Jumat, 06 Desember 2019

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon


Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumnya.

Borobudur Marathon tahun ini memang saya niatkan untuk mengambil kategori Full Marathon dan bahkan menjadi Virgin Full Marathon saya, saya juga sudah mulai berlatih mengikuti aplikasi running yang ada, sudah dimulai sejak 14 minggu sebelum event Borobudur Marathon ini berlangsung, mengikuti saran teman2 runner lain yang lebih berpengalaman dalam dunia lari. Berarti itu sudah saya lakukan sejak saya masih bertugas di Balikpapan.

Pada akhir September 2019 tiba2 ada pengumuman mutasi dan menyatakan bahwa saya dimutasikan kembali ke Jakarta, Alhamdulillah puji syukur akhirnya aku kembali ke homebase dan itu membuat program lari bertambah baik, fikir saya saat itu.

Singkat kata saya sudah melapor ke kantor saya yang baru, dan rupanya kantor yang di Jakarta ini akan pindah ke kantor baru, dan lebih kacau lagi acara pindahannya barengan dengan event lari Borobudur Marathon, alhasil mau nggak mau saya harus memutuskan apakah tetap ikut event Borobudur Marathon atau skip untuk membantu pindahan kantor.

Setelah melalui rapat sana sini, mondar mandir memantau suasana kantor baru, ditetapkan bahwa pindahan kantor akan mulai berlangsung dari tanggal 15 Nopember sampai dengan selesai, yang berarti harus lembur sabtu minggu tepat disaat penyelenggaraan lomba.

Setelah dipastikan bakal pindah, dengan berat hati saya menjual slot FM Borobudur Marathon yang sudah saya genggam atas nama saya sendiri setelah membeli slot orang lain dan berhasil saya ganti menjadi nama saya, segera setelah saya posting jual slot, langsung banyak peminat yang menanyakan dan lepas lah slot lari FM Borobudur Marathon saya, dan sekarang saatnya saya fokus ke rencana pindahan kantor. Itu terjadi dua minggu sebelum tanggal 15 Nopember.

Senin tanggal 11 Nopember, saya berkunjung ke lokasi bakal kantor baru dan rupanya ruangan masih sangat berantakan, dan setelah melapor ke atasan saya dan melalui rapat diputuskan bahwa pindahan kantor harus dimundurkan jadwalnya ke akhir bulan nopember, dalam hati, seandainya saja slot lari FM masih bisa saya tahan, munkin saya masih bisa ikutan Borobudur Marathon ini, saya ceritakan hal ini ke teman2 saya.

Salah seorang teman saya menyarankan kenapa nggak segera cari slot lari Borobudur Marathon saja, kan banyak tuh dijual di forum jual beli slot, wah ide menarik, kenapa nggak saya cari saja slot yg beredar, langsung saat itu juga saya cari2 slot Borobudur Marathon yang dijual di forum, rupanya teman lari yang saya kenal mau pindah slot dari HM ke FM, dan saya tanyakan apakah slot nya masih ada, dan rupanya masih ada, dan sepakat saya beli seharga pada saat pendaftaran pertama, setelah slot lari didapatkan, segera saya cari transportasi ke Djokda pada tanggal 15 dan rupanya semua transport ke Djokdja pada tanggal tersebut sudah habis, terutama jam2 yang sesuai dengan keinginan saya, meskipun ada yg tersisa tapi jadwalnya tidak cocok alias saya harus mengambil cuti, padahal saya tidak berniat cuti, akhirnya saya berhasil menemukan jadwal penerbangan sabtu pagi tgl 16 Nopember ke Djokdja dan kemudian mencari tiket kembali ke Jakarta yang lagi2 tgl 17 sudah full semua baik kereta api maupun pesawat terbang. Di tengah kebingunan itu teman saya menyarankan untuk mengambil penerbangan dari Solo saja, lalu saya cek penerbangan dari Solo ke Jakarta pada tanggal 17 Nopember malam, dan alhamdulillah saya berhasil menemukan tiket penerbangan Solo ke Jakarta jam 8 malam, sengaja saya ambil malam hari agar ada waktu buat saya mempersiapkan diri setelah berlari dan perjalanan dari Magelang ke Djokdja dan dari Djokda ke Solo, dari Djokdja ke Solo saya menggunakan kereta api, dan akhirnya pun saya segera mencari penginapan di sekitar Borobudur berharap masih ada yang kosong.

Rupanya kamar hotel sudah full semua, terutama yang dekat2 lokasi lari di komplek Candi Borobudur, baik melalui berbagai aplikasi dan menelpon beberapa penginapan di sana, sambil iseng2 melihat2 informasi hotel melalui google map, saya coba telpon beberapa penginapan namun tidak diangkat.

Hari jumat tanggal 15 Nopember pencarian penginapan masih terus dilakukan, ada teman yang mengajak saya menginap di kamar type dormitory isi 12 orang, namun pertimbangan saya butuh istirahat yang cukup saya menolak ajakan teman, saya coba mencari lagi penginapan menggunakan google map, disitu ada penginapan murah dan ada nomor teleponnya, dan ketika saya coba telepon alhamdulilah diangkat, saya utarakan maksud saya dan diujung telepon bilang bahwa kamar semua sudah full, namun dia mau membantu mencarikan kamar yang masih kosong dan saya mengiyakan.
Sore hari baru ada kabar tentang ketersediaan kamar, saya sampaikan ke temen saya, Opiet, apakah berminat dengan kamar yang ditawarkan, berupa kamar yang ada di rumah penduduk namun dengan fasilitas yang baik, saya minta dikirimkan video suasana kamar dan kamar mandi dan rupanya sesuai dengan keinginan saya. Setelah sepakat dengan harga akhirnya malam itu kami sepakat untuk memesan kamar tersebut yang jaraknya pun relative sangat dekat dengan lokasi lari sehingga tidak perlu butuh waktu lama untuk menuju dan kembali dari event lari. Tenang sudah hati ini menuju persiapan ke Borobduur Marathon.

