Senin, 28 November 2016

Seneng Kelayapan: Ambon Yang Manis

Seneng Kelayapan: Ambon Yang Manis: Perjalanan yang sangat singkat yang bisa saya katakan untuk dapat menjelajahi keindahan Pulau Ambon. Saat itu, di bulan September 2...

Ambon Yang Manis



Perjalanan yang sangat singkat yang bisa saya katakan untuk dapat menjelajahi keindahan Pulau Ambon.

Saat itu, di bulan September 2015, ada kesempatan libur harpitnas Idul Adha, dengan menambah satu hari izin tidak masuk kerja, dapat 4 hari liburan. Awalnya sempat ragu apakah bisa jalan sendiri ke Ambon dengan informasi yang dimiliki seadanya. Sempat mencari-cari info tentang bagaimana melakukan perjalanan di sana, akhirnya setelah mendapat rekomendasi teman traveler, diberilah kontak kenalannya yang sering menjadi pemandu traveler yang hendak menjelajah Kota Ambon, setelah bernegosiasi tentang waktu dan sebagainya, akhirnya sepakat mau menemani saya berkeliling Kota Ambon dengan waktu yang singkat tersebut.


Jumlah waktu 4 hari tersebut benar-benar sangat sedikit sekali, karena saat saya melakukan perjalanan, saya bertugas di Kota Tobelo, Halmahera Utara, dimana tidak ada penerbangan langsung ke Kota Ambon dari sana, pilihannya adalah penerbangan via Manado atau Ternate yang semua berjarak ratusan kilometer dari Tobelo.

Karena pertimbangan waktu dan mengejar moment, akhirnya saya memutuskan perjalanan via Ternate, pilihan terbang dari Ternate ada dua pilihan, penerbangan pagi jam 10 dengan Express Air atau jam 2 siang dengan Garuda atau Sriwijaya yang bergantian jadwal terbangnya setiap hari. Sementara penerbangan balik dari Ambon ke Ternate juga dengan jam yang kurang lebih sama dan operator penerbangan yang sama juga.

Jadi bisa diperhitungkan sendiri donk berapa lama waktu efektif yang saya punya untuk menjelajah Kota Ambon dan sekitarnya yang cukup luas.

Singkat cerita ....

Rabu sore sesaat jam pulang kantor berdentang, segera saya ikut rombongan teman2 yang akan mudik ke Ternate, dengan menggunakan oto sejenis avanza atau innova, kami menempuh perjalanan selama hampir kurang lebih 4 jam menuju Sofifi, setelah itu lanjut perjalanan dengan menggunakan speed boat sekitar 40 menit untuk menyeberang ke Pelabuhan Kota Baru di Ternate, tiba di Ternate sekitar jam 10 malam dan saat itu Malam Takbiran Idul Adha.

Kami berpisah di pelabuhan, selanjutnya saya menuju penginapan untuk menginap satu malam sampai besok pagi.

Saat dalam perjalanan di speed boat menuju Ternate, tiba2 ada sms masuk ke handphone saya dari Express Air yang memberitahukan bahwa penerbangan kami besok pagi dibatalkan karena alasan teknis, pilihannya penerbangan saya akan dialihkan besok lusa atau dikembalikan uang tiket penuh, sangat terkejut sekali karena pemberitahuan tersebut benar2 mendadak, sementara saya tidak mempunyai rencana cadangan.

Tidak lama setelah selesai urusan check in hotel, saya mulai mencari tiket penerbangan yang lain pada hari itu dan Alhamdulillah saya masih bisa memesan tiket penerbangan ke Ambon dengan Garuda untuk penerbangan jam 2 siang. Pembatalan sepihak dari Express Air sangat mengganggu jadwal perjalanan yang sudah kami susun bersama, untungnya temen saya memahami kondisi tersebut.

