Sabtu, 12 Agustus 2017

Jelajah Iran - Tehran ( part 2 )

Sekitar jam 8 pagi saya sudah tiba di Jonoob Bus Terminal Tehran, saya kembali menginap di Seven Hostel, dengan prosedur yang sama, tetapi dengan staff yang baru ini saya diberi kemudahan lebih banyak dimana saya sudah boleh menempati kamar yang akan saya pakai karena kebetulan hari itu tidak sebanyak saat saya pertama datang. Setidaknya saya punya waktu istirahat lebih banyak.
Setelah cukup beristirahat dan bersih2, setelah berdiskusi dengan staff hotel, si anak muda ini merekomndasikan saya untuk mengunjungi Azadi Tower terlebih dahulu, setelah itu baru mengunjungi  Tajrish Shopping Market.

Selama perjalanan di Tehran, saya menggunakan Metro dengan tarif yang cukup murah, semuanya dimulai dari Emam Khomeini MRT station yang merupakan salahsatu station penghubung ke jalur lainnya. Dari Imam Khomeini saya turun di Taleghani MRT Station karena saya hendak melihat gedung bekas kedutaan Amerika Serikat yang penuh dengan coretan grafiti kebencian terhadap Amerika, pada masa lalu hubungan Iran dan Amerika Serikat sangat akrab, namun sejak revolusi Iran terjadi, keadaan menjadi terbalik dan kini dua negara tersebut menjadi saling bermusuhan.









Selesai dari sana, saya melanjutkan perjalananan ke Azadi Tower, turun di Meydan-e Azadi MRT Station, namun sebelumnya dari Taleghani saya harus berganti jalur di Darvazeh Dowlat MRT Station untuk bisa meneruksan perjalanan ke Meydan-e Azadi. Station Meydan-e Azadi ini persis berada di bawah West Bus Terminal, dari arah terminal nampak Azadi Tower, namun kita harus menyeberang jalan sebentar untuk bisa sampai disana.

Saat sampai di Azadi Tower, ada dua anak tanggung menyapa saya, setelah basa-basi sebentar, moment ini saya manfaatkan untuk minta tolong difoto dengan latar belakang Azadi Tower, Alhamdulillah ada aja moment2 yang tidak diduga.






Azadi Tower ini semacam boulevard yang juga terdapat taman yang sepertinya nyaman, karena saat saya sampai disana matahari sedang tinggi, jadi panasnya cukup mengganggu kenyamanan, meskipun udara musim dingin masih sejuk tapi sinar matahari tanpa terasa membuat kulit saya semakin hitam.
Setelah puas menikmati Azadi Tower, saya melanjutkan perjalanan ke Tajrish Shopping Market, karena lokasinya berada diujung jalur yang lain, perjalanan memakan waktu sekitar satu jam untuk sampai disana meskipun menggunakan Metro.

Untuk sampai ke Tajrish, dari Meydan-e Azadi, saya bertukar jalur lagi di Darvazeh Dowlat MRT Station, dari situ baru langsung menuju Tarjish diujung jalur merah.

Tarjish Shopping Mall ini tadinya saya fikir berupa bangunan Shopping Mall pada umumnya seperti yang saya lihat di negara saya sendiri dan negara lain, di Tarjish ini kondisinya kurang lebih sama dengan Vakil Bazzar namun lebih kecil, disisi jalan rayanya berjejer toko2 penjual busana siap jadi, dan disepanjang jalan dari MRT Station sampai gerbang pasar, banyak pedagang kaki lima menjajakan aneka barang jualan mereka.







Safron, Bumbu masak paling mahal di dunia



Di sisi sebelah pasar, saya menemukan sebuah Mesjid dan sekaligus Shrine, sepemahaman saya jika di dalam masjid terdapat makam seorang ulama yang sangat dihormati, mereka menamakan Holly Shrine, namun jika tidak ada makam di dalamnya, mereka namakan masjid. Saya sempatkan shalat jamak Duhur dan Ashar di dalam masjid tersebut sekalian melihat makam yang ada didalamnya.