Sabtu pagi saya sudah take off ke Djokdja, tiba d Djokdja masih pagi sehingga saya masih banyak waktu untuk beristirahat, perjalanan damri dari Bandara Adisoetjipto ke Borobudur sekitar 1-1,5 jam, karena perjalanan yang menyenangkan, masih pagi sehingga jalanan belum terlalu padat dinikmati dengan nyaman, antara tidur dan melek, setengah mengantuk, saya melihat suasana diluar seperti sudah di Borobudur, namun saya belum sepenuhnya sadar sehingga saya tetap nyaman dengan posisi saya di dalam bus, setelah beberapa lama barulah sadar bahwa sebenarnya saya sudah sampai Borobudur dan saya sudah melewatinya, namun saya tidak khawatir karena pemberhentian berikutnya adalah Mal Artos Magelang tempat pengambilan racepack Borobudur Marathon.

Tidak lama tibalah saya di Mall Artos, jam menunjukan pukul 9 pagi dimana mall belum buka, namun pengunjung sudah banyak berkumpul disekitar mall yang rupanya mereka para pelari yang hendak mengambil racepack, saya duduk menunggu mall dibuka dan juga menunggu kedatangan teman saya, Susan, yang rencananya juga akan mengambil racepack pagi itu.

Tidak lama kemudian muncul lah Susan sang pelari, sambil menunggu mal dibuka kami berbincang tentang rencana pelarian yang akan dilaksakan besok, sambil bergumam seandainya saja saya tetap mengambil kategori FM, akan terasa lebih menyenangkan karena bisa lari bersama dengan teman2 pelari yang lain, dari keisengan gumaman itu tiba2 Susan kembali menyarankan kenapa tidak cari slot FM saja disini, pasti banyak yang akan jual, saya fikir bener juga, dan segera Susan menunjukan beberapa postingan mereka yang hendak menjual slot FM Borobudur Marathon, setelah menghubungi dua penjual akhirnya saya sepakat dengan slot yang dijual oleh pelari yang menggunakan nomor whatsapp kode +65, saya fikir orang Singapore dan dia menjual dengan tawaran harga lebih murah dari penjual lainnya.

Setelah mall dibuka, segeralah keramaian dan kepadatan suasana terjadi, Susan rupanya tidak ambil racepack langsung tapi diambilkan temannya, sementara slot FM yang saya beli lokasinya ada di dekat penginapan disekitar Borobudur, setelah berfoto2 melihat suasana venue pengambilan racepack, saya dan Susan menuju Foodcourt untuk sarapan dan makan siang karena lapar sekali, kemudian datanglah Wandy yang juga ikut Borobudur Marathon tapi mengambil kategori HM, setelah itu kami menuju ke lobby menemui Opiet yang sedang menunggu kiriman jersey dari komunitasnya, setelah selesai segera kami menuju Borobudur untuk segera bersitirahat karena hari juga sudah makin siang sementara kami perlu istirahat yang cukup sebelum lari esok pagi.


Sebelum sampai ke penginapan, saya menemui penjual slot, dan ketika bertemu setengah terkejut saya karena saya menemui para pelari Afrika dan rupanya slot lari yang dijual adalah slot salah satu dari mereka, slot mereka adalah slot lari kategori international dan pelari yang memang mencari podium juara dan hadiah, terlihat jelas sekali perbedaannya BIB-nya, saya jadi agak sedikit khawatir takut jika ketahuan kena diskualifikasi.

Saya ceritakan hal ini ke Susan temen saya, dia bilang tidak usah khawatir karena dulu juga dia katanya beli slot pelari luar negeri tapi tidak apa2, yasudah saya fikir, mudah2an memang tidak apa2.
Malamnya saya beristirahat, bisa tidur dengan nyaman, sebelumnya saya sudah memasang alarm untuk bangun pukul 03:00 pagi, karena jam 04:00 diusahakan sudah berada di venue lari agar bisa mempersiapkan segala sesuatu lebih baik daripada terburu-buru yang ada akhirnya malah tidak maksimal.

Pukul 03:00 saya sudah bangun, segera saya mandi, berkostum dengan pilihan kostum dan aksesoris yang sudah disiapkan malam harinya, saya selalu memakai compression untuk lari yang berjarak jauh, selain itu selalu menyiapkan sun glasses, earphone untuk mendengar musik menemani saat berlari, tidak lupa sebelum memakai pakaian, kaki saya dari atas sampai lutut sudah dibalur dengan salonpas gel, selain itu juga saya selalu membawa beberapa buah gel energy yang katanya bisa membantu menambah stamina disaat diperlukan, aksesoris yang lain adalah saya membawa botol air untuk ketersediaan air disaat diperlukan dan belum ketemu water station, mengingat jarak lari yang jauh, saya harus mempersiapkan segala sesuatu dengan lebih siap. Sebelum berangkat saya juga makan 1-2 buah pisang  untuk menjaga perut tidak terlalu kosong saat berlari.

Setelah shalat subuh di kamar, karena kebetulan subuh sekitar jam 03:45, ada waktu untuk bisa shalat subuh di kamar karena kebetulan lokasi penginapan tidak terlalu jauh dari venue, saya menuju venue lari, sambil sedikit was2 karena di pintu masuk ada pemeriksaan, saya khawatir BIB saya terdeteksi bukan milik saya dan tidak memiliki gelang catatan waktu untuk mengetahui di pace kelompok mana saya akan berlari, namun Alhamdulillah tidak ada kendala untuk itu.

Saya melakukan pemanasan sebentar lalu segera masuk ke jalur lari kategori Marathon yang akan segera dimulai sebentar lagi, suasana di dalam start line sudah ramai, meriah dan menyenangkan, bertemu dengan beberapa pelari yang sudah saya kenal, semakin diri saya semangat untuk mengikuti event lari ini.

