Jumat, 25 Maret 2016

One Day Trip di Malaka

Gw udah beberapa kali ke Malaysia, tapi keseringannya di KL dan sekitatrnya, terus sering baca artikel tentang Malaka, dari buku sejarah waktu SMP dan informasinya sih kota itu menarik banget, karena pada masanya pernah menjadi pelabuhan yang terkenal, lokasinya juga relative dekat dengan Kuala Lumpur, karena aksesnya yang mudah, jadi gak ada salahnya kunjungan gue kali ini gw niatin satu hari mampir ke Malaka, menurut kalkulasi perjalanan, lokasi2 yang mau gue datengin, kek nya waktu segitu udah cukup, perjalanan gue kurang lebih kek gini :

Hari kedua kunjungan gue ke Malaysia, waktu itu tanggal 21 Oktober 2012, gw sempetin mampir ke Malaka, karena lokasinya gak gitu jauh dari Kuala Lumpur, sekitar dua jam perjalanan darat dengan bus, untuk dapat ke Malaka, dari KL kita naik kereta sampai ke setasiun Bandar Tasik Selatan, setasiun ini terpadu dengan terminal Bus yang besar, dimana hampir semua keberangkatan bus dari dan menuju seluruh penjuru Malaysia dapat dilakukan melalui terminal ini, terminalnya besar dan megah, bersih dan teratur, terminal ini dibuat sebagai antisipasi membludaknya daya tampung keberangkatan bus di terminal Bus Pudu yang ada di tengah kota. Setelah membeli tiket bus, berangkatlah kita sesuai dengan jam keberangkatan, bus berjalan tepat waktu dan bisa dikatakan lama perjalanan hampir sesuai dengan perkiraan waktu ketibaan.




Karena kunjungan ke Malaka hanya satu hari perjalanan dan sorenya balik ke KL, jadi kami sengaja mengambil keberangkatan pagi jam 8 biar sampai sana masih pagi dan bisa lebih banyak eksplore wilayah sekitar Malaka. Sesampainya di terminal Bus Malaka, kami segera mencari bus dalam kota yang akan membawa kami ke pusat wisata sejarah Malaka, namanya kawasan gedung merah, kenapa dikatakan demikian, karena semua bangunan dikawasan ini didominasi warna merah, kawasan ini merupakan kawasan sejarah dan termasuk kawasan warisan dunia yang dilindungi oleh UNESCO. Segera setiba disana kita langsung bisa melihat Gereja tua bekas peninggalan Belanda semasa mereka berkuasa disana, di depannya terdapat taman dengan air  mancur yang dirawat dengan baik, lalu jalan sedikit ke sebelah, kita akan menemukan gedung Stadhytus, bekas gedung kantor pemerintah Belanda pada saat itu.

Gereja di latar belakang, sementara di sebelah kiri Gereja di belakang gw itu Gedung Stadhytust



Tidak jauh dari situ kita jalan sedikit naik ke atas bukit, kita akan menemukan reruntuhan Gereja Saint Paul, udah kesekian kalinya gw menemukan gereja dengan nama yang sama dan desin yang sama, bangunan yang Nampak hanya tinggal dinding gereja yang sebagian masih utuh namun atapnya sudah tidak ada, di dalam bangunan bekas gereja tersebut, terdapat beberapa batu nisan makam petinggi semasa itu, beberapa artefak yang sengaja d simpan disana.



Kita jalan sedikit ke belakang, kita akan menemukan bekas benteng pertahanan Portugis sebelum Belanda masuk menguasai Malaka, yang tersisa hanya bangunan tembok semacam pintu gerbang dan meriam di sebelahnya.



Waktu lagi jalan disekitar gereja, kita bisa nemuin banyak banget becak yang di dandanin sedemikianrupa sehingga tampak meriah dengan aksesoris yang ramai dan yang lebih heboh lagi, becak2 yang emang disediakan khusus untuk wisatawan ini, disertai dengan music yang sengaja di setel keras dan lucunya, lagu2nya di dominasi lagu dangdut dari Indonesia hahahahaha ….. jangan2 tukang becaknya impor juga dari Jawa, nggak tau deh.



