Langsung ke konten utama

Mercu Suar Tanjung Bobo




Dalam suatu perjalanan dinas ke Kota Jailolo, Kabupaten Halmahera Barat, saya menyempatkan diri berkunjung ke Menara Suar yang ada di Desa Bobo, Desa Bobo ini berjarak sekitar kurang lebih 6-7 KM dari Kota Jailolo.

Sebenarnya keinginan untuk melihat Menara Suar tersebut sudah lama semenjak teman kantor bercerita sudah pernah sampai naik ke atasnya, beberapa kali ada kesempatan melakukan perjalanan dinas ke Jailolo namun baru sekarang kesempatan itu datang.


Setelah shalat ashar di Mesjid Raya Sigi Lamo Jailolo yang terletak di depan Taman Festival Teluk Jailolo, saya membuka google maps untuk mencari lokasi tepatnya keberadaan Menara Suar tersebut, dan ternyata lokasinya berada di Desa Bobo yang berjarak sekitar 6-7 KM dari lokasi Taman Festival Teluk Jailolo. Dengan berkendara mobil saya coba ikuti jalur yang dipandu oleh google maps dan tidak lama kemudian sampailah saya di gerbang Desa Bobo, namun keberadaan Menara Suar belum ada sampai akhirnya dari kejauhan di atas bukit saya melihat seperti menara yang berwarna puith, sedikit ragu apakah menara itu yang dimaksud atau bukan karena lokasinya yang jauh dari Desa Bobo.


Setelah berjalan sebentar saya menanyakan ke seorang warga yang melintas dan memberitahu jalan menuju menara suar tersebut, namun saya sempat kebingungan karena tidak ada tanda-tanda petunjuk arah ke menara suar dari arah jalan Desa Bobo, sampai akhirnya seorang warga memberitahu arah yang lebih pasti. Mengikuti belokan yang ditunjukkan saya lalui jalan tersebut namun bukannya mendekat ke arah menara tapi ini malah semakin menjauh, saya penasaran dan bertanya ke warga yang lewat dan memberitahu kalau saya sudah berada di Desa Saria dan sudah terlalu masuk kedalam dan melewati titik dimana seharusnya saya berhenti.

Lantas saya memutar balik lalu di titik dimana saya harus berhenti dan saya kembali menanyakan ke warga jalan menuju ke menara suar. Seorang bapak menjelaskan bahwa untuk menuju menara suar saya harus berjalan kaki menaiki bukit yang lumayan menanjak. Bapak itu menanyakan apakah saya berani sendiri berjalan ke menara suar mengingat kondisi jalannya, saya menyanggupi tapi bapak tersebut menyarankan saya untuk didampingi penduduk setempat karena khawatir saya tidak menemukan jalan tersebut apalagi saat itu sudah sore dan sebentar lagi matahari akan tenggelam.

Akhirnya saya ditemani oleh seorang anak muda yang bernama Faldi yang bersedia dengan senang hati menemani saya ke menara suar dan ternyata jalan menuju kesana menanjak, melewati hutan dan kebun dan cukup melelahkan karena tidak menyangka akan seperti ini perjalanannya, untungnya saya membawa air minum sehingga saya tidak terlalu merasa kelelahan. Meski melelahkan namun kita dimanjakan dengan pemandangan yang sangat mempesona.
 


Setelah melewati beberapa tanjakan akhirnya sampai juga saya di lokasi menara suar tersebut, sesampai disana saya diberitahu oleh Faldi untuk meminta izin kepada penjaga menara untuk bisa naik ke atas, alhamdulillah petugas yang kebetulan sekali merupakan sepupu Faldi mengizinkan saya untuk naik keatas dan mengingatkan untuk tidak menginjak baik panel di atas menara karena digunakan untuk keperluan sinyal.


Menara suar ini bentuknya seperti menara operator telekomunikasi namun tentunya dengan rangka baja yang lebih kokoh dan lebih tinggi, tadinya saya bayangkan jika menara suar ini berupa tower yang dibalut dengan tembok dan di cat warna putih yang jika kita naik kita akan langsung muncul di bagian paling atas menara. Menara suar Desa Bobo ini transparan dari atas sampai bawah, jadi semakin tinggi kita naik ke atas, kengerian-nya semakin tinggi, faktur usia turut mempengaruhi, dulu saat usia masih kepala dua munkin lebih berani sampai naik ke puncak, tapi sekarang saya hanya cukup sampai setengah menara saja hehehehehe.
 
 
 
 

Namun demikian pemandangan dari ketinggian setengah menara saja sudah nampak sangat jelas dari kejauhan gugusan Pulau Ternate, Tidore, Pulau Hiri dan Pulau Maitara, apalagi saat itu matahari sudah hampir tenggelam dengan sinar warna merah keemasan turut mewarnai langit sore itu.
 
