Sabtu, 24 September 2016

Laos - Vientiane



Sabaidee ..... yang artinya halo, itulah kalimat pertama yang diucapkan oleh staff bandara ketika sampai di terminal kedatangan Wattay International Airport, Vientiane. Laos.

Akhirnya, kesampaian juga saya berkunjung ke negeri Laos, negara terakhir dalam kawasan ASEAN yang belum sempat saya kunjungi, dan perjalanan ke Laos sekaligus meng-khatam-kan trip keliling saya ke semua negara ASEAN yang sepuluh negara.

Perjalanan ke Laos ini memang singkat, hanya total 3 hari 2 malam saja yang melingkupi dua kota di negara tersebut, Vientiane sebagai ibukotanya dan Luang Prabang, kota yang mendapat pengakuan dari UNESCO Heritage sebagai kawasan yang dilindungi oleh dunia.

Hanya sesingkat itu? Ya benar, karena setelah membaca beberapa cerita para traveller yang sudah pernah kesana, mempertimbangkan lokasi2 yang direkomendasikan dari berbagai website, akhirnya saya memilih masing2 one day trip di Vientiane dan Luang Prabang. Tetapi jika ingin lebih menikmati perjalanan di sana, saya rekomendasikan untuk mengambil waktu lebih lama.

Begini kira2 ceritanya :

Untuk bisa ke Laos, bisa dengan penerbangan atau perjalanan dari beberapa tempat, bisa langsung dari Jakarta dengan beberapakali transit, atau yang dari Bangkok bisa melakukan perjalanan darat dengan bus atau kereta api untuk masuk ke Laos.

Karena pertimbangan waktu dan budget yang terbatas, saya memilih jalur penerbangan dng biaya lebih murah dan waktu lebih sedikit, yaitu dengan transit dengan cara dari Jakarta ke Kuala Lumpur ambil penerbangan sore atau malam sehingga sampai KLIA airport sudah malam, lalu dari KLIA airport ambil penerbangan pagi ke Vientiane dengan AirAsia, karena memang penerbangan ke Vientiane dari KL hanya ada satu kali penerbangan dengan AA dan itu adanya di pagi hari, dan sayangnya tidak setiap hari ada penerbangan dari KL ke Vientiane.

Singkat cerita, saya mengambil penerbangan sore dari Jakarta ke KL, menggunakan penerbangan KLM, dari Jakarta penerbangan jam 18:35, tiba di KLIA sekitar pukul 21:30, karena turunnya di KLIA, sementara Airasia ada di KLIA 2, setelah proses imigrasi selesai saya segera menuju ke KLIA 2 dengan menggunakan keret KLIA Transit dengan tiket seharga 2 RM, perjalanan sekitar 10 menit.

Saya sengaja mengambil penerbangan yang tiba di KLIA malam hari, karena memang tidak ingin berlama-lama di Malayisa, hanya transit saja, dan karena penerbangannya esok pagi, saya bermalam di Airport, seperti traveller lainnya yang juga ingin menunggu penerbangan esok harinya, masing2 mencari tempat beristirahat, ada yang di restoran fast food atau musholla atau kursi2 panjang di airport atau sekedar men-charge gadget mereka sambil menikmati kencangnya internet wifi airport. Waktu itu saya dapat tempat di salah satu musholla airport yang lokasinya agak nyempil, sehingga nyaman untuk istirahat, tentunya harus tetap menjaga ketertiban dan memberi ruang untuk mereka yang ingin menunaikan ibadah. Tenang aja, kita nggak sendirian kok, gak usah sungkan.

Esok paginya, segera saya menuju ke tempat self check in Airasia, setelah mendapat bukti check in, melalui proses imigrasi, segera menuju gate yang sudah ditentukan, setelahnya saya shalat subuh, sarapan kecil dan siap menunggu penerbangan. 



Sekedar informasi, KLIA ini mempunyai puluhan atau ratusan gate jika di total semuanya, jadi untuk antisipasi waktu jangan sampai tertinggal pesawat, segera mungkin mencapai gate yang dituju, karena begitu banyaknya penerbangan yang bersamaan pada satu waktu, tentunya kita harus antisipasi antrian di imigrasi dan antrian di pengecekan barang bawaan, usahakan jangan sampai terburu-buru atau membawa barang yang dilarang, karena akan merepotkan kita juga nantinya di proses pengecekan tas cabin.

