Toraja - part (2)



... Sambungan Toraja (1)

Untuk bisa masuk ke Ke’te Kesu, setiap pengunjung dipungut bayaran Rp 10.000.-, dan kita bisa menikmati keindahan rumah Tongkonan.
 
 
 
 
 


Masuk lebih ke dalam lagi, tepatnya di belakang kompleks Tongkonan tersebut, terdapat lokasi kuburan yang unik, yang hanya bisa ditemui di Toraja, dimana semua jenazah tidak dikubur dalam tanah, namun disimpan dalam peti2 yang kemudian diletakan begitu saja di bukit yang terdapat dilokasi tersebut.
 
 


Foto-foto kuburan para bangsawan, patung di tiap makam merupakan replika jenazah semasa hidupnya


Disana kita bisa melihat tumpukan tulang belulang manusia, tengkorak dengan aneka bentuknya, yang sudah tidak beraturan lagi susunannya dan sudah bercampur jadi satu beberapa jenazah yang tersimpan disana.
 
 
 


Kumpulan replika patung dari kumpulan tulang belulang mereka


Menurut kepercayaan, dalam satu peti jenazah bisa disimpan lebih dari satu orang, untuk memudahkan keluarga ketika hendak berziarah, dan posisi menentukan prestise, semakin tinggi letak penempatan peti jenazah, semakin tinggi pula kedudukan almarhum/almarhumah semasa hidupnya, jadi para bangsawan dan keturunannya, ketika mereka meninggal dunia, jenazahnya akan disimpan di atas bukit yang lebih tinggi daripada jenazah penduduk biasa.

Foto-foto berikut ini bisa menjelaskan bagaimana situasi pemakaman disana, silahkan dibayangkan sendiri.
 
 
 
 
 
 
 


Setelah puas menikmati suasana Ke’te Kesu, sempatkan membeli souvenir buat oleh2, entah berupa pajangan ukiran, miniatur tongkonan, tenun khas toraja, kaos2 toraja dan sebagainya, harganya lebih murah daripada kita membeli di pusat kota, jaminan deh, kalau emang pengen, lebih baik beli disitu.

Selanjutnya, kami melanjutkan perjalanan kembali ke arah Makale, dengan melewati jalan yang sama, sesampai di pertigaan patung kerbau, kita belok ke kiri ke arah Makale menuju Londa, pemakaman yang ada di dalam gua.

Perhatikan petunjuk jalan ke Londa, sesampai disana, kita dipungut bayaran lagi Rp 10.000.- dan kemudian, kita ditawari oleh para guide yang ada, untuk memandu kita memasuki pemakaman yang ada di gua, bayar sesuai kesepakatan dan tidak usah khawatir, tarif jasa pemanduannya sangat bersahabat.


Sebelum memasuki gua, kita akan menjumpai bentukan gua yang sedemikian rupa membentuk seperti serambi, dimana di situ kita akan melihat kembali tumpukan-tumpukan peti jenazah, baik yang sudah rusak maupun yang masih baru.


Sama dengan yang ada di Ke’te Kesu, penempatan peti jenazah juga mengikuti aturan, para bangsawan ditempatkan lebih tinggi daripada warga biasa, semakin tinggi letak peti jenazah, semakin tinggi pula kedudukan status sosial almarhum semasa hidup.


Namun ada penjelasan tambahan juga dari pemandu, kenapa peti2 jenazah tersebut diletakan tinggi dan bahkan ada yang menggantung diatas, menurut penjelasannya penempatan jenazah yang diletakan sangat tinggi dan atau menggantung itu untuk menghindari dari gangguan hewan yang suka merusak, begitu kira2 penjelasannya.

Di sebelahnya terdapat kumpulan patung2 orang yang sudah meninggal yang disusun rapi, siapakah mereka? Menurut penjelasan dari pemandu, patung2 tersebut merupakan profile dari jenazah kelompok bangsawan, namun tidak semua bangsawan bisa membuat patung dan menyimpannya disana.


Satu patung itu dihargai dengan 24 ekor kerbau Toraja dan ratusan ekor babi, bisa di bayangkan berapa ratusan juta bahkan milyaran rupiah yang dikeluarkan untuk bisa menempatkan patung tersebut disana, sungguh mereka yang tampil disana adalah bangsawan yang super kaya raya.