Setelah selesai menuaikan Ibadah Shalat Ied di mesjid dekat penginapan, saya ke kantor perwakilan Express Air yang ada di Ternate untuk mengurus prosedur pengembalian tiket saya yang dibatalkan dan di beritahukan akan segera di transfer ke rekening saya setelah semuanya sudah selesai di proses. Ketika saya tanyakan kenapa pembatalan sangat mendadak sekali, petugas hanya bisa menjawab secara diplomatis bahwa ada masalah teknis yang membuat pesawat tidak bisa diterbangkan. Saat itu juga saya menanyakan kepastian apakah tiket penerbangan balik saya dari Ambon ke Ternate akan bernasib sama, petugas menjawab bahwa tiket penerbangan balik tidak ada masalah. Baiklah kalau begitu.

Singkat cerita, Kamis siang penerbangan ke Ambon dengan Garuda berjalan mulus, jam 3:30 sore pesawat mendarat di Patimura Aiport, Ambon, teman saya sudah menunggu di pintu kedatangan.


Segera setelah semua urusan beres, dengan menggunakan sepeda motor, kami langsung menuju lokasi wisata pertama di Pantai Natsepa sebagai persinggahan kami yang pertama, pantai yang mempunyai garis pantai yang panjang, pasir pantai yang putih bersih dan landai sehingga sangat nyaman meski hanya sekedar membasahi kaki dengan air lautnya yang jernih. Di depan pantai terdapat jejeran warung penjual rujak natsepa yang terkenal. Kami tidak sempat berlama-lama di pantai ini mengingat waktu yang sudah semakin sore dan perjalanan menuju kota juga masih lumayan jauh.


Malam itu saya lebih banyak beristirahat di hotel karena kebetulan diluar sedang turun hujan.
Karena kami berencana mengelilingi Pulau Ambon yang luas menggunakan motor biar lebih simple, sementara pilihan tempat wisata juga banyak, akhirnya disepakati hanya beberapa tempat saja yang dimunkinkan untuk dijelajahi dalam waktu satu hari penuh.

Besok paginya, Jumat, kami sudah siap berkeliling kembali, lokasi pertama di hari itu adalah Pantai Liang, Pantai dengan garis pantai yang panjang, pasir pantai yg putih, air laut yg jernih dan jangkauan mata memandang yang sangat luas, sangat memikat, di kawasan pantai ini juga sangat nyaman untuk sekedar berlibur menghabiskan waktu, banyak tenda2 penjual minuman air kelapa segar untuk melepas dahaga. Suasanyanya pun terasa teduh karena banyaknya pohon rindang yang tumbuh.




Dari Pantai Liang, kami beranjak menuju lokasi berikutnya ke Benteng Fort Amsterdam yang terletak di Desa Hila, Leihitu, Ambon Tengah, benteng peninggalan Belanda pada saat menjajah Ambon yang saat itu sangat kaya dengan hasil rempah-rempah yang membuat penjajah sangat ingin memiliki wilayah Maluku, yang masih terawat dengan baik.






Tidak jauh dari Benteng, juga terdapat Mesjid Wapauwe, di Desa Kaitetu, Leihitu, Ambon Tengah, Mesjid Tua yang penuh dengan sejarah, diceritakan bahwa Mesjid ini dibangun oleh Perdana Jamillu, orang kaya Alahaluhu pada tahun 1414 di Wawane, lalu pada tahun 1614 dipinah oleh Imam Rijalli sejauh 6 Km ke arah Tehala. Pada tahun 1664 Masjid tersebut turun ke Negeri Atetu lengkap dengan semua perlengkapan ibadahnya, jadi katanya mesjid tersebut secara utuh dipindahkan dengan cara diterbangkan dari atas gunung ke tempat yang sekarang.





Selepas dari Masjid Wapauwe, saya diajak melihat lokasi persembunyian belut raksasa, orang sana menyebutnya Morea, ada beberapa tempat dimana Morea bersembunyi, namanya juga belut, pasti tidak mudah untuk bisa ditangkap bahkan untuk sekedar dipegang dalam waktu yang lamapun akan terasa sulit.


