Jumat, 29 April 2016

Kemarin - kemarin di Malaysia

Bercerita tentang Malaysia, negara tetangga kita yang mempunyai beberapa persamaan di beberapa budaya, mempunyai daya pikat untuk dikunjungi, munkin karena promosi pariwisata mereka yang lebih berhasil, atau karena letak geographis negaranya yang hanya segitu sehingga semua lokasi tidak perlu dikunjungi dengan lintas lautan, kecuali ke Malaysia Timur (Sabah dan Sarawak), sehingga memudahkan para traveller untuk berkunjung dan dengan bisa menghemat biaya transportasi bisa eksplorasi seluruh wilayahnya, bahkan setelah dari Malaysia bisa langsung lanjut darat ke Thailand dan negara2 Indochina sekitarnya.

Dengan berbagai macam alasan dan motivasi tujuan ke Malaysia, mereka berdatangan kesini, dengan promosi beberapa lokasi wisata yang menarik, semakin membuat orang penasaran ingin melihatnya, seperti traveller lainnnya, gue pun tertarik untuk melihat lebih banyak lokasi wisata di negara ini.

Beberapa negara bagian pernah gue kunjungi macam Selangor, Johor Bahru, Pahang, Kedah, Penang dan Malaka, baik yang sekedar singgah atau memang melakukan perjalanan d wilayah tersebut, namun kali ini gue hanya membatasi cerita perjalanan gue di sekitaran Kuala Lumpur saja, untuk beberapa negara bagian lainnya gue tulis secara terpisah.

Macam-macam gaya pelancong ke negeri melayu ini, dari yang bergaya orang kaya yang belanja barang2 branded, tinggal d hotel berbintang, sampai dengan yang bergaya bekpeker, yang makannya mencari tempat2 yang murmer macam di food hawker, sampe ada yang tidur menginap di bandara demi memenuhi hasrat mengunjungi negeri ini.

Gue salahsatunya, dan gue sudah beberapakali menapaki kaki di negara ini, macam2 tempat sudah gue datengin, emang gak semuanya, tapi untuk destinasi2 favorite okelah. Ketika orang bertanya berapa tiket pergi ke malaysia dari jakarta, berapa lama waktu yang diperlukan untuk bisa eksplorasi malaysia, berapa biaya yang diperlukan untuk berkeliling di malaysia, menurut gue, semua itu kembali ke motivasi masing2 orang, mau berapa lama, berapa biayanya itu relative, gak bisa ditentukan, kadang gue bilang 3 hari cukup, tapi ternyata malah kurang, atau bawa uang segini aja, eh ternyata juga malah kurang, makanya itu semua kembali ke masing2 aja, tapi munkin gue bisa kasih gambaran berapa estimasi biaya yang bisa d anggarkan untuk bisa keliling malaysia berdasarkan pengalaman gue.

Masalah tiket juga demikian, ketika gue dapet tiket yang murah di tahun kemarin, belum tentu juga gue bisa dapet lagi tiket murah di tahun berikutnya, atau ada yang bilang tiketnya mahal segitu, atau murah banget tiketnya, , gue bilang lagi yah, itu semua tergantung rejeki aja yang elu dapet saat itu, jadi jangan juga d jadiin patokan kalo harga tiket ini murah, ini mahal, karena harga tiket tahun kemarin, jangan d bandingkan dengan tiket murah tahun ini, atau munkin bisa dapet lagi tiket murah tapi biasanya di waktu yang berbeda, karena banyak faktor yang ikut mempengaruhi, inflasi, koreksi  nilai mata uang, naik turun harga minyak dunia, kebijakan operator penerbangan, turut juga mempengaruhi #sokdehgue. Tiket penerbangan termurah ke malaysia yang pernah gue dapat adalah sebesar Rp 0.- return #pamer. Tapi sesungguhnya tidak benar2 Rp 0.- karena ketika hendak balik pulang ke indonesia, malaysia membebani airport tax dalam tiket kita, namun tetap murahhh.