Tepat pukul 05:00 pagi, start untuk kategori FM dimulai, dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah, lalu secara bergembira seluruh pelari mulai bergerak, sedari tadi saya sudah menahan rasa ingin pipis, setelah start dimulai, sambil memulai berlari saya segera mencari toilet terdekat dan Alhamdulillah ketemu toilet dan kebetulan antrian belum panjang, setelah itu saya kembali melanjutkan berlari.
Jam 05:00 pagi itu seharusnya matahari sudah mulai bersinar, tetapi saya amati dari sebelum start dimulai, langit diatas terlihat agak mendung, saya berharap dan berdoa agar cuaca akan tetap seperti ini seperti saat saya berlari di Jakarta Marathon kemarin. Bismillah ….

Suasana berlari pagi itu sangat menyenangkan, awal kaki melangkah sangat menentukan buat saya bagaimana kenikmatan saya berlari ke depannya, cheering dari  masyarakat lokal sudah dimulai sejak titik nol KM berlari, tari-tarian traditional, sorak sorai penyemangat dari anak-anak sekolah sepanjang jalur lari yang dilewati, pertunjukan musik sampai hidangan tradisional aneka rupa yang disediakan masyarakat sangat menyenangkan, sambutan yang hangat masyarakat semakin menambah keceriaan berlari, saya terus berlari sampai bertemu water station untuk minum dan istirahat sebentar.
Jalur lari yang belum saya ketahui sebelumnya seperti menjadi tebak2an tersendiri buat saya, saya tidak mengetahui dimana titik-titik tanjakan baik yang landai maupun yang curam akan saya temui, begitu juga turunan-turunan yang menyenangkan akan saya temui, bagaimana jalur berlari yang akan saya lewati benar-benar menjadi tantangan bagi pelari dalam mengatur irama, gerak langkah kaki dan energy agar jangan sampai habis ditengah jalan.

Sampai di 10KM pertama, pace lari masih santuy, masih sesuai target, kaki-kaki masih kuat, cuaca yang saat start jam 05:00 pagi terlihat mendung, kini mulai menampakkan aslinya, matahari mulai terlihat terang namun masih sejuk, memasuki 10KM kedua kaki-kaki juga masih oke, cuaca makin terang, sinar matahari mulai menggoda saya untuk berisitirahat, tetapi saya tetap mampu berlari, memasuki 10KM ketiga, mulai di KM 22, teman saya Susan mengingatkan bahwa ada COP di KM 35 dimana semua pelari harus segera sampai disana paling lambat jam 11:00 siang, saya melihat jam tangan, masih sangat cukup waktu untuk sampai di COP 35 sebelum jam 11:00.

Sesuai rencana lelarian di FM, sampai dengan 25KM pertama saya sudah harus bisa menyelesaikan lari selama 3 jam 30 menit, saya cek di jam tangan saya waktu berlari saya sudah mendekati itu, jadi secara pelaksanaan sudah sesuai dengan apa yang saya rencanakan.

Susan sudah meninggalkan saya di KM22 karena khawatir tidak bisa sampai di KM35 sampe jam 11 pagi, dengan catatan waktu yang saya tempuh sampai di KM25, saya yakin saya bisa sampai di KM 35 sebelum jam 11 siang, sepanjang jalan, matahari semakin naik dan menyengat, kaki-kaki masih kuat, namun karena sengatan panas sepanjang jalan, membuat tubuh menjadi cepat lelah, lelah sekali, sampai saya temui beberapa pelari sampai berjalan pelan bahkan ada yang sampai menepi ke rumah penduduk yang ditemui untuk sekedar berteduh dari panas.

Saya terus mulai berjalan cepat, power walking dengan kecepatan berjalan cepat 1 KM saya tempuh dalam waktu 9-10 menit, saya kombinasikan dengan berlari lambat, mulai dari KM 25 sampai dengan KM30, saya kombinasikan antara berlari lambat dengan berjalan cepat, bahkan saya sempat mampu berlari lambat sampai 2KM, selebihnya saya hanya mampu berjalan cepat dengan kecepatan yang saya atur sesuai dengan target yang saya tetapkan.

Alhamdulillah di setiap 1KM selalu ada water station yang sangat membantu para pelari yang kepanasan untuk menyegarkan diri, bahkan sampai ada yang mengguyur badannya basah demi mendapatkan kesegaran, di setiap water station itu juga saya amati banyak pelari yang harus beristirahat, yang harus mendapatkan pertolongan medis dengan aneka keluhan yang mereka alami. Alhamdulillah saya masih tetap kuat.

Saya menghindari tubuh saya terlalu basah, terutama jika sampai membasahi sepatu dan kaos kaki saya karena bukannya menyegarkan badan saya malah menghambat lari saya, karena sangat tidak nyaman sekali berlari dalam kondisi sepatu dan kaos kaki basah, cukup sudah keringat yang membasahi badan saya dan saya bisa atasi dengan minum air yang banyak di setiap water station yang saya temui.

Di sekitar KM32-33, saya bertemu dengan kristhadist yang saat itu sedang membeli minuman bersoda, saya tanyakan kenapa minum minuman seperti itu saat berlari seperti ini, dia bilang dia hanya ingin mengambil gula yang terkandung dalam minuman tersebut berharap mendapat tambahan energy yang didapat, entah benar atau salah cara yang dilakukan, tetapi yang saya rasakan tubuh memang benar2 sangat lelah dan haus.




Di sekitar KM itu juga saya bertemu dengan Ibenk, pelari yang awalnya mengambil HM lalu berpindah ke kategori FM, yang tadinya slot HM-nya saya beli namun saya juga tiba2 berpindah ke jalur FM, kami sama2 kelelahan dan mencoba mensiasati bagaimana agar kondisi tetap stabil. Bergantian kami bertiga berjalan beriringan, kadang dilewati kadang melewati diantara kami.