Tetapi itulah harga yang harus dibayar untuk dapat mengikuti proses adat secara keseluruhan, kita harus menghargai dan menghormati adat istiadat tiap daerah yang berbeda-beda.

Disebelah ruang patung-patung tersebut, terdapat “pintu” masuk ke dalam gua, yang ditandai dengan sekumpulan tengkorak kepala manusia yang ditempatkan begitu saja di mulut “pintu”.


Pintu masuk Gua

Suasana di dalam gua memang gelap gulita, sangat kondusif untuk menyimpan jenazah, dingin, namun tidak lembab dan tidak ada bau bangkai sedikitpun, itulah sebabnya kita perlu pemandu yang membantu kita, dengan bantuan penerangan lampu petromax, mengetahui isi lebih dalam gua dan agar kita tidak tersesat atau terjatuh ke dasar gua yang lebih dalam, gak lucu kan kalo tiba2 kita terperosok jatuh ke dalam lubang gua dan tidak ada orang yang menolong kecuali ditemani kumpulan tengkorak manusia yang sudah berserakan.
 
 


Pada saat di dalam gua, pemandu akan menunjukkan lokasi penempatan peti jenazah, menjelaskan jika peti jenazah tersebut dikumpulkan secara berkelompok, karena mereka dalam satu keluarga sehingga memudahkan keluarga ketika berziarah.

Ada juga sepasang tengkorak yang ternyata sepasang sejoli yang menurut penjelasan adalah sepasang sejoli yang bunuh diri bersama karena kisah percintaan mereka ditentang oleh pihak keluarga karena mereka masih dalam satu jalur kekerabatan. Menurut penjelasan si pemandu, peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 1970-an.


Dua kepala tengkorak di bawah merupakan tengkorak dua sejoli tersebut.

Ada juga beberapa nampak peti jenazah yang baru, menurut penjelasan itu memang jenazah yang belum lama disimpan disana, yang katanya baru saja meninggal sekitar 4 bulan yang lalu.
 


Atau ada peti jenazah yang sudah rusak, yang atasnya sudah terbuka, namun masih ada mummy di dalamnya, yang nampak hanya tengkorak kepalanya lengkap dengan tutup kepalanya, seluruh badannya penuh dengan uang logam dan ratusan batang rokok.


Disana juga nampak ratusan batang rokok berserakan, bercampur dengan tumpukan tengkorak, tulang belulang yang tergeletak begitu saja, ada susunan botol minuman air mineral dan makanan, menurut pemandu, itu adalah semacam sesajen yang sengaja diletakkan disitu.


Pemandu juga menjelaskan bahwa ketika orang tersebut dimasukkan ke dalam peti, ikut juga semua barang kesayangan si orang tersebut semasa hidupnya, nampak juga dalam satu peti terdapat tumpukan pakaian, atau beberapa benda kesayangan si jenazah.

Pemandu sekali lagi menjelaskan bahwa untuk melihat kapan orang tersebut meninggal, dengan melihat warna tengkorak tersebut, katanya semakin putih tengkoraknya, semakin lama pemilik tengkorak tersebut meninggal dunia.
 


Diingatkan kepada seluruh pengunjung, jangan pernah coba-coba untuk mencuri tengkorak atau bagian tubuh manapun dari jenazah yang tersimpan disana, karena jika ketahuan, akan terkena sanksi pidana dan sanksi adat, itulah mengapa disana dipasang cctv pengawas.

Diceritakan oleh pemandu, bahwa pernah suatu kali ada seseorang yang mencuri salah satu tengkorak yang ada disana, efek dari pencurian tersebut langsung terjadi, si pencuri tersebut membawa tengkorang tersebut ke pulau jawa, sesampai disana orang tersebut tidak bisa berbicara samasekali kecuali berbahasa daerah toraja, padahal orang tersebut bukan asli toraja, akhirnya orang tersebut kembali ke toraja untuk mengembalikan tengkorak yang dicurinya dan meminta maaf, namun tidak dengan mudah saja dikembalikan, melainkan terkena hukum adat berupa harus memotong satu ekor sapi toraja. Bayangkan berapa puluh atau ratus juta yang harus dikeluarkan agar bisa terbebas dari hukum adat tersebut.

Bersambung ke Toraja (3) ...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengalaman Berlari