Transportasi selama di Malaysia itu banyak pilihan dan mudah, kita bisa pake Pesawat, Bus, MRT atau Monorail untuk perjalanan di dalam dan ke luar kota, gue pernah naik Bus perjalanan dari Singapore ke Kuala Lumpur atau sebaliknya dengan menyeberangi selat singapura dan berganti imigrasi turun naik bus di Johor Bahru dan Woodland Singapore, dengan Bus untuk ke Malaka atau Genting, dengan pesawat ketika trip ke Langkawi dan Penang. untuk Penang bisa juga menggunakan Bus dari KL, lalu lanjut nyeberang pake ferry ke Pulau Pinang. Sementara ke Langkawi memang harus pakai pesawat karena berada di pulau dan agak jauh ke tengah laut di selat Malaka. Tetapi untuk perjalanan dalam kota KL gue lebih memilih menggunakan MRT atau Monorail karena lebih praktis dan lebih mudah dipahami.



Gue akan ceritain beberapa tempat yang pernah gue datengin dan gue akan ceritain menurut penglihatan dan pengamatan gue saat itu, mohon maaf kalau ceritanya ada yang udah nggak kekinian, karena memang ada beberapa tempat yang gue kunjungi itu munkin saat ini sudah berubah, karena hard disk gue pernah rusak sehingga banyak album foto yg gak terselamatkan, ada satu-dua foto yg terpaksa gue ambil dari internet, tapi gak banyak, utk menggambarkan keadaan lokasi yg gue kunjungi biar lebih jelas, dan begini kira-kira :

Sampe gue menulis catatan perjalanan ini, stemple imigrasi Malaysia terkhir adalah Februari 2016, namun itu hanya transit aja untuk penerbangan lanjutan gue ke destinasi berikutnya, namun demikian gue masih sempetin update beberapa tempat di KL, bareng temen2 kantor, sementara kali pertama gue ke Malaysia itu sekitar 2006, waktu itu ada temen gue yg lagi kerja d sana, gue ditemenin selama perjalanan d sana, dan itu adalah kali pertama gue ke luar negeri, gue juga waktu itu mau kesana karena katanya ada tiket murah, tapi gue lupa dulu berapa dapetnya, gue juga berangkat berdasarkan penjelasan temen gue, selama d sana ada beberapa tempat yang gue datengin, gue juga lupa waktu itu menginap d hotel type yang gimana. Trip2 berikutnya gue kadang pergi sendiri atau berdua sama temen trip gue yang lain, kadang gue pergi lagi ke Malay bareng temen yang belum pernah ke Malay sehingga gw d suruh jadi “tour guide” yg mau gak mau gue mengulang beberapa tempat yang udah gue datengin, kadang gue pergi sendiri jika pengen eksplore tempat lain yang baru atau gue tetiba lagi pengen jalan sendirian.

Eh iya, waktu pertama kali gue ke Malaysia, tahun 2006, itu kan belum ada pembebasan fiskal LN jika kita mau pergi ke LN, sekedar info aja sih, jika kita mau pergi ke LN lewat udara, kita dikenakan Biaya Fiskal LN sebesar Rp 1 juta, kalo lewat laut dikenakan biaya sebesar Rp 500 ribu, kalo lewat darat sekitar Rp 250 ribu, nah waktu itu gue terpaksa deh bayar fiskal Rp 1 Juta, karena emang gak ada pilihan lewat darat atau laut saat itu yang gue tau, tapi sejak tahun 2011 kalo nggak salah, biaya fiskal untuk semua jenis perjalanan ke LN sudah dihapuskan, sehingga semakin banyak orang yang bepergian ke LN dengan lebih hemat dan yang gue siasati sekarang adalah bagaimana mencari tiket murahnya hehehehe.