Dan akhirnya pesawat pun terbang tepat waktu, perjalanan selama 2 jam 45 menit, sampai di Wattay International Airport Vientiane sekitar pukul 09:10 pagi, waktu di Laos sama dengan waktu di Indonesia Bagian Barat. 



Airportnya kecil, hanya ada sekitar 4 gate dan itu tidak semuanya terisi, melihat rencana perluasan airport juga ternyata hanya menambah gate menjadi sekitar 5-6 gate saja. Munkin sebesar Sultan Hasanuddin Airport di Makassar, tapi ini lebih sederhana.

Setelah selesai proses imigrasi, lalu kita akan langsung masuk ke ruangan pengambilan bagasi dan pintu keluar yang semuanya berdekatan. Setelah itu saya menukarkan uang USD saya ke dalam mata uang Laos, namanya Kip. Setelah saya hitung, nilai tukar Kip thd Rupiah itu perbandingannya adalah kira2 Rp 1.- sama dengan 1,6 kip. 



Keluar dari pintu airport berdasarkan tulisan yang ada di blog2, kita akan di sambut oleh supir taxi atau tuk2 yang akan membawa kita ke pusat kota, kita harus berani menawar harga tuktuk, terutama jika kita sendirian, tapi kalau kita pergi dengan teman2 atau bila kita tetap sendirian, coba aja gabung dengan beberapa traveller yang lain sehingga menghemat ongkok tuktuk.

Kemarin karena saya pas masuk imigrasi udah mules banget, saya terpaksa masuk ke toilet dulu dan setelah selesai ternyata penumpang sudah sepi karena memang hanya ada satu penerbangan pada saat itu dan saya tidak menemukan supir tuktuk, yang ada hanya supir2 taxi yang menawarkan jasa ke pusat kota yang tentunya dengan rate mahal, saya cuek aja pura2 jalan2 dan sedikit ke luar airport akhirya ketemu dengan supir tuktuk, setelah negosiasi, saya hanya membayar 30.000 kip untuk perjalanan selama 30 menit ke pusat kota, sebenarnya bisa lebih singkat, namun pake acara supir tuk2nya nggak tahu arah penginapan yang saya tuju, tapi untungnya saya sudah menyiapkan peta dan saya tunjukan ke supirnya, padahal sebelumnya dia merasa yakin banget bakal nemuin itu penginapan. 

 
 


Lokasi penginapan bersebelahan dengan Mixay Temple dan terletak di jalan yang penuh dengan penginapan, jadi bagi yang cari mau penginapan secara go show, banyak penginapan murah tersedia.

Saya udah booking penginapan di Vientiane Backpacker Hostel, seharga USD 6 per malam, yang ada di jalan Rue Nokeokoummane, sesuai dengan namanya hostel ini untuk para traveller dengan budget terbatas, saya check in, dapet kamar paling atas dan d atas hanya ada saya dan satu cewek lokal. Segera setelah menyimpan tas di bed yang sudah d sediakan, beres2, bawa peralatan yang diperlukan secukupnya, saya turun ke lobby hotel, menanyakan tiket bus malam itu yang ke Luang Prabang, saya pilih keberangkatan bus paling malam dengan pertimbangan selama menunggu keberangkatan saya bisa keliling kota Vientiane dulu, tiket bus seharga 180.000 kip berangkat jam 20:30 untuk perjalanan selama sekitar 6-7 jam, sampai Luang Prabang sekitar subuh esok harinya. 

 
 
 


Setelah confirm, saya menyewa sepeda untuk jalan keliling kota Vientiane, karena berdasarkan penjelasan tidak banyak spot wisata yang bisa dinikmati di kota Vientiane, namun tetap ada beberapa lokasi yang layak untuk dikunjungi. Sewa sepeda 10.000 kip seharian.

Berdasarkan peta yang sudah saya cetak sebelumnya dari Jakarta, mengikuti panduannya saya keliling dengan sepeda, menyusuri jalan Rue Samsenthai, petunjuk jalannya tidak terlalu susah dan mudah dipahami karena memang kota Vientiane ini sepi, tidak ramai dan tidak ribet, namun panasnya juara deh.

Spot lokasi pertama yang saya datangi adalah That Dam, sebuah temple yang berdiri tepat di persimpangan jalan dan menjadi putaran kendaraan jika melintas di wilayah tersebut, templenya kecil dan sudah berlumut, entah apakah temple ini berfungsi sebagai tempat ibadah atau sekedar monument kota saja. 