Setelah selesai ibadah, sambil mengambil beberapa foto dan mengamati aktifitas warga sekitar, saya lanjutkan lagi menikmati keliling pasar di Tarjish ini, saat sedang berjalan, saya menemukan rumah makan lokal namun dengan konsep yang lebih modern dari yang saya lihat di kota2 sebelumnya, makanan yang disajikan pun tidak melulu kebab dan semacamnya, namun masakan lain yang baru saya lihat disitu, karena kebetulan juga waktu makan siang sudah tiba, saya sempatkan mampir makan siang disitu, salah satu menu yang saya pesan adalah lasagna, namun ketika saya coba, rasanya seperti agak aneh begitu, seperti ada semacam bumbu atau bahan makanan lain yang ditambahkan, munkin bagi warga lokal rasa masakan itu memang begitu, tapi bagi saya tetap rasanya agak aneh, tapi itulah seni mencoba masakan lokal yang saya rasakan disetiap perjalanan saya, setiap orang punya lidah masing-masing dan punya selera masing-masing.






Setelah puas menikmati suasana di Tarjish, karena kebetulan hari juga sudah menjelang malam, saya putuskan kembali ke hotel untuk beristirahat dan persiapan untuk pulang balik ke Indonesia besok harinya.

Pagi harinya setelah sarapan, saya minta dipesankan taksi untuk ke bandara, dengan tarif yang sama, perjalanan memakan waktu sekitar 1 jam kurang lebih dan sampailah saya di bandara, setelah melewati proses imigrasi, perjalanan pulang kembali ke Indonesia dimulai, ada rasa sedih karena perjalanan selama di Iran terlalu singkat, saya sangat menikmati suasana selama di Iran dan berharap suatu hari bisa kembali menikmati Iran dengan lebih menyenangkan.

Penerbangan saya menggunakan Emirates, sebelumnya harus transit terlebih dahulu di Dubai, dan pada kesempatan transit ini saya ingin memanfaatkan waktu transit di Dubai dengan jalan-jalan disana.

Perjalanan Jelajah Iran berakhir ...

Jelajah Iran - Shiraz City

Pagi sekali saya sudah sampai di Terminal Bus Karandish, ketika baru saja turun dari bus, para supir taxi sudah berdatangan menjemput calon penumpang, ada seorang anak muda yang menawarkan jasa mengantar saya ke tempat penginapan saya di Niayesh Boutique Hotel, setelah tercapai kesepakatan harga,  saya bilang ke anak muda itu hendak mencari tiket bus ke Tehran untuk besok harinya, si sopir membantu saya mencarikan tiket untuk ke Tehran, namun karena keterbatasan bahasa dan kekurangmengertian petugas akhirnya saya tidak berhasil mendapatkan tiket bus saat itu, lalu saya segera minta diantar ke hotel.

Dia bilang mobilnya diparkir agak diluar lokasi terminal, saya ikuti dan ketika saya sampai di mobilnya saya agak kaget karena rupanya dia bukan sopir taksi melainkan orang yang mencari uang dengan kesempatan mencari penumpang yang baru turun dari bus, di dalam mobilnya rupanya sudah ada ibunya duduk santai, saya jadi berfikir macam2 saja, tapi Alhamdulillah saya diantarkan ke penginapan yang saya maksud.

Setelah selesai check in, si sopir bilang ke petugas hotel katanya dia minta bayaran jasa atas bantuan dia mencarikan saya tiket tadi pagi di terminal, minta uang jasanya juga nggak kira2 sebesar setengah harga kamar yang saya booking di hotel tersebut, jelas saja saya dengan tegas menolak untuk memberikan uang jasa ke dia, dia bilang sudah mau menolong saya mebantu mencarikan tiket, tetapi karena dia juga tidak berhasil mendapatkan tiket bis saya, saya tetap dengan pendirian saya untuk tidak aka memberikan uang jasa yang dia minta sampai dia pergi sendiri. Pagi2 sudah merusak mood baik saya saja.


Lalu kemudian saya diantar staff hotel ke kamar yang saya pesan, kamar type dormitory dengan harga 10 USD per malam, rupanya hotel ini seperti komplek bangunan traditional Iran yang penuh dengan jalan berliku, ruangan-ruangan tersembunyi dan model kamar-kamar yang unik, saya seperti diajak berkeliling melewati beragai ruangan di dalam hotel tersebut, sempat juga staff hotel menawarkan jasanya untuk mengantar saya pergi ke lokasi sejarah Persepolis, namun harganya masih kemahalan menurut saya.