Menginap di Malaysia itu banyak pilihan, mau yang hotel berbintang, apartemen yang disewain sampe kamar hotel type dormitory yang isi satu kamar minimal 4 orang, yg khusus laki2 atau khusus perempuan, ada juga yang mix, tapi ini jarang karena memang pihak pemerintah tidak membolehkan. Menginap atau tidur d airport-pun beberapakali pernah gue jabanin dengan berbagai alasan, antara lain mengejar penerbangan paling pagi untuk destinasi berikutnya, atau gue sampe Malaysia kemalaman sehingga Train dan Citybus udah stop beroperasi. Kalo gue naik taxi malam hari di Malay, yg kalo siang hari udah mahal, kalo malam hari makin mahal karena kena charge tambahan, karena gue type backpacker santai, mending gue tidur di airport yg nyaman daripada gue keluar duit banyak dan sampe penginapan juga udah pada tidur, bermalam di airport di KLIA/KLIA2/KLCC yang waktu masih ada itu sebenere nyaman kalo udah nemu tempat untuk merebahkan diri, gue nemu beberapa tempat yg oke, tapi gue gak tahan dengan dinginnya suhu udara di airport karena AC-nya nyala non stop, udara malam yg dingin tambah dingin. Kadang gue suka mengamati beberapa traveller yg mensiasati tidur d airport dng membawa sleeping bag, bantal tidur atau bawa jaket tebel, karena emang dingin banget, gue aja klo tau bakal menginap d airport suka bawa perlengkapan lebih, pake jaket tebel terus kaos kaki kalo misal gue jalann lagi pake sendal doank, atau kalau gak mau kedinginan bisa tidur di bangku2 yang ada di lobby yang disisi luar, hangat karena gak kena AC, namun terpaan angin malam juga bikin males juga buat tidur. Staff security gak mempermasalahkan sih mereka yg bermalam d airport selama tidak tidur d sembarang tempat atau mengganggu kenyamanan. Dan serunya waktu KLCC masih ada, semua pinggiran tembok ruangan dalam ruang check in airport udah pada disenderin traveller yang udah pada PW siap2 tidur, rameeeeee banget.



Di KL ada satu tempat sentral stasiun untuk semua jenis moda transportasi, namanya KL Sentral, semua jenis transportasi macam express train, bus, monorail ataupun MRT, akan berpusat d sini, jadi misalnya kalo kita dari Airport KLIA/KLIA2 hendak ke kota KL, pasti akan berhenti d sini, lalu lanjut dengan moda transpotasi lainnya ke tujuan2 lain di KL, baik menggunakan bus, monorail atau MRT, sistem terpadu seperti ini sangat membantu memudahkan orang untuk menentukan titik perjalanan sehingga tidak membingungkan, setidaknya ini menurut gue.


( sumber foto : the rakyatpost )

Selain itu, untuk beberapa jalur tertentu kita bisa menggunakan bis gratis untuk keliling jalur misalnya mau ke Menara Petronas atau ke Bukit Bintang dan sebaliknya, sangat membantu dan menghemat uang transport juga. Cari aja bus dengan tulisan free shuttle bus, perhatikan jalurnya, naik deh, percuma kata orang malaysia, tapi ya itu kudu siap berdesak2an dng penumpang yang lain, buat orang Indonesia, khususnya jabodetabek, berdesak2an kek gitu udah biasaaaaaaaaaaaa.



Untuk selanjutnya, semua info yang gue ceritain nanti sudah merupakan gabungan dari beberapa perjalanan yang pernah gue lakukan d Malaysia (Kuala Lumpur).

Ketika kunjungan pertama gue ini, pesawat yang gue tumpangi mendarat di KLIA, karena waktu itu gue naik Lion dan mendaratnya di KLIA. Di Kuala Lumpur itu ada dua airport, satu KLIA dan satu lagi KLCC (Kuala Lumpur Low Cost Carrier) airport yang khusus untuk penerbangan berbiaya rendah macam Airasia, Tiger dan sejenisnya, namun sejak tahun 2013 atau 2014, lupa, KLCC sudah tidak dioperasikan, semua penerbangan yang dulu mendarat di KLCC dipindah ke airport baru, namanya KLIA2, KLIA/KLIA2/KLCC itu berada dalam satu wilayah yang luas, berdekatan, namun untuk berpindah antara satu aiport ke airport lain tetap saja jauh karena jalannya dibuat memutar, namun sekarang dari KLIA ke KLIA2 bisa naik train dengan harga 2 Ringgit untuk selama sekitar 5 menit. Dari airport gue dijemput sama temen gue ke hotel gue menginap.





