Sabtu, 16 Juli 2016

Japan Trip - Pengalaman Naik Kereta Shinkansen


Selama melakukan perjalanan di Jepang, gue beberapa kali menggunakan kereta shinkansen, kereta super cepat, atau bullet train, yang paling dibanggakan orang Jepang, karena memang kecanggihannya.


Model keretanya memang unik, depannya gak kotak seperti kereta pada umumnya, namun berbentuk seperti ada moncongnya. Warnanya putih bersih, jalannya sangat cepat sekali, sehingga sangat membantu memperpendek atau mempersingkat waktu perjalanan antar kota, terutama yang jaraknya jauh.


Perjalanan ke kota2 yang ada di Jepang yang gue kunjungi macam dari Osaka ke Hiroshima dan sebaliknya, Kyoto ke Tokyo, itu yang jika kita gunakan bus bisa belasan jam baru sampai, ataupun dengan pesawat bisa lebih cepat, namun sepertinya tidak lebih praktis jika menggunakan shinkansen ini, dengan menggunakan shinkansen bisa jauh lebih cepat dan lebih hemat.

Video kedatangan kereta


Jika kita punya JR Pass, akan sangat membantu sekali menghemat biaya tiket perjalanan, karena hampir semua perjalanan dengan shinkansen ter-cover JR Pass, kecuali shinkansen jenis Nozomi, entah kenapa, mungkin karena dikelola oleh swasta sehingga tidak ter-cover. Karena gue punya JR Pass, gue manfaatin deh bolak balik Osaka-Hiroshima-Osaka, lalu Kyoto-Tokyo, dan Tokyo-Osaka-Tokyo, pernah juga waktu gue ke Nikko menggunakan Shinkansen.

Foto JR Pass



Ruangan di dalam shinkansen juga sangat nyaman, tempat duduk ada yang dua seat, ada yang tiga seat, dengan jarak antara dengkul/lutut ke kursi d depannya punya jarak yang lebar sehingga kita tidak merasa kesempitan saat menikmati perjalanan, selain itu ada fasilitas meja jika kita hendak meletakkan makanan atau minuman, atau bekerja selama perjalanan, charger listrik, gantungan jaket atau blazer dan sebagainya.





Ada dua type gerbong kereta, type yang pertama yg khusus untuk mereka yang memesan nomor seat, type yang kedua adalah yang tiket tanpa nomor seat, sehingga yang tiket tanpa nomor tempat duduk, ketika kita masuk ke dalamnya segera bergegas untuk mencari best seat, PW untuk menikmati perjalanan, namun jangan kepikiran rebutan kursi kereta kek di negara kita yah, di sini rame tapi tetap tertib.

Billboard petunjuk informasi kereta shinkansen, sangat lengkap


Trek/jalur kereta shinkansen berbeda dengan jalur/trek kereta lainnya, karena memang memerlukan jalur khusus sehingga tidak mengganggu jalur kereta yang lain dan menjaga ketepatan dan kecermatan estimasi perjalanan dengan shinkansen, namun demikian semua perjalanan kereta di Jepang tepat waktu. Jaminan deh.




Posisi menunjukan pintu dari masing2 jenis shinkansen yang berhenti, jumlah gerbong dan nomor gerbong di posisi tersebut, dan itu sangat jelas, tidak akan salah posisi kereta berhenti dengan posisi informasi di lantai tersebut.




Begitulah kira2 cerita pengalaman menggunakan shinkansen, akan lebih berasa nikmatnya jika merasakan pengalaman langsung naik shinkansen.


Japan Trip - Menginap di Capsule Hotel

Ini sedikit cerita saat gue traveling, waktu itu ke Jepang dan gue mencoba menginap di penginapan jenis capsule hotel, karena belum banyak type hostel kek gini dan baru gue temukan di Jepang yang ternyata banyak tersedia di sana, kira2 begini penjelasannya.

