berhasil didapat, sang sopir menelepon saya dan memberitahu bahwa medan perjalanan sangat berat karena jalannya banyak yg rusak, dia meminta bayaran lebih, karena saya belum tau bagaimana situasi selama perjalanan saya beritahukan ke driver bahwa saya menolak system manual yang ditawarkan dan terpaksa saya cancel pesanan saya.

Kemudian saya coba pesan dengan gojek, masuk pesanan saya dan sang driver langsung menyanggupi pesanan saya, dan dia juga penasaran ingin tahu bagaimana situasi disana karena kebetulan meski orang asli sana tapi belum pernah kesana. Alhamdulillah jadilah kami berangkat ke Lok Baintan.

Jarak tempuh sekitar 16-20 km, tapi rupanya setengah perjalanan medan jalannya rusak dan sempit, kami yang menggunakan motor sangat ber-hati2 agar jangan sampai jatuh atau tergelincir.

Melihat perjalanan yang ditempuh dan situasi yang ada, saya bertanya kepada driver gojek, apakah nanti d sana ada driver gojek yang akan menanti saat saya akan kembali nanti, driver bilang mudah2an ada driver yang stand by d sana, atau kalau pun tidak ada, driver merekomendasikan saya untuk ikut bergabung dengan mereka yang sudah charter perahu klotok dan membawa ke tengah kota.

Driver menurunkan saya di dermaga perahu di Desa Lok Baintan yang ada di dekat jembatan gantung dengan nama yang sama, kebetulan sekali saat itu ada penduduk local yang berprofesi sebagai driver gojek yang hendak ke kota, saya disarankan untuk memesannya, saya bilang saya akan kembali sekitar 2-3 jam kembali, dan driver mengiyakan.


Saat itu pukul 6 pagi dan hari masih agak gelap, kami sepakat akan kembali ke kota sekitar jam 8 pagi.

Dari dermaga saya harus naik perahu klotok untuk mencapai kumpulan para penjual di atas perahu, jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh, namun demikian tetap harus menggunakan perahu untuk mendekati mereka, tarif perahu klotok untuk satu kapal yang berkapasitas bias mencapai puluhan orang, dipatok sebesar Rp. 100.000.- saja pulang pergi dan ditungguin selama kita menikmati suasana.







Tidak butuh waktu lama, saya akhirnya berada di kumpulan ibu2 penjual yang ada di atas sampan tepatnya, secepat itu pula mereka datang berkerumun mendekati kapal saya dan saya menjadi bingung harus bagaimana karena secepat itu pula mereka sangat agresive menjajakan barang dagangan mereka bahkan sampai naik ke atas perahu saya.







Terus terang saya tidak bisa melayani permintaan mereka untuk membeli barang dagangan yang mereka tawarkan yang didominasi buah2an dan makanan kering, sampai akhirnya seorang ibu muda menolong saya, mengajak saya untuk ikut naik diatas sampan yang dimilikinya, dan tidak lama kemudian saya tenggelam dalam keriuhan suasana jualan diatas sampan di sungai Martapura.







Selama di atas sampan, kita akan melihat banyaknya perahu penjual yang didominasi oleh ibu2 yang menjual aneka kebutuhan se-hari2, terutama kebutuhan untuk pagi dan siang hari, ada buah2an, sayuran, soto banjar, menu sarapan nasi kuning, kue2, ikan darat dan sebagainya.








Nampak beberapa kelompok turis local yang datang dengan kapal charter masing2 dan saya melihat ada beberap turis asing yang juga menikmati keramaian pagi ini di tengah sungai martapura. Tanpa kita sadari sebenarnya kami berputar terbawa arus kemana aliran air berjalan saat itu, dan itu saya tidak sadari, Ibu Niah memberitahu saya bahwa kita terbawa arus, tapi jangan khawatir, arus disini hanya aliran air biasa saja, bukan arus yang berbahaya.

Keriuhan memang tidak berlangsung lama, hanya sampai sekitar jam 8 lewat, aktivitas sudah mulai sepi, di saat saya hendak kembali ke kapal yang besar, saya bertemu dengan turis asing yang berasal dari jerman, bertukar cerita sebentar kemudian kami berpisah, kembali ke dermaga awal saya berangkat.

Jam sudah menunjukan pukul hampir jam 9 pagi, saya harap2 cemas sang driver gojek sudah meniggalkan saya, namun Alhamdulillah driver tetap menunggu saya dan siap membawa saya kembali ke pusat kota, tidak lupa saya sempatkan berfoto di jembatan Desa Lok Baintan.



