Sabtu, 24 September 2016

Laos - Luang Prabang, UNESCO Heritage City

... Sambungan dari Vientiane
Esok paginya, sekitar jam 6 subuh, bus sampai di Northern Bus Terminal Luang Prabang. 

 

Setelah semua penumpang turun, sopir tuk2 menawarkan diri untuk mengantar ke pusat kota Luang Prabang, dengan ongkos seharga 20.000 kip, kita di antar ke penginapan masing2 atau turun di pusat kota jika belum memesan penginapan. Perjalanan dari terminal bus ke pusat kota tidak terlalu jauh, sekitar 20-25 menit.

Pemandangan langsung akan terasa suasana kota kecil Luang Prabang yang sejuk dan asri, dan akhirnya saya sampai di penginapan saya di Phantha Shon Guest House, seharga Rp. 50.000,- kalau di rupiahkan untuk satu hari saja.

Penginapannya agak nyempil, masuk ke dalam gang perumahan, namun ternyata di dalam juga terdapat beberapa penginapan bercampur rumah penduduk. Nuansa oriental sangat terasa di penginapan yang saya pilih, lalu seorang wanita muda berparas oriental datang menyapa ramah ke saya, meskipun dengan bahasa inggris yang terbatas, namun dia berusaha untuk memberi tahu apa2 yang harus saya perlukan untuk proses check in, saya di hantarkan ke kamar dan rupanya di kamar sudah ada beberapa bule yang masih merem atau yang baru aja bangun, emang masih pagi sih, jadi wajar aja kalo tuh para bule masih teronggok di ranjangnya masing2, secara lagi liburan, puas2in dah merem, dan saya memang booking kamar type dormitory. 

 
 

Setelah selesai check in, menempati kamar yang di sediakan, saya sarapan sebentar, mandi, lalu memulai keliling menikmati kota Luang Prabang. Waktu saya tanya apakah bisa beli tiket bus balik ke Vientiane dari situ, dijawab kalau dia harus konfirmasi dulu ke bagian tiket untuk kepastian, dan saya bilang saya perlu konfirmasi sebelum takut kehabisan.

Mulailah saya melakukan perjalanan, kota Luang Prabang ini kota kecil, kota Unesco Heritage karena semua kondisi fisik bangunan masih terjaga dengan asli dengan arsitektur khas Laos. Tadinya saya mau sewa sepeda untuk keliling kota, tapi waktu saya bertanya ke cewek tadi, dijawab sepedanya lagi kempes ban-nya dan gak punya pompa buat tambah angin ban sepeda, dan dia menawarkan sepeda motor seharga sewa 80.000 kip seharian, saya terus terang males, karena gak direkomendasiin buat traveller pake motor buat keliling, karena kotanya kecil.

Akhirnya saya putuskan untuk jalan kaki aja, yang ternyata lebih praktis daripada saya naik sepeda atau motor, sepanjang jalan rumah2 penduduk dengan arsitektur asli, kebanyakan bertingkat dua berjejer rapi, sebagian besar sudah berubah fungsi menjadi penginapan, rumah makan atau toko souvenir yang menjajakan barang khas Laos. 

 
 

Diantara rumah2 itu terdapat beberapa Temple yang besar dan bagus2, seperti yang saya bilang, bentuk bangunan dan arsitekturnya mirip2 dengan temple yang ada di Thailand, kalau di Thailand sebutan untuk temple adalah Wat, di Laos juga di sebut Wat. 

 
 
 

Sebentar saya berjalan, saya sudah menjumpai Museum National Luang Prabang, tiket masuk sebesar 30.000 kip. Museum ini dulunya tempat tinggal raja dan keluarganya, namun kemudian berubah fungsi menjadi museum, dimana di dalam museum dipamerkan semua benda2 dan perabot milik raja, mulai dari serambi sampai dapur, pakaian2 kebesaran raja dan keluarga, termasuk semua hadiah pemberian dari beberapa negara yang pernah datang berkunjung kesana. 

 
 
 

Sayangnya kita tidak diperbolehkan mengabadikan semua yang ada dalam ruangan museum, kita hanya bisa merekam suasana d dalamnya di otak kita masing2 yang pernah mengunjungi museum ini.

Keluar dari museum, di seberangnya nampak anak tangga yang naik ke atas bukit, terus saya ingat2 ternyata ini anak tangga yang menuju temple yang ada di Mount Poushi, tapi saya tidak segera naik ke atas, karena saya rencanakan ke atas nanti saja setelah selesai keliling kota.

Sepanjang jalan yang akan kita temui adalah rumah2 yang berjejer rapi dan terawat dengan baik yang sudah berubah fungsi menjadi tempat komersial, ada beberapa yang dijadikan buat gedung pemerintah lokal. 


 

 
 
 
 

Selanjutnya saya menemukan Wat Xien Thong, pas di ujung jalan putar balik yang bersebelahan dengan aliran sungai Mekong. Bangunannya lagi2 mirip dengan Wat yang ada di Thailand, namun dengan sentuhan Laos dimana atap rumahnya sedikit melebar ke bawah. 


Mulai dari situ, perjalanan saya selalu bersisian dengan Sungai Mekong yang sangat lebar dan berwarna kecoklatan, namun bersih, di beberapa tempat di pinggir sungai ada cafe atau restoran dengan view menghadap sungai Mekong, sangat memanjakan mata. 