Selesai dari situ, agak ke sebelah kiri kita akan menjumpai Museum Nasional Malaka, isinya adalah cerita tentang Kesultanan Malaka, kita juga akan menemui rangkaian cerita mengenai Hang Tuah dan Hang Jebat, diorama tentang bagaima seorang Sultan Malaka menerima para tamu dari luar negeri seperti dari Jawa dan Thailand, juga kita bisa lihat pakaian2 kebesesaran Sultan dan keluarganya, ruang pribadi Sultan dan semacamnya sampai aksesoris, pedang pusaka dan peralatan lainnya yang masih disimpan didalam museum ini.

ada sedikit cerita nih tentang diorama ini, waktu itu gue trip bareng temen gue yang bisa "membaca" sesuatu, menurut dia, bener atau kagak, pada malam hari semua patung yang ada d sini, semua bergerak dan beraktifitas seperti yang diceritakan dalam papan informasi, ya percaya nggak percaya sih, waktu dia masuk ke beberapa ruangan juga dia merasakan sesuatu aura yang kurang menyenangkan, akhirnya kami tidak terlalu ber-lama2 d dalam ruangan ini, segera pindah ke ruangan yang lain.







Keluar dari kawasan ini kita sedikit berjalan kea rah laut, ada semacam wahana permainan, Taming Sari namanya, jadi ini semacam kabin yang berbentuk lingkaran dengan kaca transparan, menampung sejumlah orang, yang berputar secara perlahan, naik ke atas sehingga kita bisa melihat pemandangan seluruh bekas pelabuhan Malaka dan kawasan heritage disana.



Berjalan sebentar ke arah jalan raya, melewati pasar, kita akan menjumpai Perahu besar yang pernah digunakan pada masanya, yang sekarang dijadikan obyek wisata, kita bisa naik d atasnya dan melihat-lihat di dalamnya.







Bila sudah selesai semua, mampir deh ke pasar yang ada di depan perahu, bagi yang mau belanja oleh2 atau souvenir Malaka, bisa mampir ke pasar ini, berbelanja dengan harga yang wajar, atau sekedar menghapus rasa lapar dan haus.

Sebenernya deket2 situ ada kawasan bekpeker, namanya kawasan Jongker Street, kawasan bekpeker banyak penginapan murah dan kumpulan cafe2 gitu, namun karena hari udah menjelang sore, dan emang gak ada niatan bermalam disana, gw skip perjalanan kesana.

Sambil nunggu Bus ke Terminal Bus Malaka


Setelah puas mengelilingi kawasan Heritage ini, gw balik ke terminal bus Malaka, untuk kembali ke KL dengan menggunakan bus yang sudah dipesan sebelumnya sesuai dengan jadwal keberangkatan yang sudah tertulis di tiket.

Sebaiknya segera setelah sampai terminal bus Malaka, kita cari tiket untuk kepulangan dengan memperhatikan jadwal keberangkatan bus, karena, terutama waktu2 yang ramai, terkadang jam keberangkatan favorite, sekitar sore hari suka sudah penuh, daripada kehabisan mending beli di awal, kecuali emang mau bermalam sebentar di Malaka.


Karena kebetulan waktu itu kunjungan gw ke Malaka bertepatan dengan jadwal F1 di Sepang, dan malam minggu, bis gw terjebak kemacetan di dalam tol, efek bubaran F1 dan kendaraan yang bergerak  masuk ke KL secara bersamaan.

Langkawi, Bali-nya Malaysia

Gw mau cerita tentang perjalanan gw ke Langkawi, awalnya nggak ada niat ke sini, jadi ceritanya waku Airasia lagi heboh banget kasih tiket Rp 0.- rupiah ke berbagai destinasi, Alhamdulillah gw dapet tiket murah Rp 0,- PP ke Singapura dan Malaysia, nggak Ro 0,- banget sih, karena ternyata untuk tiket pulang ke tanah air, pihak sana membebankan tax airport, tapi tetep nggak mahal, bayangin aja gue Cuma ke Singapura 3 hari pas weekend Cuma bayar Rp. 250.000,- aja dan itu PP. nah terus tetiba temen gw ngasih ada tiket murah juga ke Malaysia selama 6 hari, Rp 0.- PP, gw bilang beli aja sekalian, mumpung murah tuh, yaudah akhirnya temen gw beliin tiket juga buat gw, gak lama setelah itu kita akhirnya mikir mau kemana ke Malaysia? Secara jelajah KL dan sekitarnya udah beberapa kali, masak selama itu kita ke KL lagi, gak tau kenapa tiba2 terlintas dalam benak gw kenapa nggak ke Langkawi aja, kan katanya itu Bali-nya Malaysia, pengen tau aja apa yang ditawarkan disana sampe mereka berani klaim bahwa pulau itu saingannya Pulang Bali yang ada di Indonesia. Setelah kita survey apa2 aja yang ada disana, jadilah kita tetapkan selama trip itu kita ke Pulau Langkawi, Malaka dan hari terakhir di KL aja sampe pulang.