Yang menarik adalah ukuran belut ini memang mempunyai ukuran yang jauh lebih besar dari ukuran belut pada umumnya, Untuk bisa menangkap/memegang morea tersebut harus dengan cara dipancing dengan sesuatu yang berbau amis, entah itu telur atau potongan ikan segar yang menebar aroma bau amis sehingga memicu morea keluar dari persembunyiannya.







Belut-belut ini sengaja dipelihara dan dibiarkan hidup di habitatnya sekarang sejak dulu, mereka sangat menjaga keberlangsungan hidup belut tersebut, seperti ada larangan menangkap belut-belut tersebut untuk keperluan pribadi atau untuk dimakan, sehingga ketika belu-belut tersebut mati, konon bangkai-nya tidak dimakan oleh penduduk namun dikuburkan. Saya berhasil memegang morea tersebut di Desa Larike yang merupakan Desa Wisata menangkap Morea.


Perjalanan kami selanjutnya menuju gugusan Pulau Nusatelu di daerah Asilulu, dinamakan demikian karena di kawasan tersebut terdapat tiga pulau kecil yang berdekatan yang menjadi lokasi wisata, Pulau Lain, Hatala dan Nustelu, saya sempatkan mengunjungi Pulau Hatala yang ada di tengah yang mempunyai pantai pasir putih yang bersih dengan gugusan batu pantai yang oke. Untuk menyeberang ke pulau tersebut menggunakan semacam perahu kecil atau katinting, namun perahu ini tidak mempunyai penyeimbang di kiri dan kanannya, bisa kebayang tantangan seru-nya naik perahu tersebut selama sekitar 15-20 menit penyeberangan. Kunjungan ke Pulau Tiga ini sebagai pengganti gagalnya perjalanan mengunjungi Pulau Pombo.








Hari sudah beranjak sore, segera kami berkemas untuk kembali ke kota, sepanjang perjalanan kami sempatkan mengambil foto pemandangan Batu Layar yang menarik, dan yang sangat memanjakan mata adalah garis pantai Teluk Ambon yang sangat indah sekali, apalagi saat itu hari sudah menjelang sore, matahari semakin “jatuh” ke bawah yang menambah indah pemandangan sore.




Saat di kota saya hanya menyempatkan ke Patung Martha Tiahahu yang menghadap ke Teluk Ambon, menyempatkan diri shalat di Masjid Al Fatah, selebihnya hanya keliling kota Ambon saja untuk makan n minum.





Malam harinya, disaat sedang makan malam, tiba2 ada sms masuk, kembali dari Express Air yang mengabarkan hal yang sama ketika saya hendak menyeberang ke Ternate, sungguh sangat menyebalkan semua pemberitahuan dilakukan secara mendadak, saya merasa sangat dibohongi petugas di kantor perwakilan saat hendak proses refund tiket yang menyatakan bahwa tiket balik saya tidak ada masalah.

Setelah berdebat komplain panjang saya tetap ngotot meminta pertanggung jawaban pihak Express Air untuk menyediakan tiket balik saya besok hari ke Ternate, saya tidak peduli berapa harganya dan apa maskapai penerbangannya karena saya merasa dikecewakan dengan service yang diberikan, ini adalah pengalaman pertama saya menggunakan Express Air dan sepertinya tidak akan pernah saya gunakan lagi. Dan akhirnya pihak Express Air menyanggupi permintaan saya untuk diterbangkan besok hari menggunakan Garuda jam 12 siang.

Sabtu Pagi sebelum terbang balik ke Ternate, saya disempatkan ke Lapangan Merdeka di tengah Kota Ambon dan berfoto di Patung Patimura yang berdiri tegak di tengahnya.





Demikian perjalanan singkat saya keliling Pulau Ambon, masih banyak lokasi wisata lain yang belum sempat di explore, berharap saya bisa kembali ke Pulau Ambon untuk bisa menjelajah lebih jauh lagi ke tempat lain yang lebih indah 24-26-09-2015.

Borobudur marathon 2019 - Full Marathon

Ini adalah pengalaman lari Full Marathon kedua saya setelah Jakarta Marathon kemarin. Seperti yang sudah saya jelaskan di tulisan sebelumn...