Sampai di penginapan saya beristirahat sebentar dan siap berjalan lagi setelah jam istirahat siang.

Setelah istirahat yang cukup, setelah makan siang, kunjungan pertama saya yaitu ke Mesjid Sabilal Muhtadin yang ada di tepi sungai Martapura untuk menunaikan shalat duhur jamak dengan shalat ashar, setelah itu kami, perjalanan kali ini saya ditemani oleh warga local Banjarmasin atas rekomendasi dari teman yang pernah berkunjung ke Banjarmasin sebelumnya.

Setelah dari Masjid Sabilal Muhtadin yang merupakan masjid terbesar di Kota Banjarmasin, kami menuju lokasi pasar terapung buatan yang ada di seberang masjid, kebetulan hari sudah sore, tepatnya ba’da ashar, sudah mulai ramai dengan pengunjung yang berdatangan memadati lokasi, kami turun ke bawah melihat suasana lebih dekat dan mencoba mencicipi cemilan khas banjar berupa kue beras yang diberi pilihan kuah gula cair atau kuah kari.






Tidak jauh dari situ kami mencoba menikmati suasana pasar terapung siring Banjar dengan mengikuti tour singkat menggunakan perahu dengan tarif per penumpang Rp. 5.000.- start dimulai dari patung bekantan kemudian melewati jembatan, lalu pasar siring Banjar, menara pandang siring sampai di ujung jembatan berikutnya memutar balik kembali ke tempat semula.





Menjelang maghrib kami menuju Menara Pandang siring Banjar yang tidak terlalu tinggi dengan berjalan kaki dari patung bekantan melewati pasar terapung siring yang tidak terlalu jauh.

Setelah hari mulai gelap, saya kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Hari ini, Minggu adalah hari terakhir saya di Banjarmasin, kemarin kami sepakat akan mengunjungi beberapa tempat lagi di Banjarmasin sebelum saya balik ke Balikpapan.

Kunjungan pertama adalah ke Museum Wasaka yang juga masih dalam satu garis tepian Sungai Martapura, Wasaka kependekan dari Waja Sampai Kaputing yang berarti Tetap Semangat Bagai Baja dari Awal Sampai Akhir. Museum Wasaka ini berisi foto2 para pahlawan lokal Kalimantan Selatan dan juga sejarah perjuangan penduduk Kalimantan Selatan, terutama Suku Banjar dalam melawan penjajahan Belanda saat itu, dilengkapi dengan beberapa benda sejarah, bangunan museum merupakan bangunan bersejarah berupa rumah asli Suku Banjar, koleksi benda museum belum terlalu banyak dan sederhana, namun ditampilan secara menarik sehingga pengunjung dapat melihat seluruh ruangan.







Selesai dari museum, kami berencana ke masjid bersejarah, Masjid Sultan Suriansyah, kebetulan sekali saat itu masih merupakan minggu dimana masa kampanye lokal dan juga aktivitas penduduk yang padat sekali saat itu membuat jalan2 yang kami lalui terlihat padat, macet dimana-mana, sempat kami menemui kesulitan mendapatkan taxi online karena rupanya lokasi kami agak jauh dari jalan raya yang ramai yang juga para pengemudi taxi online jarang lewat sana, namun setelah menunggu beberapa lama dengan kesabaran akhirnya kami berhasil mendapatkan taxi online yang membawa kami ke Mesjid Sultan Suriansyah.





Masjid Sultan Suriansyah ini juga berada di tepi Sungai Martapura, konstruksi bangunan didominasi oleh kayu asli Kalimantan yang terkenal kuat dengan warna cat juga dominasi berwarna hijau yang menambah ciri khas dari masjid itu sendiri.

Kesulitan taxi online kembali kami alami, karena lokasi masjid juga berada diluar jalur peminatan taxi online, selain itu kepadatan lalulintas saat itu menambah sulitnya kami menemukan taxi online, sekali lagi dengan kesabaran kami akhirnya ada taxi online yang bersedia mengambil kami untuk keluar dari sana dan kembali ke tengah kota.

Setelah tiba di kota, kami mampir untuk makan siang yang terlambat di Rumah Makan Sambal Acan Raja Banjar dengan sambal khas berupa potongan2 kulit nangka bagian dalam yang digoreng, Sambal Mandai namanya dan saya kembali ke hotel untuk beristirahat karena perjalanan hari ini yang melelahkan.

Setelah semuanya selesai, saatnya saya check out dan menuju bandara menggunakan taxi online untuk penerbangan kembali ke Balikpapan. Perjalanan weekend di Banjarmasin berakhir …..

 
 

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...