Dan akhirnya bertemulah saya dengan titik COP di KM35, titik batas maksimal yang harus dilewati pelari sebelum jam 11 siang jika tidak mau kena sapuan para penyapu jalan untuk para pelari yang tidak mampu tiba di titik KM35 sebelum jam 11. Titik KM35 ini berada di tanjakan yang cukup naik, antara rasa senang karena sudah sampai di KM35 dan rasa lelah karena harus setengah mendaki tanjakan yang cukup naik.

Saya lihat jam sudah menunjukan waktu 10:30 siang, berarti saya masuk kategori aman, para petugas pengawas juga memberi selamat kepada semua pelari yang sudah melewati COP KM35 ini dan sekaligus mengingatkan agar jangan sampai lengah karena batas waktu semakin mepet tapi masih ada sisa 7 KM lagi yang harus ditempuh.

Dengan tersisa waktu 1 jam 30 menit, saya harus segera bisa menyelesaikan sisa 7KM lagi, dengan estimasi catatan waktu saya berjalan cepat 1 KM ditempuh selama 10 menit, berarti 7KM terakhir harus bisa saya selesaikan dalam waktu 1 jam 10 menit, berarti estimasi ketibaan di garis finish adalah jam 11:40 siang atau sekitar 20 menit lagi batas COT berakhir.

secara kaki-kaki masih kuat, namun karena tubuh sudah sangat lelah, seperti tidak mampu lagi saya berlari, saya selalu berdoa agar tetap diberi keselematan sampai tiba di garis finish, dengan selalu berdoa sepanjang jalan, saya sedikit sedikit berlari pelan dengan harapan mempercepat waktu, namun tubuh memang benar2 lelah, pengganti setiap break di water station, saya ganti dengan berlari sampai jarak tertentu untuk menjaga kestabilan waktu, saya terus berusaha seperti itu.

Sepanjang jalan saya temui beberapa pelari yang terkapar entah karena kelelahan atau kaki yang kram, menyedihkan memang, disaat menjelang garis finish namun justru kedatangan masalah yang bisa mengancam dirinya terkena COT.

Jam 11:45 Sampailah saya di gerbang komplek Candi Borobudur, sorak sorai para pelari yang sudah menyelesaikan lari mulai terdengar, sambutan, teriakan dan semangat dari para komunitas lari yang sedang menyambut kedatangan para masing-masing anggota komunitasnya semakin ramai, saya usahakan untuk berlari namun kaki terasa berat sekali, sementara masih ada sekitar 600-500 meter lagi sudah sampai di titik finish, saya terus berusaha agar segera menyelesaikan lari, gerbang finish sudah nampak di depan mata, bayangan keriuhan di depan gerbang finish tahun lalu sudah terbayang, saya paksakan berlari di 200 meter terakhir dan akhirnya saya bisa menyelesaikan tantangan berlari FM ini selama 6 jam 52 menit yang berarti tinggal 8 menit lagi saya terkena COT, Alhamdulillah saya ucapkan ber-kali2 sesaat menjelang garis finish sampai menuju lokasi pemberian medali dan jersey finihsher.

Opiet dan Bayu sudah menunggu saya, entah kenapa tiba2 saja saya terharu dan menangis, saya peluk satu per satu Opiet dan Bayu sambil sedikit terisak menahan tangis haru di balik kacamata hitam saya, lega sekali rasanya bisa menyelesaikan lari FM ini dengan persiapan yang mendadak, di waktu yang sebaiknya kata para ahli lari tidak direkomendasikan untuk pelari hore seperti saya mengambil lari kategori FM dalam waktu yang sangat berdekatan.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 siang lewat, dan saya bertemu Susan, kemudian kami ber-foto2 disekitar lokasi dengan kondisi seadanya karena sangat melelahkan ditambah cuaca yang semakin terik. Saat berfoto-foto saya perhatikan para pelari yang sudah tiba di garis finish hanya selisih 1-2 menit saja dari batas COT, namun tetap tidak berhak mendapatkan medali dan jersey finisher, tragis memang, tetapi itulah perjuangan, dan saya sangat bersyukur berulang kali berhasil menyelesaikan lari ini dengan selamat, sehat dan bahagia.





Begitulah pengalaman berlari di Borobudur Marathon 2019 saya, pengalaman yang tidak terlupakan dan entah apakah saya bisa mengulanginya kembali, saya tidak tahu, sebuah pengalaman lari buat saya yang seorang pelari lambat, merupakan pengalaman luar biasa dalam hidup, sebagai kenangan dalam hidup.


Jakarta Marathon 2019 - My Virgin Full Marathon


Ini adalah cerita pengalaman pertama saya berlari di kategori Full Marathon sepanjang hidup saya.

Awalnya saya berniat untuk mengambil Virgin Full Marathon (VFM) di event Borobudur Marathon tanggal 17 Nopember 2019, saya sudah mempersiapkan itu jauh hari sebelumnya dengan mengikuti panduan berlari Marathon secara bertahap melalui sebuah aplikasi pencatat aktivitas lari, selain itu juga bertanya pada teman2 pelari yang punya pengalaman di kategori Full Marathon, namun pada akhir bulan September 2019 saya berpindah tempat kerja dari Balikpapan ke Jakarta yang rupanya kantor yang di Jakarta berencana pindah gedung kantor yang semula di daerah Gatot Subroto ke kawasan SCBD, dilalah rencana kepindahan tersebut bersamaan waktunya dengan pelaksanaan event Borobudur Marathon, membuat galau diri saya, apakah menunda Virgin FM di tahun berikutnya mengingat event Borobudur Marathon adalah event lari terakhir tahun ini yang membuka kategori Full Marathon dan tahun depan baru ada berbulan-bulan lagi diadakan, atau mempercepat pelaksanaan VFM ke event lari terdekat.

Saya berdiskusi dengan beberapa teman pelari apakah saya menunda atau mempercepat VFM saya, karena kebetulan sekali event Jakarta Marathon tinggal 3 hari lagi, dan saya harus segera memutuskan apakah percepat atau tunda.