Ada kejadian hampir aja semua yang udah gw rencanakan berantakan, Setelah semuanya lengkap, menjelang keberangkatan gue, kebetulan itu kan akhir tahun, dan dilalah kantor dimana gue kerja itu merupakan unit organisasi yang sangat strategis, apalagi menjelang akhir tahun, pasti banyak banget laporan atau permintaan ini itu, dilalah saat itu kantor gw kebagian permintaan penjelasan kinerja kantor, dan gw diminta sama bos gw mewakili atasan gw yang saat itu cuti, gw deg2an banget karena jadwalnya tabrakan sama jadwal gue, dan jeleknya gw itu kan suka tetiba aja ngajuin cuti kalo mau kemana-mana, soale suka berisik di kantor, meskipun pada akhirnya ketauan juga, bos gue nanya kenapa nggak bisa ikutan undangan kantor pusat, dan gue jelaskan kalo di tanggal tersebut gue udah mengajukan cuti seminggu yang lalu dan sudah disetujui dan ketika ditanya kenapa cuti, gw terpaksa bilang kalo gw mau trip ke LN, dengan perasaan nggak enak dan takut ditolak permintaan cuti gue, sekalian aja gw lampirkan semua tiket2 yang udah gue beli, bookingan hotel yang udah gw pesen dst dst, akhirnya setelah lama terdiam bos gue menyetujui cuti gw, Alhamdulillah, munkin kalo gw nggak melampirkan tiket2 dan voucher hotel, cuti gue bakal d tolak, emang sih cuti gw kurang tepat karena menjelang akhir tahun yang ribet, temen gw yang tadinya sempet takut karena bakal pergi sendirian akhirnya ikutan lega karena jadi juga kita berangkat.

Tapi gue hanya menceritakan perjalanan gue selama di Langkawi aja yah, karena untuk yang Malaka dan KL akan gue tulis dalam cerita terpisah. Jadi, kira2 begini catatan perjalanan gue :

Hari ke-1, Kamis, 29 Oktober 2009, perjalanan gue dimulai dari Jakarta ke Kuala Lumpur, karena memang tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Langkawi, sesampai di KL, gw menunggu beberapa jam sebelum lanjut penerbangan lanjutan ke Langkawi, Alhamdulillah tiket penerbangan KL ke Langkawi juga dapetnya murah, pulang pergi sekitar Rp. 450.000.- udah rezekinya. Sampe Langkawi sekitar jam 7 sore/maghrib, kami rencana menginap di Langkasuka Beach Resort, dan Alhamdulillah lagi dapet promo hotel bintang 4 Cuma Rp 200.000.- per malam tapi dengan fasilitas yang gak berkurang. Dan ternyata lokasi hotel tersebut tidak terlalu jauh dari airport. Setelah proses check in selesai, kami memutuskan untuk menyewa kendaraan untuk dipakai selama kami berkeliling Langkawi, kebetulan saat d airport tadi ada orang yang menawarkan jasa penyewaan kendaraan seharga 60 RM untuk satu hari, jenis kendaraannya Proton Kancil, kecil mungil, tapi sangat efisien dan efektif untuk kami yang hanya berdua pergi, akhirnya sepakat kami sewa untuk dua hari perjalanan.

Setelah keluar dari imigrasi di Langkawi airport




Foto di pantai belakang hotel Langkasuka


Suasana halaman hotel




Hari ke-2, Jumat, 30 Oktober 2009, pagi hari setelah sarapan, sesuai rencana yang sudah dibuat, perjalanan kami dimulai ke Langkawi Geopark, sebelum sampai Geopark, kami sempat berhenti sebentar di Tanjung Burau, dimana terdapat semacam dermaga tempat yach dan kapal pesiar bersandar, seperti di LN aja ( emang d LN ) sih, setelah sempat berfoto2 sebentar kami lanjut perjalanan ke Geopark, yang menarik dari Geopark ini adalah Langkawi Bridge, Jembatan Gantung yang berada di atas ketinggian, dan untuk menuju kesana kita harus menggunakan Langkawi Cable Car.