Setelah melanjutkan perjalanan dari Osaka, hari ini gw ke Tokyo, lanjut perjalanan menuju Tokyo dengan Shinkansen perjalanan sekitar 2,5 jam. Tiba di Ueno Station, lalu orientasi station Ueno, Ueno station ini juga besar dan megah plus lebih ramai, sehingga gw sedikit agak kesulitan mencari keberadaan hotel gue di Ueno Capsule Kinuya, karena banyak pintu keluar di setasiun yang luas ini, mengandalkan peta yg udah gue bawa dari rumah juga tetap mengalami kesulitan, pake acara naik turun tangga sambil bawa koper yang udah mulai berat, akhirnya berhasil juga menemukan keberadaan hotelnya yang lokasinya sedikit agak jauh dari dari station.

Salah satu sudut dan pintu keluar Ueno Station


Kinuya Ueno Capsule Hotel ini adalah sebuah hotel dengan type capsule, dimana kamar2 hanya di khususkan untuk tamu pria saja dan model kamarnya seperti tumpukan peti yang d tumpuk dalam dua lapisan, tidak di sediakan lemari untuk menyimpan pakaian, tapi hanya sebuah ruangan semacam kotak box yang cukup hanya untuk satu orang dan tidak cukup apabila kita berdiri, namun kita bisa aktivitas sambil duduk di dalamnya, namun tetap dengan ruang gerak terbatas.



Awalnya gue gak nyaman, namun hari kedua gue merasa nyaman banget tidur model capsule begini, selain itu untuk nonton tv yang juga disesuaikan ukurannya, kita menggunakan earphone yang disediakan khusus untuk mendengar suaranya sehingga kita tidak mengganggu tamu sebelah kita.

Yang kurang nyamannya adalah tidak adanya lemari penyimpanan utk koper atau tas, jadi kalau koper kita besar kita bisa taruh d depan lubang cabin kita, tapi kalau koper kita kecil atau tas ransel ukuran 70 liter kita bisa masukan ke dalam cabin saat kita tidak menempati kamar.



Untuk kamar type capsule ini sudah termasuk toileters yang selalu diganti setiap hari, lengkap dengan kimono untuk tidur, kamar mandi disediakan dalam dua type dan kita bebas memilih menggunakan yang mana saja.

Selain yang di Ueno ini, gue juga pernah coba type capsule yang ukurannya lebih besar lagi dan lebih nyaman di First Cabin Midosuji Namba Osaka, bentuknya seperti kios2 kecil yang berjejer rapi, tapi tetap utk kapasitas satu orang.




Kamarnya kecil, isi ukuran one bed tapi agak lebih lebar, seluruh barang bawaan kita bisa d masukkan ke dalam ruangan, air minum disediakan dan bisa refill, TV LCD besar disediakan di setiap tiap kamar, dapat toiletters beserta perlengkapannya dan juga breakfast lengkap.




Kamar mandi juga tetap disediakan dalam dua type dan kita boleh menggunakannya kapan saja sesuka kita, gue suka yang type ini karena kamar mandi model onsen sangat nyaman meskipun malam2 kita berendam.




Loker2 keranjang tempat menyimpan pakaian kita sblm masuk ke dalam kamar mandi


Tiap kamar tetap dipisahkan antara laki2 dan perempuan dan juga dibedakan pintu masuknya, sehingga keamanan dan kenyamanan tetapi terjamin.

Type capsule ini banyak diminati orang local untuk sekedar istirahat satu atau dua hari tanpa harus membawa perlengkapan banyak, dan gak terlalu rekomendasi untuk traveler yang ribet dan bawa koper yang besar, atau yang bawa anak kecil atau keluarga, kecuali emang pengen mencoba menginap di kamar type capsule ini, oke banget.

Japan Trip - Asakusa, Sensoji Temple dan Khaosan Tokyo Guesthouse

Saat traveling di Tokyo, gue menginap di beberapa tempat, pernah gue menginap di daerah dekat dengan Ueno Station dan Ueno Park yang tinggal di Hotel Capsule, dan pernah menginap di daerah Ugusiudani, lalu pernah juga di daerah kawasan Tokyo Lama di Asakusa, kedua terakhir menginap di kamar dormitory.