KLCC Tower atau Menara Petronas atau Twin Tower adalah kunjungan yang paling dinanti tiap orang yang pertama datang ke KL, salahsatu bangunan tertinggi di dunia dengan desain arsitektur yang sangat bagus, menjadi icon kota KL dan gak afdol rasanya kalo ke KL gak foto disini. Menara kembar berlantai sekitar 60 lantai tersebut, merupakan kumpulan pusat perkantoran, ruang pertunjukan dan shopping mall. Waktu gue masuk ke dalam mall-nya, berasa deh seperti gue lagi di Mall Taman Anggrek, nggak lebay sih, Cuma perasaan gue aja karena interior di dalamnya mirip2 di MTA, tapi tetap aja berbeda. Antara dua tower KLCC itu ditengahnya terdapat jembatan udara (skybridge), untuk bisa naik kesini harus mendaftar dalam antrian yang panjang, dan tidak dibuka sepanjang hari, hanya beberapa jam dalam sehari jembatan tersebut boleh digunakan, nggak tau kenapa dibatasi waktu penggunaannya, apakah karena takut rubuh atau apa, nggak jelas, dan untuk masuk dan berjalan di dalamnya, tiap perjalanan dibatasi dalam kelompok isi 10 orang, dan satu kelompok dibatasi hanya boleh berjalan2 d dalamnya sekitar 15 menit, setelah itu harus berganti dengan kelompok yang lain. Ketika berada di atas, kita bisa melihat pemandangan KL secara luas, keren juga ternyata, gw sempet foto2 sebentar d atas, hanya sensasi itu saja yang ditawarkan naik skybridge, atau jejantas kalo orang Malay bilang. Alhamdulillah waktu itu gue punya temen yang punya koneksi sama petugas loketnya dan gue bisa masuk langsung tanpa menunggu antrian, karena tau nggak, untuk bisa dapet nomor antrian naik skybrigde itu, pada rela subuh2an antri di depan loket, karena memang terbatas jumlahnya, jadi yg antri juga katanya belum tentu dapet nomor antrian. Makanya seperti pengalaman sekali seumur hidup rasanya bisa naik skybridge, karena kunjungan2  gue berikutnya ke KL nggak pernah naik ke skybridge ini, karena emang selain gak niat, juga udah males liat antrian panjang.  Untuk bisa ke Menara Petronas ini bisa naik monorail lalu turun di KLCC station. Station itu udah d bawah bangunan Menara Petronas itu sendiri, atau bisa naik Free Shuttle Bus dari Bukit Bintang, turun di depan halte Menara Petronas.






   





Setelah dari Menara Petronas/KLCC/Twin Tower, gw lanjut lagi ke KL Tower, KLCC Tower dan KL Tower beda, kalo KLCC Tower itu masuk kategori bangunan tertinggi, sementara kalo KL Tower ini masuk kategori Tower tertinggi dan memang masuk sebagai salahsatu tower tertinggi di dunia. Bentuknya kek menara TVRI gt, Cuma lebih tinggi dan lebih besar. Sama seperti di KLCC Tower, di KL Tower juga menawarkan sensasi melihat pemandangan Kota KL dari ketinggian, kita bisa berfoto di dalam KL Tower dengan background KLCC Tower, tapi kita belum tentu bisa foto di KLCC Tower dengan background KL Tower, karena sepertinya terhalang bangunan KLCC Tower itu sendiri dan jembatannya memang tidak dalam posisi di ruang terbuka luas. KL Tower terdiri dari beberapa bagian, ada bagian untuk telekomunikasi, restoran dan ruang viewing hall. Untuk bisa menuju ke KL Tower ini, kek-nya lebih baik naik taxi, karena lokasinya emang jauh dari jalur monorail atau bus, ada sih yg deket station monorail bukit nanas, tapi setelah itu jalan lagi dan jalan menanjak, gue sih gak rekomendasiin kalo jalan barengan pake jalur itu, mending naik taxi dan bayarnya shared, kecuali kalo emang niat banget kelayapan.








selanjutnya di ajak jalan2 keliling ke Lapangan Merdeka yang katanya tempat dideklarasikan kemerdekaan Malaysia dari Inggris, di depannya terdapat Bangunan Sultan Abdul Samad yang bersejarah.




