Rabu, 19 April 2017

Another Diving Story - Pantai Jikomalamo Ternate

Cerita tentang Diving kembali berlanjut, weekend kemarin, teman mengajak saya untuk diving lagi di Ternate, bersama dengan pemandu diving sebelumnya, namun kali ini dengan lokasi berbeda, jika sebelumnya kami lakukan di sekitar pantai Taman Nukila, kali ini kami lakukan di pantai antara Taman Falajwa dengan Pelabuhan A Yani Ternate dan esoknya kami lakukan di Pantai Jikomalamo.

Jumat sore sepulang kantor saya bersama teman2 bergegas berkendara menuju Ternate, saya, selain itu ada Tajy yang akan diving bareng, lalu ada Anggi dan Rory yang akan pulang ke kota masing-masing.

Jumat malam tiba di Ternate, lalu kesepakatan diving pertama akan dilakukan pada esok hari sabtu sekitar pukul 1 siang di daerah jembatan, entah jembatan mana yang dimaksud, saya kurang paham, namun sampai waktu yang disepakatai tunggu punya tunggu belum nampak juga kabar kepastian diving, sempat berfikir kalau sabtu ini tidak ada aktifitas diving yang dilakukan, daripada iseng tidak jelas, saya sempatkan mampir ke Jatiland Mall untuk membeli keperluan di Tobelo.

Tidak lama kemudian akhirnya ada kabar bahwa diving jadi dilakukan pada sore hari sekitar pukul 5 sore di pantai antara Taman Falajawa dengan Pelabuhan A Yani, alasan keterlambatan pelaksanaan dikarenakan ada salah satu pemandu yang sedang menyelesaikan ujian akhir terkait pendidikan yang sedang dilakukannya.(doc : statik.tempo.co)

Pemandu kali ini adalah Bang Emang, sementarra Bang Eby hanya menemani dan satu lagi Bang Pitok sebagai pemegang peralatan juga mengawasi aktivitas diving, dikawasan situ rupanya sudah mulai banyak orang melakukan aktiftias entah ada yg hanya sekedar berenang, fre diving atau snorkeling ataupun bajibu – memancing ikan dengan senapan tradisional – disamping kami yang melakukan diving, suasana sangat ramai dan kebetulan cuaca cukup kondusif untuk melakukan aktifitas di sore hari. 

Ketika akan memulai diving, bang Emang menjelaskan bahwa saat dibawah permukaan kita akan menemukan grafiti I LOVE TERNATE yang sengaja diciptakan sebagai bagian dari daya tarik spot wisata underwater di Ternate, namun sayangnya lokasi disekitar itu sudah hampir tidak ditemukan gugusan karang karena lokasinya memang sangat dekat dengan pelabuhan dimana banyak kapal-kapal besar bersandar.Setelah puas bermain di bawah air, hari ini selesai sudah aktivitas diving, selesai itu selebihnya saya coba snorkeling seperti yang dilakukan yang lain sampai bosan.





Untuk hari Minggu esoknya kami kembali sepakat untuk diving yang dimulai pukul 8 pagi di Pantai Jikomalamo.

Pagi harinya sekitar pukul 8 saya berdua dengan teman saya sudah tiba di Pantai Jikomalamo yang berada dibalik gunung Gamalama, namun kembali pelaksanaan mundur entah dengan alasan apa, sambil menunggu kedatangan mereka, saya sempatkan snorkeling dulu untuk mengenali kawasan Pantai Jikomalamo yang menjadi spot wisata air yang katanya belum lama dipermudah aksesnya, karena memang akses menuju Pantai Jikomalamo agak jauh masuk ke bawah.


Sekitar pukul 10:30 akhirnya mereka datang, kali ini Bang Eby membawa serta keluarganya dan ditambah Bang Ari yang kemarin tidak sempat ikut.

Kondisi pantai Jikomalamo itu sangat terlihat jelas sekali gradasinya, ada spot dengan permukaan air yang jernih yang digunakan untuk mereka yang belum berani ke tengah permukaan yang lebih dalam, ditengah pantai terdapat semacam dermaga dimana jika kita berdiri di ujung dermaga tersebut akan nampak jelas garis lengkungan batas gradasi antara permukaan dangkal dengan yang lebih dalam, ada semacam cekungan yang lebar.

Jika sekedar snorkeling dipermukaan saja, sudah cukup menarik, karena jika beruntung kita akan menemukan gerombolan ikan kecil-kecil yang beraneka warna yang berkelap-kelip karena begitu banyaknya.
Saat kami diving, kami langsung masuk ke dalam cekungan tersebut, udara sangat cerah hari itu, dengan sinar matahari menembus ke bawah sehingga permukaan dibawah sangat terang karena adanya sinar matahari tersebut.
Dari bawah saya melihat sendiri beberapa orang melakukan aktivitas free diving, dengan hanya menggunakan kacamata renang dan google atau hanya dengan kacamata renang saja, keren banget. 

Bentuk cekungan itu sendiri kalau diperhatikan seperti membentuk sebuah mangkuk setengah bagian, pada saat kami asyik diving, Bang Emang memberi isyarat dan sambil menunjuk ke arah kawasan yang ternyata ingin menunjukan kepada kami batas permukaan yang lebih dalam lagi kebawah dan katanya dibawah sana terdapat ikan hiu, saya perhatikan sekeliling permukaan bawah laut yang lebih dalam lagi yang semakin gelap karena keterbatasan cahaya matahari, biru dan dingin, nampak dari kejauhan saya perhatikan seperti ada semacam tanah lapang luas di bawah jurang sana, cukup menimbulkan suasa magis saat menatapnya, kami tidak berlama-lama di batas jurang tersebut karena Bang Emang mengajak kami bermain di area cekungan yang luas tersebut.










Kami sangat menikmati aktivitas diving saat itu.
Begitulah aktivitas diving kami pada weekend ini.

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...