Jadi, waktu di menginap di daerah Asakusa, gue menginap di Khaosan Tokyo Original Guesthouse, yang letaknya di pinggir sungai Sumida yang berair jernih dan tidak berbau, sungai ini juga berfungsi sebagai transportasi air dan termasuk dalam paket wisata Jepang dengan menggunakan perahu. 

Ketika kita buka jendela teras kamar penginapan, yang nampak adalah pemandangan seperti ini :




Di daerah Asakusa ini tersebar beberapa hostel Group Khaosan untuk para backpaker dan sudah terkenal menjadi rujukan para backpaker seluruh penjuru dunia, antara lain Khaosan Tokyo Samurai, Khaosan Tokyo Laboratory, Khaosan Tokyo Kaubuki, Khaosan Tokyo Original dan Khaosan Tokyo World, dengan pilihan jenis kamar yang bervariasi.

Khaosan Tokyo Original


Karena letaknya yang menurut gue cukup strategis, wajar saja bila sering terjadi kamar sudah penuh ter-pesan jauh hari sebelumnya, terutama waktu2 tertentu yang di Jepang sedang ada kalender kegiatan budaya atau moment2 tertentu. Itulah salah satu alasan kenapa tempat menginap gue saat di Tokyo berpindah2, karena yaitu tadi, gak kebagian kamar, namun Alhamdulillah akhirnya gue kebagian kamar juga sehingga bisa ngerasain tinggal di hostel yang jadi rujukan dan salah satu hostel favorite para traveller dari Indonesia.

Gue di bed nomor 1


Gue gak akan cerita lebih jauh lagi tentang Khaosan Hostel, tapi gue mau ceritain tentang saat menikmati suasana di kawasan Asakusa, dimana di kawasan ini yang menjadi icon-nya dan sering nongol di layar TV adalah Gerbang Kaminarimon yang merupakan gerbang menuju Sensoji Temple.

Dari tempat gue menginap, tinggal jalan kaki aja untuk mencapai gerbang ini, dan di kawasan ini sangat ramai dengan turis, terutama di Gerbang Kaminarimon tersebut yang sering dijadikan tempat orang untuk berfoto, entah itu sekedar selfie atau foto rame2, jadi jangan harap deh bisa foto tanpa ada orang di sekeliling, bahkan untuk sekedar mendapatkan posisi yang pas aja di gerbang tersebut, sampe harus antri atau sabar karena banyaknya orang yang ingin berfoto d situ.


Lebih masuk ke dalam, kita akan menemukan Nakamishe Shopping Street, dimana di kiri dan kanannya terdapat kios panjang yang menjual aneka macam souvenir/oleh2 untuk turist yang berkunjung.


Setelah melewati Nakamishe Street, lalu kita akan ketemu lagi gerbang yang besar, setelah itu barulah kita menjumpai Sensoji Temple.








Di kawasan ini juga terdapat Kitchener Shopping street yang menjual aneka barang kebutuhan rumah tangga, agak masuk ke belakang temple, terdapat kawasan shopping street lain dimana salah satunya terdapat warung yang menjual Ramen halal.

Tokyo Sky Tree nampak di kejauhan



Dan gue lebih sering menjumpai traveller dari Indonesia saat berada di kawasan Asakusa ini di banding wilayah lain di Tokyo, entah kebetulan atau nggak, gue nggak tau.




Jumat, 15 Juli 2016

Japan Trip - Gunung Fuji

Selama dua kali ke Jepang, dua kali juga gue membuat itinerary ke Gunung Fuji, untuk melihat pemandangan Gunung Fuji yang terkenal, namun kenyataannya dua kali kesempatan, dua kali juga gue gagal melihat puncak Gunung Fuji, kira2 begini ceritanya.

Semua setasiun tempat awal keberangkatan, setasiun transit ganti kereta dan setasiun tujuan akhir, nama dan jenis kereta serta jam keberangkatanya, sudah tertera dengan jelas yang gue cetak dari website hyperdia.com serta jadi panduan perjalanan gue.