Selain kesana, gue sempetin juga ke Hard Rock Cafe-nya KL buat beli kaos-nya, selama di KL gue menginap di Kawasan Bukit Bintang, kawasan banyak pusat perbelanjaan, pertokoan, cafe, restoran, penginapan dan juga food hawker, meriah banget, pedestriannya yang lebar cukup okelah buat pejalan kaki mondar mandi. Kawasan Bukit Bintang ini jadi andalan sektor wisata khususnya wisata belanja d KL, karena ada beberapa Mall Premium berdiri d sana, ada juga Berjaya Times Square yang gak jauh dari Bukit Bintang, dan beberapa tempat lainnya.

Kawasan Bukit Bintang adalah salah satu kawasan favorite turis yang datang ke Kuala Lumpur, kawasan ini merupakan pusat keramaian yang terdiri dari aneka macam toko-toko souvenir, pakaian macam H&M, Uniqlo, atau yang grosir macam Sungei Wang, atau grosir elektronik kek mangga dua, namun lebih kecil, warung2 makanan franchise, shopping mall macam the paragon mall, restaurant2, cafe bahkan penginapan dari yang mahal sampai yang murah, semuanya berada dalam satu lingkungan dengan pedestrian yang lumayan nyaman, gue selalu menginap di salah satu penginapan murah di area ini, karena begitu strategisnya, sehingga kemana-mana wilayah situ bisa d jangkau dengan jalan kaki, station monorail Bukit Bintang tinggal selemparan jengkol, halte shutle free bus tinggal lompat doank, mau makan juga tinggal nengok ke sebelah karena banyak juga yang buka 24 jam. Bagi yang suka kuliner aneka macam makanan, tinggal jalan ke belakang hotel bakal nemuin food street di jalan pudu yang menjual makanan yg di dominasi chinese food, tapi ada juga yang masakan thailand dan yang halal juga banyak, untuk yang mau bermalam d tempat keramaian kek gini, cocok deh tinggal di bukit bintang ini, gue rekomendasiin.



( sumber foto : travelguide )

Ke luar kota KL dikit kita bisa berkunjung ke Kompleks Kantor Pemerintahan Malaysia dimana salahsatunya terdapat bangunan tempat PM Malaysia berkantor, Putra Jaya namanya, komplek pemerintahan terdiri dari sebuah wilayah luas yang tertata dengan rapi dan indah dengan desain bangunan yang dibuat sangat modern dan dijadikan sebagai salahsatu lokasi kunjungan wisata bila ke KL. Untuk menuju kesana kita bisa menggunakan MRT dari pusat kota KL. Ada beberapa spot favorite orang di Putra Jaya sehingga banyak sekali yang datang ke lokasi tersebut, salah satunya adalah Masjid Pink yang terletak di tepi danau yang menawan, The Souq nama area-nya. Untuk bisa berkeliling Putra Jaya, bisa menggunakan shuttle bus yang disediakan khusus untuk melintasi wilayah Putra Jaya ini.