Mengingat jumlah setoran lari dan catatan waktu lari yang sudah saya lakukan untuk persiapan FM ini sudah mencukupi, bertanya dengan teman pelari yang sudah berpengalaman di kategori FM, akhirnya saya memutuskan untuk membeli slot lari kategori FM Jakarta Marathon, salah satu pertimbangannya selain penjelasan diatas juga karena saya tidak ingin kehilangan moment semangat berlari saya untuk bisa berlari lebih jauh lagi atau finish Full Marathon sebelum tahun berganti.

Orang bilang cuaca di Jakarta yang panas sangat menantang pelari untuk menaklukan lintasan jalur Full Marathon, belum lagi polusi dan kendaraan yang sangat banyak yang pada akhirnya para pelari akan berlari beriringan dengan lalu lalang kendaraan di Jakarta yang seringnya tidak patuh pada aturan, menjadi tantangan tersendiri. Yang pelari FM pengalaman saja sudah menjelaskan demikian, bagaimana dengan saya yang baru akan menikmati jalur berlari Full Marathon? Kita lihat nanti …

Hari sabtunya, saya sengaja memesan penginapan dekat lokasi berlari, agar persiapan saya semakin baik dan tidak ter-buru2 apabila saya baru berangkat dari rumah, mengingat start untuk kategori FM adalah pukul 04:30, itu sekitar 30 menit setelah adzan subuh berkumandang.

Sabtu siang saya sudah berada di penginapan, menyamankan diri bersitirahat, sesampai di kamar, saya berkomunikasi dengan teman2 sambil bertukar cerita tentang kostum lari apa yang akan dipakai nanti, salah satunya adalah sepatu, saya bilang akan menggunakan sepatu yang baru sekitar 30 KM jauhnya saya pakai untuk berlari, dan itupun dibuat dalam bentuk 3x 10KM, anggaplah baru dibanding dengan beberapa sepatu lari saya yang lain yang sudah mempunyai jarak berlari yang lebih jauh dan usia sepatu yang lebih tua dari sepatu yang saya bawa dan akan saya pakai untuk Jakarta Marathon ini.

Namun rupanya teman2 memberi pertimbangan agar memakai sepatu lari yang sudah benar2 nyaman di kaki saya, selain itu saya baca di artikel bahwa memang sebaiknya jangan menggunakan sepatu lari yang belum terlalu lama di pakai, atau aksesoris yang belum pernah dipakai untuk menghindari ketidaknyamanan saat berlari nanti, mengingat jarak berlari yang sangat jauh.

Akhirnya saya putuskan saat itu juga pulang ke rumah untuk mengganti sepatu lari saya dengan sepatu yang selalu saya gunakan untuk berlari, untungnya hari masih belum terlalu sore dan jarak ke rumah tidak terlalu jauh, setelah itu saya kembali ke penginapan, sesampai di penginapan saya bertemu dengan Susan, runner dari Sukabumi yang juga ikut Jakarta Marathon ini, namun dia mengambil kategori Half Marathon.

Malamnya setelah shalat isya dan makan malam, saya menyamankan diri saya, tidur lebih awal sehingga punya waktu istirahat cukup untuk berlari besok pagi.

Besok paginya sekitar jam 02:45 pagi saya sudah bangun, mandi dan berkostum yang sudah saya siapkan malam harinya, aksesoris wajib yang saya selalu bawa adalah kacamata hitam, botol air, energy gel dan earphone untuk mendengar music saat berlari, tidak lupa seluruh kaki saya olesi dengan salonpas kream, seyelah semuanya siap, memesan ojek online menuju lokasi, jarak penginapan saya sekitar 10 menit berkendara motor menuju Gelora Bung Karno, sesampai disana jam 03:30, lalu berJalan kaki menuju musholla untuk shalat subuh, saya memang sengaja datang lebih awal pertimbangan tidak terburu2 menuju garis start mengingat yang akan menunaikan shalat subuh pasti banyak sementara ruangan yang disediakan terbatas, pukul 04 pagi adzan berkumandang, segera kami menunaikan ibadah shalat subuh berjamaah dan setelah itu segera menuju lintasan garis start. Sebelum start dimulai teman runner saya, Opiet, memberi saya supplement yang katanya bisa menjaga stamina tetap terjaga. Sebelumnya saat masih di penginapan saya memakan 1-2 buah pisang untuk menjaga agar perut tidak kosong saat berlari.

Pukul 04:30 pagi start kategori Full Marathon, start berJalan dengan mulus, dalam perlarian di KM2 awal saya bertemu dengan beberapa pelari yang sudah saya kenal, terus berlari sampai dengan 5 KM pertama Jalan masih datar, start dari GBK, lalu lalu keluar melewati Jalan Pemuda, lalu belok kiri ke arah Slipi, terus lagi sampai di perempatan berbelok ke kanan menuju Tomang, lurus terus sampai perempatan Harmoni, dihitung sudah berjarak sekitar 10 KM.

Dari perempatan Harmoni belok kiri terus lurus melewati Jalan Gajah Mada dan Hayam Wuruk, Glodok ke arah setasiun Kota, lalu memutari kawasan Kota Tua, melewati Museum Mandiri, Museum Bank Indonesia, Museum Seni Rupa, Museum BNI 46 lalu bertemu kembali dengan Setasiun Kota Tua. Sepanjang Jalan cuaca masih sejuk, kendaraan belum terlalu banyak karena memang masih pagi sekali, jadi masih cukup nyaman untuk berlari.

Dari Setasiun Kota Tua, pelari kembali melewat Glodok, Hayam Wuruk dan Gajah Mada sampai perempatan Harmoni, saat melewati daerah Gadjah Mada ini betis mulai timbul gejala kram, tetapi masih hilang timbul, saya masih mampu berlari.