Waktu kunjungan gue yang pertama, gue pergi sendirian, waktu itu hotel gue ada di sekitar Ueno station, Pagi hari setelah sarapan, perjalanan ke Kawaguchi Lake dan Gunung Fuji, perjalanan memakan waktu lebih lama karena memang lokasinya jauh dari Tokyo, namun sayang saat itu puncak Gunung Fuji sedang tertutup awan dan kebetulan Tokyo dan sekitarnya memang sedang berawan.


Sesampai di Kawaguchi station, kita mempunyai dua pilihan paket tour keliling Gunung Fuji, Red Tour dan Green Tour, dimana Red Tour jalurnya lebih singkat dan tentunya lebih murah daripada Green Tour, krn gw gak banyak waktu akhirnya gw ambil yang Red Tour, sesuai dengan penjelasan bapak yang gw temui waktu di Kyoto. 



Sebenernya pemandangan sepanjang jalan akan sangat menakjubkan apabila cuaca cerah, namun karena hari itu berawan, Gunung Fuji tertutup awan sebagian sehingga tidak Nampak bagian puncaknya. Banyak spot2 menarik untuk mengambil foto buat kenang2an.

View dari stasiun Kawaguchiko


Gue pantengin terus tuh gunung berharap awannya akan pindah dan nggak nutupin puncaknya, namun kenyataan berkata lain, puncak gunung Fuji tetap tertutup awan, dan krn gue fikir gak bakalan ada perubahan, akhirnya gue putuskan untuk balik aja ke Tokyo.







Perjalanan ke Gunung Fuji sangat melelahkan karena seharian, balik hotel, sore sampai malam jalan di sekitar wilayah Ueno, balik hotel.

Sementara perjalanan kali kedua gue ke Gunung Fuji, waktu itu gue menginap di penginapan dekat Uguisudani JR station, kali ini dengan beberapa teman yang ikut barengan pergi dan kira2 begini ceritanya :

Pagi hari setelah sarapan, rencananya kami akan melihat gunung Fuji, jalur kereta untuk menuju kesana sudah ditentukan, lama perjalanan sekitar 3 jam, sistem perkereta-apian di Tokyo sangat rumit, kita harus jeli dan memastikan kereta yang kita naiki adalah benar, jadi ketika sudah sampai Tokyo station, seharusnya kami mengambil jalur kereta menuju Takao, namun karena lupa memastikan kereta yang kita naiki, setelah setengah perjalanan (sekitar 1 jam) kami menyadari bahwa kereta yang kami tumpangi bukan kereta yang menuju tujuan yang kami maksud, itu di sadari setelah seharusnya durasi perjalanan kami sudah sampai d tujuan, namun ini belum nampak tanda2 station yang kami tuju, akhirnya kami turun di station berikutnya, lalu kembali balik ke Tokyo dengan kereta di jalur seberangnya.


Setelah memperhitungkan waktu perjalanan dan kondisi cuaca yang pada saat itu masih dalam proses peralihan dari winter ke spring, dan menurut cerita dari temen yang sehari sebelumnya menjelaskan bahwa mereka gagal melihat puncak gunung fuji karena masih tertutup awan, kami memutuskan untuk membatalkan perjalanan ke Fuji dan akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi Asakusa untuk melihat kawasan kota tua Asakusa dengan Shensoji Temple dan Gate Kaminarimon sebagai icon-nya. 

Gak lupa kami membeli oleh2 di sepanjang jalan Nakamishe dan mencoba menikmati Ramen halal di salah satu rumah makan yang direkomendasikan, setelah puas, kami balik ke hotel untuk beristirahat.

Meskipun dua kali kunjungan tetap nggak berhasil melihat puncak Gunung Fuji, gue tetap senang karena gue menikmati perjalanan gue.

Weekend ke Pasar Lok Baintan di Banjarmasin

Jantung saya berdebar dengan keras tatkala melihat penujuk waktu di tangan sudah menunjukan pukul 17:20 dan saya baru sampai di parkiran...