Tanjung Burau



Kawasan Langkawi Geopark ini termasuk yang dilindungi dan termasuk dalam kawasan UNESCO heritage, cable car yang kita naiki itu jalannya menanjak dan cenderung tegak karena kemiringannya sekitar 45 derajat, bandingkan dengan Genting Cable Car yang menurut gw landai. Agak ngeri juga sih karena curam banget nanjaknya, tapi kengerian itu hanya sebentar karena kita akan disuguhi dengan pemandangan indah, bisa melihat Pulau Langkawi dari atas ketinggian, melihat pemandangan yang indah dari atas. Sesampai di atas, lalu segera kami ke Jembatan Gantung yang berada diatas ketinggian, lokasi jembatan gantung ini membentang diantara dua bukit dengan ketinggain sekitar 710 Meter d atas permukaan laut. Karena emang bentuknya menggantung dan diatas ketinggian, kita bisa melihat sekeliling dengan lebih luas, kita bisa melihat pulau Sumatera dari kejauhan apabila langit cerah. Jembatan Gantung ini hanya boleh dilintasi apabila cuaca cerah, karena apabila hari hujan, jembatan ditutup untuk menghindari sambaran petir karena kebetulan wilayah tersebut sangat rawan dan sering terdapat kilatan petir yang sangat kuat. Alhamdulillah kami berhasil melintasi Jembatan tersebut dan sempat berfoto2 dan menikmati pemandangan dari atas.

Gerbang Langkawi Geopark




  






Turun dari Jembatan Gantung, kita akan melewati Oriental Village, semacam kawasan wisata dengan nuansa oriental dimana kita bisa membeli belah souvenir dan semacamnya.
Selesai dari Geopark, perjalanan kita lanjut ke Seven Walls Watefalls, air terjun ini tampak sangat menarik ketika kami melihat dari ketinggian dari dalam kereta gantung, karena penasaran, akhirnya kami samperin, namun untuk dapat mencapai air terjun tersebut, kita harus melewari 638 anak tangga naik keatas, karena berada diketinggian sekitar 480 Meter diatas permukaan laut. Setelah proses melelahkan menaiki anak ratusan anak tangga, sampailah kami di lokasi air terjun tersebut, kebetulan tidak ramai sehingga kami nyaman berlama-lama d sana, ada beberapa turis bule yang sengaja bermain air di sungai.

Lokasi Air Terjun Telaga Tujuh dilihat dari Cable Car


On the way to Telaga Tujuh yang nanjak banget dan harus naik ratusan anak tangga





Setelah turun dari lokasi air terjun, perjalanan kami selanjutnya adalah ke Taman Penangkaran Buaya Langkawi, di lokasi ini kita dapat menjumpai penangkaran hewan buaya mulai dari kondisi telur sampai buaya dewasa, dan tidak lupa juga kita diajak melihat pertunjukan pawang buaya memberi makan buaya sambil bermain, pertunjukkan yang bikin deg2an, karena pake adegan kepala pawang dimasukan ke dalam mulut buaya, seru …..










Perjalanan kami selanjutnya adalah ke Langkawi Craft Compleks, dan ke Pantai Pasir Hitam, kami hanya melihat2 sebentar di lokasi tersebut, karena nampaknya pemdangan yang biasa saja.


Sebelumnya kami sempet mampir ke sebuah pasar yang menjajakan aneka jualan kaki lima.


  


Selanjutnya kami ke Pantai Tanjung Rhu, lokasi pantai ini sebenere bagus, nyaman, pantai pasir putih yang halus, tempat sunset juga, tapi sepiiiiiiiiii dan ombak lautnya nggak ada samasekali, berasa kek di telaga atau di danau, akhirnya kami menghabiskan sore itu disini, karena kami belum mengenal jalan sama sekali, segera sebelum gelap kami lanjutkan perjalanan menuju kawasan kota Langkawi.





Langkawi terkenal dengan Pulau Duty Free-nya, jadi barang2 d sini bagus dan murah, tapi ya hanya untuk di gunakan d sana, gw paling hanya membeli beberapa makanan dan souvenir yang gak besar dan nggak ribet. Sempet nyasar juga di dalam kota, karena jalan2 yang ada tidak sesuai dengan yang ada d peta, ada beberapa jalan yang ternyata satu arah, jadi ketika kami salah jalan, kami mulai kebingungan, apalagi ini baru pertama kali kesini dan gelap juga, namun Alhamdulillah setelah beberapa lama kebingungan, kami berhasil sampai di hotel dan beristirahat.

Hari ke-3, Sabtu, 31 Oktober 2009, hari ini kami check out, sebelumnya kami sarapan, setelah urusan chek out selesai, kami menitipkan koper dan tas d lobby hotel, lalu kami lanjut perjalanan ke Dataran Lang, dataran ini merupakan dataran yang menjadi pusat kota Langkawi dengan Burung Elang sebagai mascot atau icon-nya, disekelilingnya terdapat taman yang tertata dengan rapi, terdapat pelabuhan ferry dan speed yang akan membawa kita jelajah ke pulau yang lain, kami tidak merencakana perjalanan jelajah pulau dalam trip ini, karena menurut kami, pulau2 di Indonesia jauh lebih menarik dan lebih indah. Setelah ber-foto2 sebentar  kami segera lanjut ke perjalanan berikutnya.