Setelah itu kita akan bertemu dengan pertigaan jalan yang lebih besar, kita belok kiri dan akan bertemu dengan jalan Ave Lane Xang, jalan dua arah yang lebar, lurus dan tidak terlalu ramai kendaraan, tapi ini merupakan jalan utama di Kota Vientiane, terlihat dari banyaknya bangunan2 bagus yang berdiri di sepanjang jalan, dari kejauhan kita akan melihat Patuxai Monument. 



Patuxai Monument atau Victory Gate of Vientiane ini katanya mirip dengan Arc De Triomphe yang ada di Perancis. Dibangun sejak tahun 1962 dan sekarang dijadikan tempat untuk penduduk Vientiane bersantai, dimana di lantai paling atas kita bisa melihat pemandangan kota Vientiane keseluruhan. 

 
 
 
 


Di dalam bangunan ada pintu masuk yang akan membawa kita naik ke atas, melewati anak tangga, kita akan menjumpai toko2 penjual souvenir untuk oleh-oleh. 



Pemandangan dari atas gedung Patuxai. 

 


Selesai dari sana, saya lanjut bersepeda melewati Singha Road untuk menuju ke Pha That Luang Temple, sepanjang jalan kita akan melewati salah satunya kedutaan besar Republik Indonesia untuk Laos, jalan menuju ke Pha That Luang agak sedikit menanjak, lumayan buat yang sepedaan, apalagi saat itu saya bersepeda disaat matahari lagi seneng2nya nongol tanpa ada halangan awan sedikit pun, ampuh banget buat tanning kulit plus keringetan, olahraga di siang hari yang baru kali ini saya lakukan dan itu di negeri orang.

Pha That Luang ini rupanya merupakan Temple yang besar, terletak dalam satu kompleks yang luas dan sepertinya sering dijadikan tempat untuk acara besar keagamaan negara, karena di sebelahnya terdapat area parkir yang sangat luas untuk parkir kendaraan yang ingin ke temple.



Dan sepertinya memang demikian, karena Temple ini menjadi icon negara Laos yang nampak di Bendera Nasional mereka. Di sebelah temple juga ada beberapa bangunan yang entah temple juga atau bukan, dan sedikit menyeberang kompleks bangunan, kita akan menemukan patung Sleeping Budha.



Kalau dari pengamatan saya mengenai bentuk/aristek dari temple2 ini sangat mirip dengan temple yang ada di Thailand dan Myanmar, entah apakah karena mereka menganut agama yang sama atau memiliki akar budaya yang sama, sehingga bangunan2 temple nya sangat mirip satu sama lain, sehingga jika kita tidak paham, orang akan berfikir itu ada di Thailand. 

 
 
 
 


Selesai dari lokasi Pha That Luang, saya bersepeda balik ke arah hostel, tapi saya menyempatkan diri mampir ke Talat Sao Shopping Mall, satu2nya mall yang ada di Vientiane, melihat-lihat suasana di dalamnya, dan ke belakang mall yang dinamakan Morning Market, karena bukanya hanya di pagi sampai sore hari, sementara malam hari ada pasar malam atau Night Market yang dibuka di sepanjang sungai Mekong. 

 


Hanya itu saja spot lokasi yang sempat saya kunjungi dan yang menurut saya menarik untuk dikunjungi, namun katanya ada beberapa tempat lagi seperti Firendship Bridge dan Budha Park, tapi saya berfikir tempatnya biasa saja, selain itu juga lokasinya relatif lebih jauh.

Balik ke penginapan, saya istirahat di kamar, ada yang bikin keadaan ngeri2 gimana gitu, waktu di kamar, sambil istirahat dan beberes sebentar, si cewek lokal tadi ternyata masih ada di kamar juga, dengan sok2 ramah dia say hello ke saya dengan bahasa inggris yang susah banget di pahami, saya juga karena nggak terlalu paham apa yang dia ucapkan hanya bisa senyum aja terus cuek membereskan tas backpak, saya sempetkan tidur sebentar karena memang belum sempat istirahat banyak dalam perjalanan ini, pas saya bangun tuh cewek masih di kamar tidur dengan posisi telentang dan dengan pakaian yang minim banget, ngeriiiiiiiiiiiiii .........

Karena kebetulan sebentar lagi waktunya saya dijemput mobil yang akan membawa saya ke terminal bus, yasudah saya buru2 mandi, dan sebelnya kamar mandinya di lantai bawah dan jorok banget, sumpah, nggak rekomendasi banget ini penginapan meskipun buat backpacker sekalipun, kamar mandinya ada 4 dan itu saluran airnya mampet semua sehingga banyak genangan di dalam kamar mandi, kebayang deh bekas siapa aja yang mandi disitu. 