Selain itu ketika di KL gue juga sempetin berkunjung ke Batu Cave, sebuah lokasi tempat ibadah umat Hindu yang letaknya sedikit diatas bukit, berada di pinggir kota KL, lokasi komplek peribadatan ini terdiri dari bangunan kuil yang ada d bawah juga terdapat kuil yang berada di dalam gua, untuk menuju kesana kita harus menaiki ratusan anak tangga yang curam dan melelahkan, sepanjang jalan kita akan di-“godain” sama kumpulan monyet2 yang berlari-larian sepanjang anak tangga, sesampainya di dalam gua kita akan menemukan bangunan2 kuil tempat ibadah umat Hindu. Gue gak masuk lebih jauh ke dalam karena gue agak alergi dengan aroma bau tanah lembab dalam gua, bikin mual, apalagi gue punya riwayat penyakit paru yang bisa membuat gue merasa sesak nafas kalau berada d dalam gua, jadi gue hanya sampai d atas, lalu turun lagi secara perlahan.





Tidak hanya lokasi2 d atas yang bisa kita dapetin selama trip di KL, waktu gue ke KL gue juga sempet mengunjungi Masjid Jamek, Masjid Negara, Central Market tempat membeli cenderamata dan juga ke Petaling Street jika kita mau lebih banyak pilihan membeli cenderamata dan tentunya dengan proses tawar menawar. Petaling Street ini bentuknya macam lorong di Pasar Baru, Jakarta, namun di Petaling Street lebih ramai karena memang jadi spot turis yang hendak membeli belah dan sudah terkenal luas. Tidak jauh dari situ terdapat terminal Bus Pudu Raya untuk bus antar kota seluruh Malaysia, selain yang lebih besar yang terdapat di Bandar Tasik Selatan.


    (sumber foto : wikipedia)

Keluar sedikit dari KL, kita bisa ke Kawasan Wisata Genting Highland Resort, kawasan resort wisata terpadu, kombinasi antara Theme Park, Tempat Judi, Hotel, Mall dan Restoran, letaknya di negara bagian Pahang, sebelahan dengan Negara Bagian Selangor, tempat kota KL berdiri, kawasan ini terletak d dataran tinggi kek d puncak kalo d Jawa, dingin, berkabut. Untuk menuju kesana kita harus naik bus khusus dari KL Sentral, ada loket khusus penjualan moda transportasi ke Genting, kita bisa menentukan jam keberangkatan kita ke Genting, tapi harus diperhatikan, kalo pas peak season kadang suka kehabisan tiket di hari yang kita inginkan, yang menariknya, moda transportasi untuk ke Genting ini terdiri dari dua jenis, pertama dari KL Sentral kita naik bus sekitar 2 jam ke Genting, lalu dari sana kita naik Kereta Gantung yang akan membawa kita naik ke kawasan resort yang ada d atas gunung, kereta gantung ini sangat panjang dan kita berjalan melewati lebatnya hutan dibawahnya, kadang jika udara lagi dingin atau musim hujan, pemandangan akan tertutup kabut, dan itu menjadi “kenikmatan” tersendiri seperti berjalan d atas awan karena semua kawasan tertutup kabut tanpa tahu di depan dan di belakang kita ada apa, seru banget sih menurut gue, jangan ngebayangin kereta gantung yang ada di TMII, bukannya ngebandingin sih, tapi emang beda jauhhhhhh.






Sesampai di atas, kita akan melewati jalur yang sudah d buat, akan bertemu di dalam bangunan kawasan resort, sementara Theme Park-nya terbagi menjadi dua bagian, indoor dan outdoor, yang indoor itu permainanya macam mainan anak2 kecil dan kurang menantang adrenalin, sementara yang diluar itu permainan yang lebih menantan adrenalin, dan kawasan judinya ini berada satu gedung dengan Theme Park yang indoor, dan itu dibuka 24 jam non-stop. Jika wisatawan masih pengen ber-lama2, terdapat hotel d dalam kompleks kawasan itu sehingga tidak perlu pulang balik ke KL dulu, tidak efektif dan tidak efisien.

Kira2 begitu catatan perjalanan gue selama keliling Kuala Lumpur, kalo ada cerita gue yang baru, nanti gue update lagi.

Weekend ke Pasar Lok Baintan di Banjarmasin

Jantung saya berdebar dengan keras tatkala melihat penujuk waktu di tangan sudah menunjukan pukul 17:20 dan saya baru sampai di parkiran...