 
 
 
 

Dari atas ketinggian tersebut juga saya bisa melihat dengan jelas garis batas pantai, nampak begitu luasnya laut berwarna biru yang merupakan selat halmahera terbentang, saya juga bisa melihat Desa Bobo, Desa Bobojiko, Desa Payo dan Desa Saria yang merupakan kawasan desa-desa sekitar menara.

Faldi dan temannya mengajak saya untuk naik lebih keatas, namun saya tetap bertahan di tengah menara, saya coba naik sedikit lebih tinggi namun rasa kurang nyaman semakin berasa, akhirnya saya mengalah, saya meminta tolong ke Faldi untuk minta diambilkan beberapa foto dari atas puncak menara suar.
 
 


Selesai turun dari Menara saya diajak ke rumah Faldi dan ditraktir minum kelapa oleh keluarganya, setelah transfer foto yang tadi diambil dari menara dan say thank you, saya pun kembali ke Jailolo selepas maghrib.

Demikian perjalanan saya ke Menara Suar Tanjung Bobo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari

Cerita tentang berlari, dari dulu sebenarnya saya suka berlari meski hanya sebatas jarak-jarak pendek, dan seringnya tidak secara rutin saya lakukan, saat penugasan di Tobelo, Halmahera, Maluku Utara, banyak sekali waktu yang saya miliki untuk beraktivitas, saya fikir kenapa tidak saya isi dengan kegiatan berlari, kota yang sepi, cuaca juga lumayan bersih, sebenarnya bersih, tetapi rupanya di Pulau Halmahera terdapat Gunung Dukono yang aktif yang sering mengeluarkan debu tebal ke udara yang mengotori udara di sekitarnya, bahkan jika sedang sangat aktif sampai menjadi hujan debu yang tebal yang menyisakan gumpalan debu yang sangat tebal seperti butiran pasir, jadi ketika udara sedang bersih, minggu sore menjelang maghrib saya selalu mencoba berlari mengelilingi komplek kantor bupati, lumayan meski hanya 2-3 KM, tetapi itu sudah sangat melelahkan buat saya, kadang berganti menjadi setiap minggu pagi setelah shalat subuh, berlari di kawasan Pelabuhan Tobelo yang belum lama diresmikan ol

Singapura - Marina Bay dan Merlion Park

Masih tentang Singapura ... Selain jalan2 di Orchard Road, kita juga bisa berkunjung dan berfoto di Patung Merlion yang ada di kawasan Raffles, patung singa ini menjadi icon singapore dan bahkan sampai sekarang, namun setelah beberapakali kunjungan ke kawasan ini, suasanya sudah banyak berubah, bila kita melihat dengan posisi seperti patung merlion, yang kita lihat hanyalah laut yang luas. Namun sekarang dengan posisi yang sama kita bisa melihat Marina Bay Sand Hotel dan Resort, perubahan yang sangat cepat sudah terjadi d sini.  Background belum ada Marina Bay Sand    setelah ada Mrina Bay Pemandangan pada malam hari Sebelum mencapai foto diatas, sepanjang perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan seperti ini kalau malam hari      Ramai pengunjung yang datang ke sini untuk sekedar berfoto dengan gaya-nya masing2, ada yang datang berombongan, berduaan ataupun selfie sendirian. Kawasannya sangat luas dan nyaman sehingga membuat or

Pengalaman Berlari di Masa Pandemi #2

…. Lanjutan dari tulisan sebelumnya  Juli Bulan Juli, kegiatan tidak jauh berbeda dengan bulan sebelumnya, tetapi di Bulan Juli ini saya sempat berkunjung ke Curug Cigamea yang ada di kaki Gunung Salak, Taman Nasional Gunung Halimun, Gunung Salak.  Seminggu kemudian saya bersama teman-teman lari juga main ke Bandung sekalian merasakan kembali suasana berlari di event lari Pocari Sweat Bandung Marathon yang seharusnya diadakan pada tanggal tersebut, namun karena pandemic akhirnya event tersebut dibatalkan, tetapi diganti dengan event lari Pocari Sweat Virtual Run.  Agustus Bulan Agustus, Alhamdulillah keluarga besar sudah bisa datang ke rumah sekalian selamatan atas rumah yang kembali saya tempati, event berlari masih tetap lari mingguan, kadang ada teman lari yang ngajak lari bareng dengan jarak tempuh yang lebih jauh disamping jarak tempuh rutin tetap dilakukan.  Pocari Sweat Virtual Run 10K juga diselenggarakan di bulan ini dan saya juga sudah menyelesaikan event virtual run ini deng