Dan saya tetap berlari terus sampai perempatan Harmoni dari sana belok kiri melewati Jalan Ir H Juanda ke arah Pasar Baru, sesampai di Gedung Kesenian, belok kanan menuju Kawasan Lapangan Banteng yang bersebelahan dengan Gereja Katedral dan Mesjid Istiqlal, saat di daerah Lapangan Banteng, jalur lari berbelok ke kiri menuju arah SMA Budi Oetomo, setelah itu memutar balik ke arah Lapangan Banteng, lalu melewati Kementerian Luar Negeri di Jalan Pejambon dan akhirnya bertemu dengan Setasiun Gambir yang berseberangan dengan Gereja Imanuel dan Galeri Nasional, lurus terus sampai bertemu dengan Patung Tugu tani, semua pelari berputar menuju Jalan Menteng Raya. Kaki masih lumayan nyaman saat itu untuk berlari.

Saat di kawasan Lapangan Banteng saya bertemu dengan pelari yang sama2 pertama kali mengambil kategori Full Marathon, istilah dikalangan pelari adalah Virgin Full Marathon, Sendy Pratama, beberapa kali kami beriringan berlari, kadang saya lebih dulu di depan, kadang teman yang lebih dulu di depan secara bergantian.

Dari kawasan Menteng Raya, pelari menuju Jalan Cikini Raya sampai melewati Setasiun Cikini, Gedung Metropole, belok kiri ke arah Salemba dan para pelari berlari di kawasan Salemba dan Menteng yang sejuk dan asri, kebetulan sekali cuaca hari itu tidak panas seperti yang di khawatirkan, karena beberapa hari terakhir di Indonesia terutama di beberapa kota, cuaca sangat panas sekali, termasuk Jakarta, sehingga para pelari diingatkan akan adanya cuaca yang sangat panas melebihi panas biasanya.

Mulai di daerah Salemba dan Menteng inilah, kaki sudah benar2 tidak bisa di ajak berlari, tiap kali kaki diajak berlari, beberapa puluh meter kemudian otot2 betis mulai menyerang kram, sehingga terpaksa berhenti berlari dan berganti dengan power walk, berJalan kaki dengan langkah yang cepat, begitu terus bergantian antara berlari sebentar dan power walking.

Kini saya sudah memasuki kawasan Jalan HR Rasuna Said Kuningan, Jalan yang membuat ingatan saya kembali ke suasana berlari saat event lari Milo 10K, kaki sudah benar2 tidak bisa diajak berlari, berJalan cepat pun rasanya sudah tidak secepat yang saya harapkan, namun saya tetap semangat, sesekali saya melihat jam tangan saya untuk melihat progress lari saya dan waktu tempuh yang sudah saya selesaikan, dari kawasan Kuningan estimasi perkiraan masih sekitar 12 KM lagi sampai finish, masih ada waktu yang cukup buat saya bisa menyelesaikan tantangan berlari ini, sudah tidak ada lagi pelari yang saya kenal sepanjang lari.

Saya terus berJalan cepat karena kaki sudah tidak bisa berlari, saat berJalan cepat itu, tiba2 paha kiri saya yang bagian dalam seperti mulai gejala kram, mulai terasa keras dan sakit, secara bersamaan juga betis2 saya mulai keras dan sakit, saya coba tahan dan mulai mengendurkan kecepatan berJalan saya dan bahkan sempat berhenti sebentar karena sakit sekali. Pelan2 saya santaikan diri saya, nyamankan kaki saya dengan harapan sakit2 tersebut segera hilang.

Dan Alhamdulillah cara saya berhasil, segala sakit yang tadi saya rasakan berangsur hilang, saya sudah bisa berJalan kembali dari pelan dan kembali lebih cepat.

Tidak terasa jarak tempuh tinggal 5KM lagi, dan saya sudah senang sekali karena sudah berada di ujung perempatan kuningan tinggal berbelok ke kiri menuju Jalan Gatot Subroto, sebagai lintasan terakhir, target waktu 6 jam sudah lewat, tidak apa saya fikir, yang penting dan yakin saya bisa finish tidak melebihi batas waktu yang ditentukan, maksimal 7 jam.Namun ternyata masih harus melewati tanjakan satu lagi setelah melewati terowongan under pass Mampang, setelah melewati tanjakan lalu berputar sebentar untuk kembali ke Jalan Gatot Subroto, jam sudah menunjukkan pukul 10:45, saya fikir saya harus segera menyelesaikan lomba ini, saya kuatkan semangat saya untuk tetap berlari, sepanjang Jalan sudah banyak komunitas lari yang memberi semangat menyemangati para pelari terutama mereka yang tergabung dalam komunitas tersebut seperti terasa mendapat tambahan semangat lagi, apalah saya yang hanya seorang pelari sendiri yang tidak punya komunitas sehingga saya harus benar2 memberi semangat buat diri saya sendiri, meyakinkan saya agar bisa menyelesaikan tantangan lari ini.

Di KM2 terakhir beberapa kali saya lihat pelari yang mengerang kesakitan, entah karena heat stroke, atau karena kaki yang sakit atau kram yang sangat menyakitkan, mereka menangis kesakitan sekaligus sedih karena tinggal sedikit lagi akan selesai namun mereka terpaksa harus berhenti.

Tak henti-hentinya saya selalu berdoa, membaca shalawat, menenangkan diri sambal terus berJalan cepat agar tetap diberi semangat menyelesaikan.

Tanda petunjuk KM 41 berada di Jembatan Semanggi sudah dilewati, papan petunjuk KM 42 di sekitar  Gedung JCC sudah dilewati dan kini pelari sudah mulai berbelok ke kiri ke Jalan Gerbang Pemuda, sambutan sorak sorai sudah mulai terasa lebih ramai, di penghujung lari teman saya Susan menyambut saya, menemani saya berlari menuju garis finish, saya mencoba kembali berlari kecil2, namun sebentar saya berlari kaki sudah kembali sakit, seratus meter lagi sudah selesai, gerbang finish sudah sangat tampak di depan mata, saya kuatkan saya paksakan kaki untuk berlari sampai garis finish.

Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan tantangan berlari Full Marathon ini dengan selamat, strong dan bahagia, catatan waktu di jam tangan saya menunjukkan pukul 11 siang, yang berarti saya menyelesaikan tantang berlari Full Marathon selama 6 jam 27 menit, masih batas aman dari batas maksimal berlari selama 7 jam.

Rasa haru menyeruak dalam diri saya, menangis tertahan sambil berJalan untuk menerima medali dan jersey finisher. Teman pelari, Ibenk datang menyambut saya, memberi selamat dan memeluk saya karena melihat saya terharu.






Alhamdulillah, akhirnya saya bisa menyelesaikan tantangan berlari kategori Full Marathon dengan suasana menyenangkan, sesuatu yang dulu tidak terbayangkan oleh saya bisa berlari sampai sejauh itu. Pengalaman berlari sampai sejauh itu menjadi cerita tersendiri buat saya untuk diceritakan, terpisah dari cerita tentang pengalaman berlari sebelum-sebelumnya.

Begitulah pengalaman saya dalam menyelesakan tantangan berlari sejauh 42,195 KM, Full Marathon, sebuah jarak berlari yang tidak pernah terbayangkan dari saya yang bisa saya selesaikan, dan Allah memberi saya nikmat sehat sehingga saya bisa menyelesaikan tantangan berlari ini.

Sambil menulis ini, sesekali saya masih menitikan air mata haru mengingat pengalaman itu.

Pengalaman Berlari


Cerita tentang berlari, dari dulu sebenarnya saya suka berlari meski hanya sebatas jarak-jarak pendek, dan seringnya tidak secara rutin saya lakukan, saat penugasan di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara, banyak sekali waktu yang saya miliki untuk beraktivitas, saya fikir kenapa tidak saya isi dengan kegiatan berlari, kota yang sepi, cuaca juga lumayan bersih, sebenarnya bersih, tetapi rupanya di Pulau Halmahera terdapat Gunung Dukono yang aktif yang sering mengeluarkan debu tebal ke udara yang mengotori udara di sekitarnya, bahkan jika sedang sangat aktif sampai menjadi hujan debu yang tebal yang menyisakan gumpalan debu yang sangat tebal seperti butiran pasir, jadi ketika udara sedang bersih, minggu sore menjelang maghrib saya selalu mencoba berlari mengelilingi komplek kantor bupati, lumayan meski hanya 2-3 KM, tetapi itu sudah sangat melelahkan buat saya, kadang berganti menjadi setiap minggu pagi setelah shalat subuh, berlari di kawasan Pelabuhan Tobelo yang belum lama diresmikan oleh Presiden RI.

Karena belum punya panduan berlari yang baik, jadi buat saya berlari dengan jarak yang sudah saya tempuh sudah sangat baik buat saya, sudah sangat melelahkan buat saya.

Saya sering melihat atau membaca artikel tentang berlari atau event lari, bahkan saya suka bergumam atau membayangkan seandainya saja saya bisa ikut terlibat di acara seperti itu, sepertinya akan sangat menyenangkan, melihat orang memposting koleksi medali hasil lari mereka di media sosial sepertinya menarik dan saya berandai-andai seandainya saja saya bisa seperti itu, selama ini saya sering posting foto aktivitas snorkeling atau diving sebagai aktivitas olahraga air yang sangat saya suka, kalau saja ada event lari yang bisa saya ikuti, munkin saya akan bisa posting medali hasil olahraga lari, fikir saya saat itu.

Timbul tenggelam, sampai pada suatu ketika teman saya, Muhlis Ulum bercerita tentang sukanya dia akan suasana event berlari dan mengajak saya untuk ikutan event berlari, saya bilang ke dia, saat ini saya tidak bisa ikut acara itu karena pertimbangan waktu dan biaya yang mahal mengingat lokasi saya saat itu ada di Indonesia Timur, sementara event lari sering diadakan di Indonesia Barat. Tetapi saya bilang ke teman saya, seandainya jarak saya sudah lebih dekat lagi ke Jawa, saya akan pertimbangkan untuk bisa ikut acara-acara lari seperti itu.

Waktu terus berjalan dan seiring waktu terlupakan tentang event lari tersebut, tetapi saya tetap berlari dengan jarak tempuh seperti biasa.

Di akhir bulan Ramadhan tahun 2018, tiba2 saja ada berita gembira bahwa saya pindah mutasi tugas ke Kalimantan, tepatnya di Kota Balikpapan, dan kebetulan sekali teman yang dulu suka bercerita tentang lari juga bertugas di kota yang sama, sebuah kebetulan yang baik.

Saya bilang ke teman saya, sekarang saya sudah lebih dekat ke Jawa, seandainya ada event lari yang diadakan, saya akan ikut.

Dilalah pada bulan Oktober 2018, teman saya merekomendasikan untuk ikut event lari untuk skala kecil dulu, ada beberapa event lari di Balikpapan yang bisa saya ikuti, kebetulan ada event lari yang sebentar lagi diadakan, namanya Herbalife Run Balikpapan, ada dua kategori yaitu jarak 4KM dan 10KM, karena saya masih sangat awam dengan dunia lari-lari seperti itu, teman saya merekomendasikan untuk ikut yang 4KM terlebih dulu sebagai event lari pemanasan sebelum yakin untuk ikut jarak yang lebih jauh.

Selama ini jarak terjauh berlari saya adalah 3KM dan itu sudah sepenuh tenaga saya lakukan mengingat saya belum tahu bagaimana teknik berlari dan pernafasan yang baik saat berlari, dan akhirnya saya mulai berlatih rutin berlari kembali, mengulang dari awal, mulai mencicil jarak berlari sedikit demi sedikit semakin jauh dan Alhamdulillah saya sudah bisa berlari sejauh 3,5KM saat itu.