Kami sampai di kawasan yang katanya Bali-nya Malaysia, dengan pantai yang mereka tawarkan Pantai Chenang. Pantainya bersih, hamparan pasir putihnya juga oke, tapi situasinya sepi, dan nggak ada ombak sama sekali, kita jadi seperti berada di tepi danau, karena ya itu, sepi dan seperti tidak ada di tepi laut, kurang menarik buat gue sih, tapi oke lah buat sekedar santai2, jalan2 d sekitar situ pun di buat seperti ada aktifitas yang ramai, nggak tau yah apakah kalau malam hari ramai atau nggak.



Deket2 situ juga ada Taman Padi, Langkawi Rice Farm, ada Langkawi Underwater World, kek semacam seaworld gitu, tapi gw nggak masuk, hanya pose aja d depan gerbangnya.





Dari lokasi pantai, kita masuk lebih dalam ke pedalaman pulau, kita akan menemukan Kota Mahsuri, kota ini penuh dengan legenda rakyat. Jadi ada semacam cerita ada seorang perempuan bernama Mahsuri, entah bagaimana, gue lupa ceritanya, Mahsuri ini dibunuh dengan kejam karena telah d fitnah dan irihati. Sebelum Mahsuri dihukum mati, Mahsuri bersumpah bahwa Langkawi tidak akan aman dan makmur selama tujuh turunan. Di lokasi ini kita bisa menjumpai Bangunan2 pemimpin pada masa itu, serta barang2 yang berkaitan dengan Mahsuri yang sangat melegenda di Langkawi.




Selesai semua urusan, kami segera kembali ke Hotel, karena hari juga sudah sore, tapi sebelumnya kami melewati beberapa daerah yang belum sempat di datangi, segera setelah ambil koper dan tas,kami bertemu dengan pemilik kendaran sewa di airport utk serah terima kendaraan dan uang, dan tidak lama kemudian terbanglah kami kembali ke KL.

Pose setelah Check Out


Sebelum boarding back to KL



Sebenere banyak kok lokasi wisata yang bisa d kunjungi di Langkawi, ada Bird Park, ada Museum, ada wisata Gua dsb dsb, tapi kami akhirnya harus membuat skala prioritas mana yang sebaiknya d kunjungi.

Eksplore Pulau Langkawi itu mudah, kita bisa menyewa kendaraan spt yg gue lakukan, jangan lupa membawa peta Langkawi yang ada di airport atau hotel, dengan mengandalkan jalan yang ada d peta, lokasi2 penting juga ditampilkan di peta sehingga kita dengan mudah merujuk pada tanda2 d peta tempat2 yang akan kita kunjungi, pulaunya nggak terlalu besar, tapi menurut gw kalau mau eksplorasi munkin butuh waktu tiga atau empat hari utk bisa jelajah semua di Pulau Langkawi.

Lokasi Pulau Langkawi berada di Selat Malaka, masuk dalam wilayah Negara Bagian Kedah dan sangat dekat sekali dengan Thailand, jadi saat d sana kita akan banyak menemukan Melayu Patani dari Thailand dan masakan Thailand yang halal, macam Tom Yum dan sebagainya.

Berkendara d sana juga jangan khawatir, karena wajah kita wajah melayu, polisi d sana juga tidak akan curiga dengan kita, karena kita pun memang tidak berniat berbuat kejahatan. Dan satu pengalaman yang sangat berharga, jalan2 di pulau Langkawi sangat jelas, bersih, teratur dan bagus plus sepiiiiiii, jadi selama d sana gw manfaatkan belajar berkendara dengan menggunakan alas kaki, hal yang selama ini belum pernah gw lakukan, sejak saat itu sampe sekarang gw malah lebih nyaman berkendara dengan menggunakan alas kaki daripada tidak menggunakan.

Si Kancil, yang nganterin gue keliling Pulau Langkawi



Itu aja pengalaman jalan2 gw di Langkawi.

Weekend ke Pasar Lok Baintan di Banjarmasin

Jantung saya berdebar dengan keras tatkala melihat penujuk waktu di tangan sudah menunjukan pukul 17:20 dan saya baru sampai di parkiran...