 
 

Segera setelah mandi, saya bawa tas saya turun ke bawah, titip di lobby, saya bilang check out, daripada males di kamar dengan suasana yang menyeramkan, mending saya di bawah aja di lobby. Masih ada beberapa jam sebelum dijemput, saya sempetin mencari makan biar perut gak kosong banget, karena belum makan dan belum ketemu makanan yang cocok. Akhirnya setelah celingak celinguk disekitar penginapan, pilihan saya jatuh ke masakan india, saya tidak terlalu suka rasa masakan india, namun karena itu satu2nya rumah makan yang menyediakan masakan halal, yasudah saya makan di sana. 



Selesai makan, saya ke ujung jalan untuk melihat suasana kesibukan menjelang Pasar Malam dibuka, nampak beberapa tenda sudah terpasang dengan jualan barang kaki lima berjejer. Di belakang pasar terdapat jalan raya yang besar yang sepertinya jalan itu ditutup untuk aktivitas warga beraktivitas santai seperti olahraga atau sekedar jalan kaki. 

 


Di seberang sungai adalah daratan Thailand. 

 


Di sebelahnya terbentang sungai mekong yang lebar yang membelah dua bagian, ketika saya asyik menikati pemandangan di sungai mekong, tiba2 seseorang memberi penjelasan ke saya kalau di seberang sana adalah Negara Thailand persisnya di provinsi Nong Khai, dan saya takjub, karena hanya di batasi oleh sejengkal sungai terdapat dua negara yang berbeda. Dan ketika kembali ke penginapan dan googling sebentar baru saya sadari ternyata sungai Mekong ini menjadi batas dari perbatasan dua negara dan baru saya mengerti kenapa budaya dan bentuk bangunan di Vientiane ini sangat mirip dengan yang ada di Thailand.

Tidak lama kemudian mobil penjemput saya sudah datang, dan di dalam satu mobil ini semua yang akan ke Northern Bus Terminal untuk melanjutkan perjalanan ke kota lainnya.

Perjalanan ke terminal bus lumayan jauh rupanya, lebih jauh daripada ke Airport, sesampai disana kita di arahkan ke loket bus ke kota tujuan yang sesuai, waktu saya disana, saya menuju loket tiket untuk menukarkan tiket saya dengan tiket bus yang sebenarnya lengkap dengan nomor kursi yang tercatat. Namun saat itu dijelaskan bahwa voucher tiket saya tidak mencantumkan nomor kursi dan saya harus menunggu konfirmasi dari penumpang yang lain, dengan siapa saya akan “tidur”di sebelah saya, karena untuk diketahui saya memilih bus type sleeper bus, dimana semua penumpang tidak duduk dalam sebuah kursi masing2, tapi di dalam bus terdapat semacam “ranjang” yang mana satu ranjang akan diisi oleh dua orang. Dan dibagi menjadi dua tingkat/bagian, ada yang kebagian tidur di bawah, ada yang diatas. 

 
 
 


Petugas memastikan kalau setiap penumpang duduk dengan jenis kelamin yang sama untuk kenyamanan, kecuali jika kita memilih sendiri nomor bus bersebelahan dengan orang yang kita kenal meskipun beda jenis kelamin, itu dibolehkan, tapi bagi yang tidak saling kenal harus satu jenis kelamin.

Akhirnya setelah terkonfirmasi, saya akhirnya mendapatkan tiket saya yang sudah ada nomor kursinya, seru juga yah setelah melihat ke dalam bagaimana bentuk ranjangnya, pas2an kalau gak mau dibilang sempit, fasilitasnya kita masing2 mendapatkan satu bantal dan satu selimut plus air mineral botol, sepertinya sudah diatur posisinya, traveller yang rata2 bule ditempatkan di bagian atas, termasuk saya yang termasuk traveller meskipun kalau dilihat selintas sih wajah2 orang Indonesia gak jauh beda dengan penduduk lokal. Sementara penduduk lokal ditempatkan di bagian bawah. 

 
 


Dan akhirnya saya bersebelahan dengan orang Vietnam, dan karena doi nggak bisa bahasa inggris, saya gak perlu basa-basi dan bisa istirahat dengan nyaman, saya perhatikan kiri kanan saya bule asyik dengan pasangannya masing2, ada yang sambil pelukan segala #sebel.

Dan akhirnya kami pun tertidur lelap dalam perjalanan ......

 

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...