Dan pelaksanaan event itu pun tiba, waktu lari dimulai jam 7 pagi, entah kenapa se-siang itu, karena jam segitu di Balikpapan matahari sudah cukup tinggi, bisa menguras tenaga bagi saya yang terbiasa lari pagi sebelum matahari tinggi atau saat matahari sudah bersahabat sinarnya di sore hari menjelang maghrib, namun tidak ada masalah, inilah kali pertama saya mengikuti sebuah event berlari, teman saya mengajak saya memang untuk merasakan suasana event berlari yang sangat berbeda dengan lari sendiri atau lari bareng di kawasan tertentu.

Saya perhatikan sedikit demi sedikit mulai berdatangan para calon pelari dengan pilihan kategori masing-masing, dengan aneka kostum dan aksesories lari mereka, bermacam-macam, memang terasa berbeda sekali suasananya, meskipun teman saya bilang ini baru skala kecil dari sebuah event lari, ke depannya nanti akan banyak lagi event lari yang lebih bagus dan menarik serta tentunya dengan pilihan jarak berlari yang semakin beragam.

Catatan waktu saya untuk pengalaman berlari saya pertama untuk jarak 4,79KM adalah selama 39 menit, catatan waktu yang baik buat pelari pemula seperti saya, sangat menyenangkan, pengalaman berlari pertama dalam sebuah event ini sangat berkesan buat saya, sejak saat itu saya jadi semakin tertarik mengikuti event berlari, saya jadi semakin rajin berlari, berlatih memperpanjang jarak berlari sekaligus berlatih pernafasan, secara autodidak, membaca artikel2 yang beredar dan semacamnya.






Setelah itu teman saya menawarkan saya untuk ikut event lari yang besar, Borobudur Marathon di Magelang bulan Nopember, tetapi jarak berlari terpendek adalah 10KM, tantangan yang besar buat saya karena saya baru mampu berlari sejauh 4KM, tetapi saya sanggupi tantangan itu dengan ikut mendaftar dan sambil menunggu saatnya tiba yang masih beberapa minggu lagi, saya manfaatkan berlatih berlari menambah jarak KM saya berlari.

Masih ada kesempatan 4 minggu lagi buat saya berlatih sblm Borobudur Marathon, dan kebetulan di awal Nopember ada event berlari dalam rangka kampanye kanker yang diselenggarakan di Balikpapan, tantangan berlarinya cukup baik, yaitu 8KM, sangat membantu saya untuk meningkatkan kepercayaan diri saya berlari.


Selain itu juga saya ikut event lari virtual, dalam artian ikut event berlari tetapi larinya tidak dalam sebauh event, larinya di kota masing-masing, nanti hasil larinya kita upload ke website yang sudah disediakan, jika hasil lari kita di validasi dan dinyatakan valid, kita berhak atas medali finisher dana tau jersey finisher (kalau ada), tantangan lari virtual ini 10KM, cukup buat saya untuk mengukur hasil lari saat Borobudur Marathon nanti.


Dan semuanya berhasil saya lariin, catatan waktu berlari untuk 8KM saya tempeh dalam waktu selama 1 jam dan untuk 10KM berhasil saya lariin selama 1 jam 20 menit, saya semakin percaya diri akan mampu menyelesaikan lari di event Borobudur Marathon.

Dan tibalah Borobudur Marathon 10K, sebuah event lari yang sangat meriah dan terbesar di Indonesia, ribuan peserta lari berdatangan dari berbagai kota di seluruh Indonesia, penjelasan panitia menyebutkan bahwa jumlah peserta lari tahun ini sebanyak 10 ribu orang yang terbagi ke dalam berbagai  kategori mulai dari 10KM, 21KM atau HM dan 42,195KM atau FM, sementara saya mengambil kategori 10KM sebagai awal mulai berlari saya.



Benar-benar sebuah event lari yang sangat meriah, sepanjang jalan penuh dengan sambutan meriah dan hangat masyarakat sekitar dengan aneka hiburan music, tarian, teriakan dan tepuk tangan penyemangat kami berlari.

Setelah Borobudur Marathon berakhir, saya benar-benar terbius dengan athmospher event lari dan saya mulai menikmati berlari, karena setelah itu saya sudah mendaftar ke beberapa event lari sampai akhir tahun, mulai dari HUT Bank Kaltimtara, 2XU Compression, Pertamina Eco Run dan beberapa event lari Virtual lainnya sampai akhir tahun 2018.







Memasuki tahun 2019, saya semakin meningkatkan kemampuan berlari, di awal tahun saya mengikuti event lari di GBK Senayan, Bangun Cipta Run, kemudian pertama kali saya mengikuti event berlari untuk kategori Half Marathon, jarak tempuh 21KM, sebuah lompatan besar buat hidup saya dalam berlari, tidak tanggung-tanggung saya ikut di event lari Volcano Run yang mana tanjakannya sangat menantang, dan Alhamdulillah saya berhasil melewati tantangan berlari kategori HM dengan baik, catatan waktu untuk pemula seperti saya selama 3 jam 10 menit, kemudian bulan berikutnya saya ikut event lari BFI Run untuk kategori yang sama dan saya berhasil memperbaiki catatan waktu berlari saya menjadi 2 jam 45 menit.






Setelah bulan traveling dan Puasa Ramadhan, saya lanjutkan mengikuti event berlari di Jakarta Milo International 10K, kemudian Pocari Sweat Bandung Marathon HM, Surabaya Marathon HM, Bogor Half Marathon dan terkahir Bali Marathon kategori HM.













Daya pikat berlari semakin menarik perhatian saya dan pada akhirnya saya memberanikan diri, berniat untuk mengambil kategori yang lebih jauh lagi jarak berlarinya, yaitu Full Marathon, berlari sejauh 42,195KM, bagaimana pengalaman berlari di kategori FM, akan saya ceritakan di tulisan saya berikutnya.

Demikian pengalaman berlari saya, sebuah perubahan gaya hidup saya yang selama ini hanya berlari jarak sangat pendek dan tidak rutin kemudian menjadi sebuah hobby yang bikin ketagihan dan bahkan mampu berlari lebih jauh lagi, lebih jauh dari yang selama ini saya bayangkan.

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...