Setelah berisitirahat sebentar di kamar, bersih2 dan sarapan, saya bersiap memulai perjalanan saya di Kota Shiraz, sebelumnya saya memesan paket tour ke Persepolis dan Necrapolis yang jika dibandingkan dengan tawaran staff hotel tadi dan mencoba berjalan sendiri, dirasa lebih efisien dan efektif menggunakan paket tour, salah satu yang saya khawatirkan ikut tour adalah ketidaknyaman karena saya seorang solo traveler dan biasanya turis yang mengambil paket tour adalah orang tua atau mereka yang berpasangan atau rombongan, oke lah saya lihat situasinya nanti, bathin saya saat itu.

Lokasi pertama yang saya kunjungi adalah Pink Mosque atau Nasir Al-Mulk Mosque, kenapa disebut Pink Mosque, karena di foto yang beredar, ornamen mesjid itu didominasi oleh mosaik kaca warna warni cerah seperti yang sudah saya lihat di Dolat Abad Garden di Yazd, namun di Pink Mosque ini mozaik kacanya lebih besar dan poisis kacanya itu persis menghadap matahari terbit sehingga pantulan sinar matahari yang menembus kaca menghasilkan cahaya kemerahan di dalam ruangan mesjid, sehingga memberi kesan bahwa mesjid tersebut berwarna pink, begitu penjelasannya.



Tiket masuk ke Pink Mosque sebesar 75.000 riyal, lagi2 berbayar karena masjid ini sudah beralih fungsi dari masjid menjadi museum, sudah tidak digunakan lagi sebagai tempat ibadah resmi meskipun orang yang hendak shalat disana masih tetap diperbolehkan. Sayangnya karena saya tiba disana sekitar jam 10 pagi, saya sudah ketinggalan moment berharga dimana matahari pagi masih memantulkan sinarnya secara penuh ke arah kaca masjid yang memberi warna pink yang full ke dalam masjid, jam 10 pagi matahari sudah makin naik dan pantulan cahaya sudah semakin berkurang, namun ketika saya masuk ke dalamnya suasana pink masih tetap terlihat dan turis masih ramai didalamnya menikmati keindahan tersebut.













 


Setelah puas di Pink Mosque, saya ke tempat lainnya yaitu Shahcheragh Holy Shrine, tempat ini merupakan tempat dimakamkannya Ulama besar yang sangat dihormati, rata-rata yang masuk ke dalamnya adalah warga lokal yang hendak berziarah, kalau turis yang masuk harus dengan pendampingan agar tidak mengganggu ibadah dan ziarah mereka yang datang, karena difikir agak ribet, saya urungkan masuk ke dalam dan saya nikmati bazzar atau pasar yang ada disekitar Shrine atau Temple yang ramai menjual aneka barang dagangan.




Diseberang Shrine kita akan temukan Vakil Bazzar, yaitu sebuah pasar seperti Grand Bazzar yang ada di Istanbul Turki, yang bentuk dan lorong-lorong di dalamnya hampir sama persis dengan yang ada di Grand Bazzar Istanbul, lorong yang panjang, luas dan lebar, kita munkin akan seperti berputar di dalamnya jika kita tidak awas dengan situasi pasar yang bentuknya satu sama lain, saya nikmati hari itu berkeliling pasar. Di dalam lingkungan bazzar ini juga saya mengunjungi Vakil Mosque.










Siangnya saya balik ke hotel untuk istirahat lalu sorenya saya kembali jalan2 menikmati pedestrian kota yang nyaman untuk berjalan kaki.




cara membuat roti yang dipanggang diatas pasir panas.






Besok paginya saya bersiap mengikuti tour ke Persepolis dan Necrapolis yang sudah saya beli sehari sebelumnya, harga paket tournya sebesar 22 USD atau sekitar Rp. 295.000, lebih murah daripada tawaran staff hotel seharga 700.000 riyal atau seharga Rp. 315.000.-, sementara ketika saya coba mengikuti jalur seorang traveler yang mencoba jalan sendiri, setelah dihitung juga tetap lebih baik mengambil paket tour ini.

Saat sarapan sebelum berangkat, saya berjumpa dengan tarveler dari Indonesia, tepatnya dari Medan dan rupanya dia mengambil paket tour yang sama dengan saya, Alhamdulillah akhirnya saya nggak sendirian juga ikut tour ini, saya jadi lebih semangat, selanjutnya kami dikumpulkan dan ternyata diluar dugaan saya, peserta tour ini juga ada beberapa yang sendirian dan rata-rata anak muda, kami jadi saling berkenalan dan menikmati tour bersama.