 
 

Selain itu juga terdapat beberapa titik tempat pemberhentian perahu atau kapal penduduk sebagai sarana lalu lintas penyeberangan atau kapal yang difungsikan sebagai kapal wisata air. 


 
 
 
 

Sepanjang jalan di Luang Prabang, kita akan menjumpai Monks, yang di dominasi oleh Monk muda, karena disana sepertinya menjadi tempat pusat pendidikan untuk mereka yang ingin mendalami agama Budha. 



Setelah puas berkeliling, barulah saya menuju Mount Phousi, katanya kalau kita naik sampai ke atas, kita bisa melihat pemandangan kota Luang Prabang keseluruhan, terutama saat sunrise atau sunset, tertarik dengan cerita yang ada di blog para traveller, saya coba naik ke atas, menaiki ratusan anak tangga yang lumayan curam di beberapa tempat, di pertengahan jalan kita akan ketemu loket pembayaran tiket masuk seharga 20.000 kip. 


 
 
 
 
 

Dan sampailah saya di atas bukit, saya lihat sekeliling memang nampak pemandangan kota Luang Prabang yang asri, nampak dari kejauhan juga terdapat airport Luang Prabang dan perumahan penduduk yang tertata rapi. Karena pertimbangan waktu yang tidak banyak, saya sengaja naik ke atas bukit pada siang hari, karena sorenya ingin menikmati suasana night market sebelum balik ke Vientiane. 


 
 
 
 

Saya akhirnya membeli tiket di agen bus dekat penginapan dan memberi tahu ke pemilik penginapan kalau saya tidak jadi membeli lewat dia. Setelahnya saya beristirahat sebentar di kamar dan makan siang, kembali saya kesulitan menemukan makanan yang halal, dan akhirnya saya beli makanan cup noodle buat pengganjal perut. 



Selesai berisitirahat, saat duduk di lobby, ada anak muda, sepertinya suami yang cewek tadi konfirmasi kedatangan saya dan menanyakan kenapa begitu singkat perjalanan di Luang Prabang, setelah saya jelaskan barulah dia mengerti.

Sore sekitar jam 5 saya jalan lagi keluar, dan kali ini jalan utama di Luang Prabang sebagian besar ditutup karena jalan tersebut akan digunakan sebagai pasar malam, kira2 500 meter jalan tersebut ditutup dan saya perhatikan sudah banyak sekali kios2 yang menjajakan barang dagangannya yang didominasi kerajinan tangan dan kain tenunan khas Laos yang tentunya berharga tidak murah. Saya cukup membeli seperlunya karena memang tidak ada rencana membeli. 


 
 
 
 
 
 
 

Jam 7 saya pamitan sekaligus check out dengan pemilik hotel, dia minta maaf karena tidak bisa membantu perjalanan saya yang singkat, sebegitu ramahnya pemilik penginapan ini sampai2 dia meminta maaf atas kesalahan yang tidak dia perbuat, sebuah pelayanan keramah tamahan dari Luang Prabang, saya mengucapkan terima kasih atas pelayanannya dan berharap bisa balik ke sini lagi.

Jam 7:30 saya dijemput mobil yang akan membawa saya ke Terminal Bus Luang Prabang untuk membawa saya kembali ke Vientiane. Dengan jenis bus yang sama tapi kali ini saya “ditemani” oleh anak muda lokal yang hanya bisa senyum aja ke saya, oke lah gak perlu basa basi lagi, selamat beristirahat, dan untungnya doi hanya setengah perjalanan aja sehingga saya bisa dapat ranjang lebih lebar. 


 

Namun sebenarnya kurang nyaman juga sih, karena setengah perjalanan perut saya agak bergejolak, karena mungkin efek makanan yang sembarangan saya makan saat di Laos, saya ngerasa sempet kecipirit juga di celana saya, dan berharap tidak luber ke luar, saya jaga terus jangan sampe gejolak perut saya gak bisa ditahan.

Sampai akhirnya kondektur bis memberi tahu kalau saya udah sampe Vientiane, hari masih gelap karena masih jam 5 subuh, sementara penerbangan saya ke KL jam 10:30 pagi, saya udah ngebet banget bisa cepat2 ke airport dan bersih2 biar lega, namun ternyata sopir tuk2 kembali salah paham, dipikirnya, saya sama dengan turis2 bule yang satu rombongan dengan saya mau ke pusat kota lagi, padahal sudah beberapa kali saya ingatkan saya turun di airport, mau gak mau makan waktu deh, untung saja gejolak perut saya masih bisa dikendalikan sampai akhirnya saya tiba di airport langsung ke toilet bersih2.

Penerbangan tepat waktu dengan Airasia membawa saya kembali ke Kuala Lumpur. 


Selain tempat2 yang sudah saya jelaskan, ada beberapa tempat lagi yang menarik di sekitar Luang Prabang yang layak dikunjungi seperti Air Terjun Kuang Shi atau Temple di dalam gua yang lokasi juga relative jauh dari pusat kota, kalau memang ingin explore lebih banyak lebih baik mengambil waktu lebih lama di Luang Prabang, tapi buat saya cukup sudah explorasi Luang Prabang dalam satu hari, setidaknya sudah menikmati suasana kota Luang Prabang yang nyaman dan teduh.



Weekend ke Pasar Lok Baintan di Banjarmasin

Jantung saya berdebar dengan keras tatkala melihat penujuk waktu di tangan sudah menunjukan pukul 17:20 dan saya baru sampai di parkiran...