Lokasi pertama kami peserta tour adalah ke bekas Situs Sejarah Kerajaan Persia yang dulu pernah jaya di masanya, yang kita temukan dan lihat saat ini adalah bekas reruntuhan dan sisa bangunan yang masih utuh yang beberapa diantaranya masih terlihat dengan jelas ornamen yang bercerita, salah satu keuntungan mengikuti tour adalah kita akan mendapatkan informasi lebih tentang sejarah dari obyek yang sedang dikunjungi.

Gerbang Persepolis

























Selesai mengikuti tour, kami masing2 peserta diberi kesempatan untuk menikmati suasana lokasi untuk mengambil foto dan lain2nya, saat saya sedang menikmati pemandangan, seorang anak kecil menyapa saya menanyakan apakah saya peserta tour atau bukan, selanjutnya percakapan berkambang seperti biasa menanyakan darimana dan bagaimana kesan saya akan lokasi situs Persepolis dan sebagainya, anak kecil ini mengenalkan namanya Ali Rezha, dia masih berumur 13 tahun dan bahasa inggrisnya sangat baik sekali, Ali menjelaskan bahwa dia seorang freelance tour guide, sasarannya adalah turis yang datang sendiri tanpa tour dan dia bersedia menjadi pendamping untuk menjelaskan semua lokasi sejarah di situs Persepolis ini, tanpa meminta fee katanya, karena ini adalah salahsatu aktivitas mengisi hari libur dan sebagai proses belajar dia untuk dapat berkomunikasi dengan turis dari luar negeri, keren banget ni anak, umur segitu tapi sudah punya keinginan yang sangat baik sekali.






Dari Persepolis, perjalanan dilanjutkan ke Necrapolis atau disebut juga dengan Naqhs-e Rustam, disini katanya merupakan lokasi pemakaman raja-raja Persia, namun detailnya saya tidak begitu mengikuti, saya nikmati suasana sekitar, lokasi ini berupa bukit batu nan tandus dimana dinding batu dilubangi dan didalamnya dibangun semacam istana tempat raja-raja dimakamkan di dalamnya, seperti yang ada di Petra, Yordania, entah apakah dimakamakan dengan diletakan begitu saja atau bagaimana, karena posisinya diatas bukit dan tinggi sekali, kadang membayangkan bagaimana proses pembuatannya dan bagaimana membawa jenazah dan segala pernak perniknya jika melihat posisi makam yang diatas bukit, jadi membandingkan dengan model pemakaman serupa di Tanah Toraja.


Jenasah diletakan di dalam bangunan ini sebelum dimasukan ke dalam gunung, entah bagaimana caranya.






Perjalanan tour berakhir, kami diturunkan kembali di hotel, selesai dari sini, saya dan teman baru dari Medan, namanya Rendy, dia juga seorang solo traveler seperti saya lunch di restoran hotel, setelah itu istirahat sebentar dan sepakat melanjutkan perjalanan keliling di sekitar Vakil Bazzar yang ramai.

Sorenya saya kembali menikmati suasana pasar raya yang ramai sekali, penempatan jenis jualan yang dijajakan dipisahkan masing-masing sesuai peruntukannya, misal di sisi utara tempat orang berjualan karpet Iran yang terkenal indah, sebelahnya lukisan lalu kerajinan-kerajinan, seterusnya pakaian, bumbu2 dan sebagainya tersusun rapi, rasanya nggak bosan menikmati suasana di dalam pasar yang meski ramai namun tidak sumpek karena bangunan atapnya tinggi serta sistem ventilasi udaranya yang baik, padahal bangunan bazzar ini juga berusia ratusan tahun. Selain itu juga akhirnya sempat saya kunjungi juga Masjid Vakil yang tadinya tidak ingin saya kunjungi karena berbayar dan interiornya kurang lebih sama, namun karena kelihaian temen saya merayu petugasnya, akhirnya kami hanya cukup membayar satu tiket untuk dua orang. Yessss.......











Sekitar jam 8 sore saya sudah harus segera menuju ke terminal bus kembali untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Kota Tehran dengan bus malam dan diperkirakan tiba di Tehran keesokan paginya.

Dalam perjalanan bus malam, saya bersebelahan dengan dua kakak beradik yang meskipun tidak bisa berbahasa inggris tapi berusaha mengajak saya berkomunikasi, meski dengan beberapa bahasa isyarat dan bantuan google translate, so far setidaknya ada beberapa komunikasi yang berhasil.






Sampai berjumpa kembali di Kota Tehran......

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...